
Seseorang pria yang bukan termasuk golongannya rakyat 'Jelita', hanya seorang rakyat 'Jelata' saja, yang suka iseng, yang suka mengisi waktu nganggurnya untuk menghibur dirinya dengan membaca dan menuliskan uneg-unegnya yang dipostingkan di blog komunitas : Kompasiana, Politikana, serta di milis-milis yahoogroups.com : Forum Pembaca Kompas, Mediacare, Media Umat, Ekonomi Nasional, PPI-India, Indonesia Rising, Nongkrong Bareng Bareng, Wartawan Indonesia, Zamanku, Eramuslim, Sabili, Mencintai Islam, Syiar Islam, dengan nickname rifkyprdn@yahoo.com
Dibaca: 1432
Komentar: 11
Nihil
Rupanya yang ditunggu-tunggu oleh mereka adalah Obama yang rencananya akan mengunjungi Indonesia, nanti pada bulan November tahun 2009.
Mereka ngincer Obama tentu karena Amerika-nya. Mengapa kok Obama ? apa mereka nggak mengidolakan Obama ? apakah kesan yang ditampilkan Obama dengan kedekatannya dengan dunia Islam tidak cukup meluluhkan hati mereka ?
Tentulah itu belum cukup, karena Obama baru menunjukkan dalam kata-katanya dan kesannya saja, belum terwujud dalam langkah yang nyata.
Dan yang terpenting, itu karena yang ada di benak mereka, Obama adalah Presidennya Amerika Serikat.
Bagi mereka, Amerika Serikat adalah representasi dari Dajjal. Makhluk bermata satu, yang fitnahnya amat ditakuti karena sangat menyesatkan. Fitnahnya diketahui sangat menyesatkan, namun sulit untuk menghindar dari rayuan fitnahan, sebab sangat menghipnotis dan memukau.
Selain karena itu, Amerika dianggap merusak dunia Islam, dengan tingkah polahnya. Sekaligus juga sikapnya yang membantu musuh-musuh Islam.
Begitulah beberapa kalangan menjelaskan mengapa mereka mempersiapkan pos komando garis depannya diletakkan di daerah Jati Asih, Bekasi.
Tujuannya adalah supaya dekat dengan Lanud Halim Perdana Kusuma, bukan supaya dekat dengan Cikeas. Jika Cikeas, maka mungkin lebih dekat dan lebih strategis jika mempersiapkan pos komando garis depannya diletakkan di daerah Perumahan Cibubur.
Pertimbangan strategis lainnya, perumahan di daerah Jati Asih itu dengan bergeser sedikit ke pinggir jalan raya Pondok Gede, memarkir mobil di pinggir jalan. Mengintip ke udara lewat jendela mobilnya, wuish…melesat missil dari rudal panggul langsung kea rah pesawat US Air Force One, tunggangannya Obama, yang hendak mendarat di Halim Perdana Kusuma.
Jika operasi ini gagal, mobil lain yang masih berada di pos perumahan Jati asih hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam untuk sampai di Cawang. Menghadang iring-iringan Presiden USA yang dari Halim perdana Kusuma mau menuju Istana Bogor atau menuju Istana Merdeka Jakarta.
Jika gagal lagi, masih ada planning cadangannya. Konon katanya, mereka telah menyiapkan dua penembak jitu. Mohammad Syahrir dan Ario Sudarso untuk membidik kulit hitam pertama yang mampu meraih kedudukan sebagai Presiden USA.
Seberapa hebat snipper mereka ?. Punya kemampuan yang memadai ?. Terlatihkah ?. Jangan meremehkan, karena konon katanya, kedua snipper ini disebut-sebut lulusan dari pendidikannya Kamp Udaibiyah, Filipina. Pengalaman lapangannya bercukup pula, bahkan mungkin pada waktu dulu, saat para serdadu Beruang Merah lagi berpatroli di pegunungan terjal di Afghanistan, pernah merasakan bukti ketepatan bidikan mereka.
Mampukah mereka merancang dan mempersiapkan serta melaksanakan suatu operasi militer dengan agenda sebesar seperti ini ?.
Mampu, jika Al-Qaeda Internasional turut membantu di pelaksanaan hari H operasinya. Maka, ditengarai, waktu sekitar 3-4 bulan ini adalah waktu mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk logistiknya, dan secara bertahap mengalir masuk personil yang akan terlibat di pelaksanaan hari H operasinya.
Peledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton kemarin adalah tahapan penting menuju sasaran utamanya. Sebab disitu terjadi perang inteljen dan kontra inteljen, antara CIA dengan Al-Qaeda. Konon katanya, kecuali kelompok Castel Asia, ada ikan kakap lainnya yang sedang berada di kedua hotel itu.
Konon, saat itu ada sekitar hampir 150 anggota agen Inteljen CIA yang sedang menginap dan berkumpul di hotel itu. Sebagai tim Advance, mungkin mereka sedang koordinasi, pengenalan lapangan, dan mempersiapkan serta merencanakan metode pengaman dari rencana kedatangan Obama.
Jeglaaarrr…, Obama adalah target utama dan terbesarnya. Tapi mengapa media lebih suka memberitakan bahwa Presiden Indonesia adalah target utamanya ?.
Al-Qaeda versus Obama, tentu tidak sedikit simpati yang akan dicondongkan kepada Al-Qaeda.
Namun, jika Al-Qaeda versus SBY, maka ceritanya akan lain. Disamping tentu lain rasa simpati rakyat Indonesia kepada Presiden Negaranya dibandingkan Presiden yang bukan Presiden Negaranya, juga karena sosok figur pak SBY yang lagi berada dalam top performance kharismanya.
Oleh sebab itulah, maka tak ada dalam kamus media arus utama, memberitakan mengenai Castel Asia dan Obama.
Lalu, apa implikasi dari cara pemberitaan media arus utama itu, bahwa sasaran Al-Qaeda bukan nyawa Presiden Amerika Serikat yang akan berkunjung ke Indonesia, tapi sasarannya adalah nyawa Presiden Indonesia ?.
Tentu, akan lebih memudahkan menjadikan Al-Qaeda sebagai common enemy di Indonesia.
Ada implikasi lainnya ?.
Sabar, nantikan bahasan lebih lanjutnya, ditulisan berikutnya yang berjudul ‘mem-PKI-kan si-Muslimin Berjenggot yang Bergamis dan Bersurban’.
(bersambung…..)