Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Dwiki Setiyawan

#PPI | #HMI | #Jokower | #Solo #Jakarta | Penyuka #Sastra & #Politik Indonesia| Penggiat selengkapnya

Hukum Mencium Pasangan Saat Berpuasa

OPINI | 23 August 2009 | 02:06 Dibaca: 5418   Komentar: 4   0

Islam sangat menjaga keutuhan dan keabadian cinta dan kasih sayang antara suami dan istri. Suami dan istri yang saling menyayangi cenderung mencium pasangannya dalam setiap kesempatan. Seperti, saat pasangannya akan berangkat kerja, pulang kerja, bangun tidur, dan sebagainya. Pertanyaannya sekarang, bagaimana hukum mencium pasangan ketika berpuasa?

Aisyah pernah ditanya tentang masalah ini. Ia adalah istri yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW. Ia menjawab, “Ketika berpuasa, Rasulullah SAW pernah mencium salah satu istrinya.” Kemudian Aisyah tersenyum. Demikianlah penuturan Muslim dalam Shahih-nya.

Kalangan ulama menerjemahkan senyuman Aisyah sebagai rasa malu karena dialah istri yang dicium Nabi SAW. Terpaksa Aisyah menjawab masalah tersebut guna menyampaikan pandangan Islam dalam masalah mencium pasangan ketika berpuasa.

Namun, Aisyah menyebutkan hadis lain perihal mencium pasangan ketika berpuasa. Aisyah berkata, “Rasulullah SAW pernah menciumku ketika berpuasa. Siapakah di antara kalian yang dapat menguasai nafsunya sebagaimana Rsulullah?”

Dari sini sebagian ulama menyimpulkan bahwa ketika berpuasa, setiap muslim sebaiknya tidak mencium pasangannya dan tidak meyakini bahwa dirinya sanggup melakukan itu tanpa diiringi syahwat.

Syafi’i ra berpendapat bahwa mencium pasangan ketika berpuasa tidak haram bagi yang mampu mengendalikan nafsunya. Tetapi, Syafi’i memberi catatan, “Lebih baik lagi jika tidak melakukannya.”

Ibnu Abbas, Abu Hanifah, dan Auza’i mengatakan bahwa bagi suami yang masih muda, mencium istrinya ketika berpuasa adalah makruh. Namun, bagi yang sudah di atas usia lima puluhan tidaklah demikian, karena dianggap mampu mengontrol gejolak nafsunya.

***

Untuk memperkaya khazanah pengetahuan mengenai pokok bahasan di atas, saya akan mengutip beberapa tanya-jawab dalam buku Panduan Berpuasa bersama Quraish Shihab. Petikannya sebagai berikut:

Teman saya seorang laki-laki warga Eropa. Waktu bertemu setelah sekian lama tak berjumpa, tiba-tiba ia mencium saya, padahal saya sedang berpuasa. Batalkah ibadah puasa saya? Ciuman tidak membatalkan puasa, tapi anda berdosa, karena dia bukan suami anda.

Batalkah puasa saya jika melihat aurat istri sendiri? Tidak batal melihat aurat istri sendiri selama tidak terangsang (keluar sperma).

Saya terbiasa mencium istri sebelum berangkat ke kantor. Bolehkah hal itu saya lakukan selama berpuasa, mengingat itu saya lakukan tanpa syahwat, tetapi sekedar menunjukkan kasih sayang? “Rasulullah SAW mencium istrinya sewaktu berpuasa,” demikian dituturkan Aisyah, istri Nabi SAW. Ini karena beliau dapat mengendalikan diri. Tetapi, bila anda pengantin baru, atau tak dapat mengendalikan diri, maka sebaiknya mencium istri dihindari pada siang hari. Namun jika terkendali, maka niatkanlah mengikuti Rasulullah, agar ciuman anda memperoleh nilai tambah.

Jika mimpi hubungan suami-istri di siang hari apakah membatalkan puasa, apa dendanya, dan bagaimana membayarnya? Allah tidak menjatuhkan sanksi menyangkut sesuatu yang berada di luar kemampuan seseorang, seperti mimpi berhubungan seks walau keluar sperma atau bukan dengan istrinya. Puasa yang bersangkutan tetap tidak batal.

Apakah boleh suami istri yang musafir bersetubuh di siang hari? Apakah larangan karena puasanya atau bulannya? Makan, minum dan bersetubuh terlarang bagi yang berpuasa. Musafir yang memenuhi syarat boleh tidak berpuasa, sekaligus tidak terlarang baginya ketiga hal tersebut. Karena larangannya itu bukan karena bulannya. Malam bulan puasa pun, termasuk bulan Ramadhan, tetap boleh makan, minum dan hubungan seks. Kendati demikian Ramadhan adalah bulan suci, serta bulan rohani, penghormatan akan kesuciannya mengundang saya berkata: Jangan lakukan! Apalagi izin tidak berpuasa bagi musafir antara lain karena masyaqqah, keletihan dan kesulitan akibat perjalanan. Apakah dia tidak letih sehingga akan bersebadan.

*****

Sumber Foto: klik sini

Referensi:

Ensiklopedi Tematis Al-Qur’an, Jilid 1, Editor Dr Ahsin Sakho Muhammad… [et.al] Jakarta: PT Kharisma Ilmu, 2005

Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab, Penyunting Ikhwanul Kiram dan Yayat Supriyatna, Jakarta: Penerbit Republika, Cetakan 1, November 2000

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengintip Penambangan Batu Mulia Indocrase …

Syukri Muhammad Syu... | | 01 February 2015 | 11:47

Bedanya Menyisihkan dengan Menyisakan (Uang) …

Rokhmah Nurhayati S... | | 01 February 2015 | 09:26

Telisik Dirilah saat Anak Membangkang! …

Muhammad Armand | | 01 February 2015 | 14:14

Mengejar Jodoh Ala Anak Muda Saudi …

Mariam Umm | | 31 January 2015 | 19:56

Catatan Kecil untuk Kinan …

Swazta Priemahardik... | | 01 February 2015 | 02:38


TRENDING ARTICLES

Mantan Penyidik KPK Akan Ungkap Borok …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Jokowi Lompat Pagar “Rumah Gelap Mega” …

Imam Kodri | 8 jam lalu

CNN: Siapa Jokowi Sesungguhnya? …

Jimmy Haryanto | 15 jam lalu

Mitologi Jawa dalam Kepemimpinan Jokowi …

Musri Nauli | 20 jam lalu

Sebab Senyapnya KMP di Kegaduhan …

Pebriano Bagindo | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: