Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Dwiki Setiyawan

Bagi saya, menulis disamping sebuah passion juga panggilan jiwa. Tanpa menulis (juga membaca) hidup saya selengkapnya

Hukum Mencium Pasangan Saat Berpuasa

OPINI | 23 August 2009 | 02:06 Dibaca: 5133   Komentar: 4   0

Islam sangat menjaga keutuhan dan keabadian cinta dan kasih sayang antara suami dan istri. Suami dan istri yang saling menyayangi cenderung mencium pasangannya dalam setiap kesempatan. Seperti, saat pasangannya akan berangkat kerja, pulang kerja, bangun tidur, dan sebagainya. Pertanyaannya sekarang, bagaimana hukum mencium pasangan ketika berpuasa?

Aisyah pernah ditanya tentang masalah ini. Ia adalah istri yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW. Ia menjawab, “Ketika berpuasa, Rasulullah SAW pernah mencium salah satu istrinya.” Kemudian Aisyah tersenyum. Demikianlah penuturan Muslim dalam Shahih-nya.

Kalangan ulama menerjemahkan senyuman Aisyah sebagai rasa malu karena dialah istri yang dicium Nabi SAW. Terpaksa Aisyah menjawab masalah tersebut guna menyampaikan pandangan Islam dalam masalah mencium pasangan ketika berpuasa.

Namun, Aisyah menyebutkan hadis lain perihal mencium pasangan ketika berpuasa. Aisyah berkata, “Rasulullah SAW pernah menciumku ketika berpuasa. Siapakah di antara kalian yang dapat menguasai nafsunya sebagaimana Rsulullah?”

Dari sini sebagian ulama menyimpulkan bahwa ketika berpuasa, setiap muslim sebaiknya tidak mencium pasangannya dan tidak meyakini bahwa dirinya sanggup melakukan itu tanpa diiringi syahwat.

Syafi’i ra berpendapat bahwa mencium pasangan ketika berpuasa tidak haram bagi yang mampu mengendalikan nafsunya. Tetapi, Syafi’i memberi catatan, “Lebih baik lagi jika tidak melakukannya.”

Ibnu Abbas, Abu Hanifah, dan Auza’i mengatakan bahwa bagi suami yang masih muda, mencium istrinya ketika berpuasa adalah makruh. Namun, bagi yang sudah di atas usia lima puluhan tidaklah demikian, karena dianggap mampu mengontrol gejolak nafsunya.

***

Untuk memperkaya khazanah pengetahuan mengenai pokok bahasan di atas, saya akan mengutip beberapa tanya-jawab dalam buku Panduan Berpuasa bersama Quraish Shihab. Petikannya sebagai berikut:

Teman saya seorang laki-laki warga Eropa. Waktu bertemu setelah sekian lama tak berjumpa, tiba-tiba ia mencium saya, padahal saya sedang berpuasa. Batalkah ibadah puasa saya? Ciuman tidak membatalkan puasa, tapi anda berdosa, karena dia bukan suami anda.

Batalkah puasa saya jika melihat aurat istri sendiri? Tidak batal melihat aurat istri sendiri selama tidak terangsang (keluar sperma).

Saya terbiasa mencium istri sebelum berangkat ke kantor. Bolehkah hal itu saya lakukan selama berpuasa, mengingat itu saya lakukan tanpa syahwat, tetapi sekedar menunjukkan kasih sayang? “Rasulullah SAW mencium istrinya sewaktu berpuasa,” demikian dituturkan Aisyah, istri Nabi SAW. Ini karena beliau dapat mengendalikan diri. Tetapi, bila anda pengantin baru, atau tak dapat mengendalikan diri, maka sebaiknya mencium istri dihindari pada siang hari. Namun jika terkendali, maka niatkanlah mengikuti Rasulullah, agar ciuman anda memperoleh nilai tambah.

Jika mimpi hubungan suami-istri di siang hari apakah membatalkan puasa, apa dendanya, dan bagaimana membayarnya? Allah tidak menjatuhkan sanksi menyangkut sesuatu yang berada di luar kemampuan seseorang, seperti mimpi berhubungan seks walau keluar sperma atau bukan dengan istrinya. Puasa yang bersangkutan tetap tidak batal.

Apakah boleh suami istri yang musafir bersetubuh di siang hari? Apakah larangan karena puasanya atau bulannya? Makan, minum dan bersetubuh terlarang bagi yang berpuasa. Musafir yang memenuhi syarat boleh tidak berpuasa, sekaligus tidak terlarang baginya ketiga hal tersebut. Karena larangannya itu bukan karena bulannya. Malam bulan puasa pun, termasuk bulan Ramadhan, tetap boleh makan, minum dan hubungan seks. Kendati demikian Ramadhan adalah bulan suci, serta bulan rohani, penghormatan akan kesuciannya mengundang saya berkata: Jangan lakukan! Apalagi izin tidak berpuasa bagi musafir antara lain karena masyaqqah, keletihan dan kesulitan akibat perjalanan. Apakah dia tidak letih sehingga akan bersebadan.

*****

Sumber Foto: klik sini

Referensi:

Ensiklopedi Tematis Al-Qur’an, Jilid 1, Editor Dr Ahsin Sakho Muhammad… [et.al] Jakarta: PT Kharisma Ilmu, 2005

Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab, Penyunting Ikhwanul Kiram dan Yayat Supriyatna, Jakarta: Penerbit Republika, Cetakan 1, November 2000

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 4 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 6 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 7 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: