SAYA syok. Bahkan sangat syok ketika mendengar rekaman sidang pertama wakil rakyat yang terhormat di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang di-upload di situs Youtube. Pimpinan Dewan yang (lebih) terhormat, mengusir sambil membentak-bentak, bahkan memaki-maki seorang anggota Dewan yang juga terhormat.
Sungguh disesalkan. Mereka adalah orang-orang terpilih. Rakyat memilih mereka sebagai penyambung lidah. Pembawa aspirasi. Agar bersuara bagi orang-orang kecil yang tidak bisa ‘bersuara’. Sayang, Ketua Dewan yang terhormat bersikap seperti preman pasar. Mungkin lebih kasar.
Bagaimana mungkin seorang Ketua Dewan Yang Terhormat memaki-maki rekan sesama anggota Dewan di ruang sidang, ketika sidang sedang berlangsung. Bagaimana mungkin dia menyebut rekan sesama wakil rakyat dengan sebutan “kode” (monyet) dan anjing!?
Terlepas dari dugaan adanya persoalan pribadi antara kedua anggota Dewan Yang Terhormat itu, tapi sikap yang ditunjukkan sang Ketua Dewan benar-benar tidak bisa diterima akal sehat. Menurut laporan harian Pos Kupang, Rudi Tonubesi, anggota Dewan yang “didamprat” Ketua Dewan Vicktor Lerik, pernah melaporkan sang Ketua Dewan ke polisi dalam kasus pencemaran nama baik.
Lantas, ketika ditanyakan mengenai sikapnya, sang Ketua Dewan menjawab, “Itu Hanya Syok Terapi.”
“Sopan santun” yang terjadi dalam sidang pertama DPRD Kota Kupang pada 26 Agustus 2009, membuka mata kita. Itu baru awal, bagaimana lima tahun ke depan? Walahualam.(*)
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
