Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Sofwan.kalipaksi

pernah kuliah di jurusan planologi, pernah jadi wartawan, tapi sekarang bekerja sebagai copywriter. kini mengelola selengkapnya

Misteri 1 Ramadan dan 1 Syawal

OPINI | 23 August 2009 | 14:31 Dibaca: 1318   Komentar: 3   0

2 Ramadan 1430 H.

Artikel ini saya tulis pada hari ke-2 Ramadan 1430 H.  Bagi seorang teman yang sudah memulai puasa Ramadan satu hari lebih awal, artikel ini semestinya tertanggal 3 Ramadan 1430 H, bukan 2 Ramadan 1430 H.  Begitulah, setiap tahun Ramadan selalu diwarnai dengan fenomena perbedaan awal Ramadan.  Fenomena itu kemudian berlanjut dengan perdebatan akhir Ramadan, yang menjadi penentu perayaan Idul Fithri (baca: Hari Raya Lebaran).

Mungkin ini perkara sepele tapi mengandung pesan terselubung yang tidak sepele. Perbedaan itu menjadi semacam cermin persatuan umat yang tidak utuh. Juga menjadi cermin ‘ketidaktuntasan’ upaya para ilmuwan falaq untuk menjawab persoalan klasik yang hampir muncul setiap tahun itu.

Jika memang persoalannya adalah sistem  matematika penanggalan lantas mengapa penanggalan sistem masehi (matahari) tidak pernah memicu keributan. Belum pernah saya dengar ada perdebatan tentang tanggal 1 Januari yang menjadi awal Tahun Baru, misalnya.

Pertanyaan introspektif yang kemudian juga ingin saya kemukakan dalam jurnal ini adalah mengapa tak terjadi perdebatan yang serupa pada setiap awal tahun baru Hijriah pada setiap 1 Muharram? Bukankah penetapan tanggal 1 Muharram akan menjadi titik krusial dalam penetapan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal? Logikanya, jika tanggal 1 Muharram bergeser satu hari maka 1 Ramadan dan 1 Syawal pun akan bergeser satu hari. Begitu bukan?

Logika lain, mungkinkah sebuah Ramadan memiliki jumlah hari yang berbeda-beda: satu pihak menyebut 29 hari, pihak lain menyebut 30 hari. Memang, ada sebuah hadits Rasul yang mengakomodir perbedaan itu:

“Berpuasalah karena melihatnya, dan berhari rayalah karenanya. Dan kalau ia tersamar dari pandanganmu maka genapkanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari [1909]).

***

hilal alias bulan sabit pertama

Saya pernah membaca sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa ada beberapa alasan yang menyebabkan program penanggalan hijriah tidak bisa 100 persen akurat seperti halnya program penanggalan masehi.

Pertama,  kalender hijriah dihitung berdasarkan rotasi bulan yang berlawanan dengan rotasi matahari. Pada sistem kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 (tengah malam) waktu setempat. Namun pada sistem kalender Hijriyah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Berbeda dengan siklus sinodik matahari yang konstan,  siklus sinodik bulan relatif bervariasi.

Kedua,  jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari akan terjadi  jika bulan baru (new moon) berada di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion).

Sementara itu,  bulan yang berusia 29 hari akan terjadi jika bulan baru berada di titik perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Karena itu, bisa disimpulkan bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 - 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari). Artinya, Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal (penampakan bulan sabit pertama).

***

Jujur, sebagai muslim saya kurang puas dengan alasan tersebut di atas. Pertanyaan yang paling mendasar adalah jika urusan yang krusial seperti awal Ramadan, awal Idul Fithri, dan hari Idul Adha didasarkan pada sistem penanggalan yang sementara ini “divonis” memiliki ritme rotasi yang tidak tetap maka saya menyimpulkan bahwa pasti ada “teka-teki besar” yang belum mampu dijawab oleh kalangan astronom muslim.

Pertanyaan nakal yang  juga tiba-tiba melompat dari kepala saya adalah: Apa iya Tuhan menciptakan sebuah sunnah (sistem penghitungan) kalender hijriah yang justru sering membuat bingung umat Islam akibat fenomena-fenomena perbedaan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal itu? Rasanya tidak, sepertinya ada belum sempurna dengan metodologi ilmiah yang selama ini digunakan sebagai kaidah astro-matematika untuk menyusun kalender hijriah tersebut.

Jujur (lagi), karena saya bukan astronom dan juga bukan ahli falaq maka melalui jurnal ini saya hanya bisa berharap: tuan-tuan, tolong hadirkan kepada kami sebuah hitungan astro-matematis yang bisa menafikan perbedaan 1 Ramadan dan 1 Syawal itu.

Akhirnya, jika di antara Anda yang memiliki kompetensi dalam bidang ini, mohon penjelasan yang simpel dan memuaskan. Terima Kasih. Z.

Tulisan ini juga terposting di: kalipaksi.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 4 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 6 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 7 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: