Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Mataharitimoer

MT adalah blogger Indonesia. Buku yang ditulis : Jihad Terlarang (2007), Guru Kehidupan (2010), Biarkan selengkapnya

Serumpun Padi Tumbuh di Sawah

OPINI | 30 August 2009 | 15:01 Dibaca: 5766   Komentar: 6   0

Pagi ini aku menyanyikan lagu lama yang pernah kunyanyikan waktu SD (Sekolah Dasar).

SERUMPUN PADI
Written by : R. Maladi 


Serumpun padi tumbuh di sawah
Hijau menguning daunnya
Tumbuh di sawah penuh berlumpur
Di pangkuan ibu pertiwi 


Serumpun jiwa suci
Hidupnya nista abadi
Serumpun padi mengandung janji
Harapan ibu pertiwi

Kunyanyikan lagu itu ketika masih saja menonton TV tentang amarah saudara sebangsa akibat ulah saudara serumpun di Malaysia. Begitupun ketika kubuka laptopku dan membaca harian online, masih ada saja kecamuk benci terhadap Malaysia. Bahkan ada perlawanan komentar dari orang Malaysia di sebuah blog publik.

Memang kalau kuingat-ingat kembali, beberapa kali Malaysia melakukan klaim atas hak Indonesia. Mereka merasa lebih superior ketimbang bangsa Indonesia yang menurut sebagian orang Malaysia dianggap sebagai bangsa penjual manusia (budak/TKI).

Dari sini saja sebenarnya antara Malaysia dan Indonesia memiliki sedikit perbedaan picuan sikap. Ratusan rakyat Indonesia pergi ke Malaysia untuk mencari uang, dengan bekerja ataupun mengorbankan nyawa dan harga diri. Sedangkan orang Malaysia datang ke Indonesia untuk mencari ilmu, belajar di sekolah maupun universitas yang kualitasnya memang lebih baik dan tak tertandingi oleh perguruan tinggi di Malaysia. Kalaupun ada orang Malaysia yang cari uang di Indonesia, mereka umumnya mempunyai status pekerjaan yang lebih mentereng ketimbang orang Indonesia yang kebanyakan jadi jongos/babu.

Perbedaan latar belakang tersebut membentuk perbedaan sikap. Orang Malaysia merasa lebih superior ketimbang orang Indonesia. Melihat kenyataan orang Malaysia mengakui (mengklaim) produk dan budaya Indonesia, tak usah heran. Itulah wujud dari sikap superior yang tumbuh sedikit demi sedikit dari sikap mereka terhadap TKI. Mereka sudah terbiasa merendahkan derajat orang Indonesia. Kebiasaan itu membuat mereka yakin kalau orang Indonesia tidak akan marah terhadap klaim budaya. Orang Indonesia sudah terbiasa dihina, ditindas, dibodohi, diadudomba dan diracuni cara berpikirnya.

Tapi kali ini Malaysia salah kira. Justru sikap merendahkan martabat bangsa Indonesia itu menjadi pemicu bangkitnya nasionalisme rakyat. Malaysia lupa kalau orang Indonesia itu harus digampar dulu, baru sadar. Klaim mereka terhadap beberapa budaya Indonesia merupakan gamparan yang keras. Maka dengan gamparan itu, banyak orang Indonesia yang tersadar akan nasionalisme. Dengan gamparan Malaysia, banyak anak-anak muda yang kini mencoba belajar kembali tentang tari pendet, lagu-lagu kebangsaan, dan memaksakan diri memakai batik. Dengan tamparan telak Malaysia, banyak orang Indonesia yang sadar, betapa mereka terlalu lama lupa akan budayanya, lupa akan harga dirinya, bahkan lupa tentang siapa dirinya sendiri.

Karena itu, sebagai bangsa serumpun, kuucapkan terima kasih kepada Malaysia. Bagaimanapun sikap superioritas kalian yang kadang menjengkelkan, aku merespon dari sisi positifnya saja : Betapa nasionalisme Indonesia menjadi bangkit kembali. Sebab bangsa ini memang bangsa yang harus dilecut, baru bekerja. Harus ditendang, baru sadar. Harus ada yang dibunuh, baru berani melawan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 3 jam lalu

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 12 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 13 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Florence, Anda Ditahan untuk 20 Hari …

Farida Chandra | 8 jam lalu

Deddy Corbuzier Bikin Soimah Walkout di IMB …

Samandayu | 8 jam lalu

Semua Gara-gara Air Asia …

Rinaldi | 8 jam lalu

Negeri Berutang …

Yufrizal | 8 jam lalu

Dua Wajah Manusia dalam Antologi Cerpen dan …

Alexander Aur | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: