

Lupakan sejenak tentang kecongkakan Malaysia yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan di pelbagai forum. Di sini, di negara kita ini, di ibukota Jakarta, Anda mungkin tidak menyangka bahwa pelecehan terhadap harga diri bangsa terjadi terang-terangan dan nyata-nyata di depan mata. Di tengah-tengah keramaian lalu lalang para pekerja, di depan Kedubes Australia, Kuningan, Jakarta.
Penulis yang bekerja disamping gedung kedubes yang angkuh ini merasakannya sendiri. Sejak semula penulis sudah merasa kurang sreg dengan tindak tanduk penguasa sejengkal tanah di Rasuna Said ini. Sejak kejadian Bom Kuningan 2004 lalu dan terlebih lagi setelah kejadian Bom Mega Kuningan baru-baru ini, petugas keamanan gedung angkuh ini semakin bertindak over acting.
Mungkin kita semua paham, bahwa memang kedutaan besar setiap negara merupakan tanah negara tersebut yang ditempelkan di negara tuan rumah, dan masukakal pula jika di dalam pagar kedutaan besar tersebut berlaku hukum-hukum si negara tamu.
Namun yang terjadi di depan Kedubes Australia malah sebaliknya. Pertama, di depan gedung angkuh mereka, mereka memblokade trotoar yang berada di wilayah Republik Indonesia, sehingga merampas hak-hak pejalan kaki yang mayoritas adalah rakyat Indonesia. Kedua, di depan trotoar yang telah di blokade tersebut mereka (lewat petugas keamanan) menempatkan sebuah mobil patroli yang hampir selalu standby 24 jam, sehingga sangat mengganggu pejalan kaki yang sudah tersingkir akibat trotoar di blokade. Akibatnya sering terjadi para pejalan kaki hampir terserempet kendaraan ketika melintasi bagian depan trotoar di sisi mobil patroli yang parkir tersebut. Ini jelas-jelas membahayakan keselamatan jiwa Rakyat Indonesia.
Ketiga (ini bagian yang paling saya tidak suka), setiap hari Jumat mulai pagi, para pejalan kaki yang sudah tersingkir dari trotoar dan potensial terkena kecelakaan lalu lintas, harus diperiksa seluruh barang bawaannya, ketika melewati depan trotoar tadi, mungkin dengan asumsi semua pejalan kaki adalah teroris sehingga wajib membuktikan dirinya bukan teroris.
Jumat kemarin saya mendapatkan perlakuan ini, namun saya menolak dengan tegas sambil membentak petugas keamanan mereka.”Anda petugas keamanan Kedubes Australia, wilayah kerja Anda di balik tembok sana, jangan atur-atur saya, saya berada di wilayah Republik Indonesia!” Salah satu dari mereka mencoba memegang bahu saya mencegah saya meronta. Kembali saya membentak, ” Jangan berlebihan deh!” Setelah itu saya berlalu tanpa mengacuhkan teriakan-teriakan mereka.
Mungkin ini kejadian ringan yang tidak penting, namun entah kenapa nasionalisme saya terusik oleh kejadian tidak penting ini. Bagaimana tanggapan pembaca??
Selamat berhari libur dan Salam Kompasiana! :)
wahono
Paul 
Sesuatu terjadi pasti ada sebab akibat, kalau gak ada sebab gak mungkin ada akibat. Secara cerdas seharusnya bangsa ini sudah bisa menganalisa sendiri, kenapa hal seperti ini bisa terjadi, sebabnya apa? jawabdannya ada di hati setiap insan yg hidup di bumi pertiwi ini. Mereka berbuat begitu semata2 untuk keamanan sendiri. Mungkin ada yg akan bilang, kami ini bukan teroris, kenapa dicurigai? Ok, anda sangat benar sekali dalam posisi ini. Tapi siapa yg berani memberikan jaminan bahwa orang2 seperti kita ini benar2 bisa dipercayai 100%? Jawabannya gak ada orang yg berani jamin, kalau jawabannya begitu, berarti kita tidak boleh menyalahkan tindakan mereka, solusinya, mawas diri tidak mendukung radikal. Kenapa kita harus menerima tindakan mereka, karena bangsa kita sendiri yg memaksa mereka berbuat begitu terhadap kita. Mungkin penulis masih ingat peristiwa bom JW Marriot, n Ritz Carlton, siapa dalangnya? Pekerja dalam hotel bukan, karena pekerja sendiri ya dipercaya untuk bebas keluar masuk, termasuk memasukan barang, tp ternyata bom. Ini namanya musuh dalam selimut, tikus di dalam lumbung padi dan sebagainya. Tujuan pelaku itu apa? masing2 punya jawaban, bukan. Perlakuan ini tetap akan diterima bangsa ini sampai kapanpun, selama bangsa ini terbelenggu dalam satu paham dan ideologi yg menyesatkan.
+1
-1
Wawan Setiawan 
Itu bukti keangkuhan nega penjajah. Sederhana saja dia itu tamu di negara kita, kok sombongnya mingta ampun. Memang teroris harus kita berantas hingga ke akar-akarnya namun perlakuan Australia tidak seharusnya seperti itu. Nampaknya pemerintah Indonesia harus punya standar pengamanan wilayah kedutaan. Sehingga tidak arogansi kemanan mereka yang berlaku di negeri kita.
+1
-1
Zeki 
Kedubes ini pernah di bom, jadi wajar kalau dia trauma. Kita mungkin benar dengan mengatakan mereka congkak. Tapi kita harus bijak menghadapi orang yang trauma. Benar dan bijak dua hal yang harus dibedakan.
+1
-1
kusuma pachrul 
Setuju, saya juga jadi merasa tersinggung, wilayah mereka di dalam gedung, mereka gak ada hak memeriksa barang bawaan kita, mereka bukan polisi Indonesia hanya satpam kecuali kalau polisi itu beda ! seharusnya pihak kepolisian menegur mereka
+1
-1
setyo 
Saya setuju dengan pendapat saudara. Kita perlu protes tindakan tersebut. Itu perlu di beritakan luas kepada publik supaya masyarakat tahu tentang pentingnya harga diri bangsa. harus kita lawan bersama.!!!
+1
-1

Kalau saya, akan saya beri ceramah tuh petugas kedubes yang ternayata telah dibayar oleh kedubes australia. Semoga saja mereka masih memiliki jiwa nasionalisme.
salam
omjay
+1
-1
Rose
Molas 
Fadz, hal seperti ini seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah kita, memberi tanda batas wilayah teritory kedutaan termasuk security linenya. Kantor-kantor kedutaan didaerah Mentengpun memberlakukan pengawasan yang sama. Teroris yang berulah kita yang dapat getahnya. Selamat berpuasa!!
+1
-1
aRIEF 
@paul… Seems youre so easily blaiming kondisi di Indonesia dan membenarkan kesalahan yang terjadi.
Prinsipnya kita tidak bisa menerima aturan orang lain berlaku dalam wilayah negara kita for whatever the reason unless kita sendiri yang melakukan itu.
Aroganisme seperti ini mesti diluruskan dan tidak mesti berkorelasi langsung dengan peristiwa JW mariot or pemboman kedubes Australia sebelumnya, kalau mereka mau take precaution seharusnya itu ada diwilayah teritori mereka dan bukan mencederai teritori bangsa lain even itu hanya berupa trotoar.
Saya gak paham dengan kalimat terakhir tulisan anda “Perlakuan ini tetap akan diterima bangsa ini sampai kapanpun, selama bangsa ini terbelenggu dalam satu paham dan ideologi yg menyesatkan” kalimat ini sangat tendensius dan mestigma golongan tertentu dalam bangsa ini, you should clarify for that mister !!!
+1
-1
edo 
yang angkuh sebenarnya yah kita sendiri bukan orang lain. kita cuman bisa menyalahkan negara lain. kedubes ausie ada di di indo juga ada untuk kepentingan dua negara. kenapa bom banyak ditujukan kepada kedubes asing, bagaimana rasanya kalo kedubes indo di negara asing juga di bom….apa reaksi yg akan terjadi di indo???? rame pastinya. egoisme bangsa indo sudah terlihat sendiri kan…jaga perdamaian untuk seluruh dunia, bukan hanya negara kita, atau negara tertentu, lebih baik netral. sadar kalo masalah dunia menuju kiamat lebih besar dari egoisme tertentu. ini hanya pendapat, bisa atau tidak dapat menerima adalah ditangan anda, demikian nasib dunia juga ada di tangan anda.
+1
-1
ezmiry 
@ paul
aduh mas kok bisa seenaknya bikin pembenaran untuk tindakan satpam kedubes Ustrali ya. Kalo memang pihak kedubes merasa rawan diserang teroris, manage dong resiko bahayanya dengan elegan. jangan anggap semua yang lewat depan rumahmu itu teroris.
mau periksa barang bawaan semua orang yang lewat depan kantormu! kacau lo.. takut di bom ya… segede apa sih bawaan orang yang jalan kaki? segitu takutnya… tembok pembatas udah kaya tembok penjara masa ga bisa nahan efek ledakan dari bahan peledak yang dibawa sama orang yang jalan kaki, kecuali dia bawa hulu ledak nuklir..
yang ngurusin trotoar dishub ya, atau pol PP? tegor tuh orang yang make trotoar semaunya. giliran pedagang kaki lima aja diusir. kl gak tarikin retribusi aja untuk setiap meter trotoar yang mereka pake. lumayan buat uang rokok. bukan cuma ustrali, kedubes yang di medan merdeka timur juga gitu. depan kantor wapres aja gak ditutup trotoarnya..
+1
-1
deep 
setuju dengan tulisan ini,seharusnya mereka membuat pos kedalam bukan keluar dan menghabiskan tratoar mana peranmu pemda?…….kalo pkl pakai tratoar digusur ayo coba satpol pp berani ga?……..pak bowo dimana n pri apa tanggapan anda?…….wilayah kedaulatan setiap kedubes itu mulai dari pagar kedalam tidak sampai tratoar itu berlaku diseluruh dunia,hanya indonesia yg sampai tratoar seperti kedubes inggris.amrik dan lainnya.apakah pantas?…….pantaslah kita dikangkangi terus oleh mereka, satpam aja bisa memeriksa orang yg lewat semaunya kemana saja wewenang anda polisi?…….
+1
-1
ipiet 
marah wajar kok, diriku mungkin juga akan marah karena berpikiran diriku loh nggak ngapa ngapain, ngapain diperiksa sih kaya semua teroris aja. Who knows? ya asal nanti kalau tiba tiba ada bom lagi yang tanpa anda duga dibawa orang di sebelah anda ndak boleh nyalah nyalahin ya kalau pemeriksaan dihentikan.
weleh *serem sama komentarku sendiri* maaf maaf
orang trauma Pak, dan mereka hanya diperintahkan oleh atasan mereka. atasan mereka diperintah sama atasannya lagi. Tapi bagus, anda sudah menunjukkan Ini wilayah kedaulatan saya. Lah sudah diluar wilayah kedubes
+1
-1
rian 
saya teringat ceerita teman saya yang kuiah di aussie, dimana kelasnya merupakan kelas gabungan dimana banyak warga asing dan juga warga lokal (Australia) yang ada di kelas tersbut..
suatu hari dosennya mengatakan, “saya baru saja mendengar ada teror bom di kampus kita!” tanggapana warga asing ” biarkan pihak berwenang masuk dan mencari apakah bom itu benar2 ada!” tanggapan warga lokal (australia) ” apa bom!!! kita harus segera keluar dari sini”..
at least kita bisa berfikir, seperti apa cara pandang negara australia yang katanya lebih modern dari bangsa kita….
+1
-1
Hartati Nurwijaya 
Harusnya pemerintah Indonesia dan pemda DKi bersikap tegas. trotoar jalan buat bangsa Indonesia, buat keamanan rakyat Indonesia. Harusnya Kedubes Australia mundur suruh rombak jadi bikin pengamanan di tanahnya sendiri, bukan di jalan umum. Yang jelas milik UMUM bangsa Indonesia, dan tidak ada hak mereka atur-atur bangsa kita. Australia jadi sasaran teroris karena kebijakannya melalui NATO yang suka invansi dan perang melulu. Udah obok-obok negeri kita melalui Timor Leste kini dia mau obok-2 Papua pula. Kenapa Kedubes negara lainnya aman?
Harusnya berkaca sendiri tuh mereka.
+1
-1
salep 88 
kabarnya, densus 88, angka 88 itu berasal dari jumlah warga australia yang mati saat bom bali 1. jika benar, ini seperti tanda, bahwa memang pemerintah kita mengakomodir seluruh keinginan australia. maka tidak heran jika mereka over acting seperti itu.
soal-soal beginian, kita memang belum berdaulat, meski di negeri sendiri.
+1
-1
mahendra 
australia lagi parno kali ama terorisme…
+1
-1
Eki 
@paul,
Kamu adalah contoh terbaik keberhasilan provokasi asing terhadap bangsa ini. Mereka memang menginginkan kita saling menyalahkan dan mencurigai sesama. Itulah tujuannya.
Kalau masih menguasai tanah yang di belakang pagar, itu namanya hak dan wajar. Tapi kalau sudah menguasai sampai ke trotoar, itu namanya penjajahan, karena sudah mencaplok wilayah tanah air Indonesia walaupun cuma sejengkal. Apa bedanya dengan Malaysia yang ingin mencaplok Ambalat?? kalau mereka tidak suka dengan negara ini ya pergi saja, jangan tinggal lalu bertindak seenaknya. Kalau masih mau tinggal di Indonesia, mereka harus tunduk sama aturan yang berlaku. Ingat, bangsa ini juga punya harga diri. Justru arogansi yang seperti inilah yang memancing tindakan radikal dan terorisme, karena sikap yang seperti ini menyinggung harga diri dan ideologi bangsa, sebuah alasan yang sangat jelas untuk menuju surga.
+1
-1
uti 
Petugas dari Pemda DKI tahu gak ya kalau trotoar didepan Kedubes ini terlarang untuk pejalan kaki yang notabene adalah rakyat Indonesia, pemilik Negara ini.
+1
-1
Lia Ishadi 
Waaah…. bagus pak… hajar ajaaaa…
Btw, trotoar di depan Kedubes Amerika juga gitu lhoooo……coba aja liat
+1
-1
John Gledhill 
Trauma sih trauma, sekuriti sih sekuriti, tapi pejalan kaki, sudah diambil hak nya jalan ditrotora, masih juga pake diperiksa, bentak aja bang.
Ayo semua orang kompak, bentak tuh sekuriti kedubes osi.
FPI mane nih, yg kayak gini lo demo donk, jangan cuman malakin tempat hiburan doank.
+1
-1
Kitiran 
Hebat……………..!
Hebat………………!
Hebat……………….!
Mana dong AHLI NYA…………….
Cukur kumisnya, cukur kumisnya………, cukur kumisnya…….!
Liat dulu sertifikat tanah dan IMB bangunan kedubes aus itu, berapa luas tanahnya.
Liat juga peta sarana dan fasilitas umum di pemda DKI, apakah trotoar itu termasuk sarana umum atau bukan.
Kalau ternyata sarana umum, berarti sedikitpun, secuilpun tidak ada HAK mereka untuk mempertanyakan setiap orang yang melintas.
Kalau mereka merasa terancam, merasa diancam oleh orang yang melintas, salah mereka berada di pelintasan orang harusnya mereka pindah ke JONGGOL aja yang masih sepi, bikin embassy di tengah hutan.
+1
-1
maridjan 
Ga usah dengan kedutaan asing. Trotoar di Indonesia itu sudah dikuasai pedagang kakilima dan showroom mobil bekas. Contohnay sepanjang Jalan margonda Depok. memang hak pejalan kaki diabaikan kok.. Ga usah sama orang asing.. diabaikan juga sama bangsa sendiri.
+1
-1
arya 
Tulis di surat pembaca kompas edisi cetak. Pasti ada perhatian dr pihak kedubes. Bagus lagi kalo momen nya pas, bakalan disorot sm media massa.
+1
-1
arya 
@salep 88
Mas ini ngaco aja. Info resmi dari kepolisian: ini karena dulu kita dapat bantuan teoritis atau bisa dikatakan “kuliah” gratis dari pakde sam (USA), dalam suatu bentuk ATA (Anti Terorism Act). Nah ATA ini dibacanya kan dalam bahasa indonesia ay-ti-ay, nah malah dibahasa indonesiakan eighty eight alias delapan delapan.
+1
-1
arya 
@maridjan
Apa misalnya kalo di margonda ada pencopetan/penodongan tiap hari, maka kejahatan semacam ini adalah benar ???? Perlakuan di trotoar depan kedubes kita protes, yg dimargonda juga kita perbaiki dengan cara urun rembug ke media atau ke instansi pemerintah terkait. Bukan terus semuanya didiamkan atau diabaikan saja.
@ipiet
Misal rumah anda yg di bom. Apa mungkin tetangga dan masyarakat kampung anda terima, kalo anda nyewa jasa keamanan / preman untuk memeriksa setiap orang yg lewat ????? Dengan alasan, kalo orang disebelah bapak/ibu ternyata bawa bom, pasti bapak/ibu berterimakasih pada saya ???? Jadi kita sepakat ya, hal ini salah sekali. Demikian pula tindakan aparat keamanan kedubes australia.
+1
-1
adolframeidy 
Trotoar milik siapa? milik Dubes, milik Konsulat, milik Dinas perparkiran, milik pedagang bakso, milik pedagang somay, milik pedagang es, milik samsat, milik toko, milik pedagang rokok, milik pengemis, milik milik pedagang kecil lainnya, milik tukang ojek, milik pengendara motor,…atau milik pejalan kaki…….ah trotoar…kemana-mana?
+1
-1
CostaNostra 
Saya sangat sependapat mas….walaupun saya juga menyadari bahwa negeri kita belum terlalu aman..tapi selama hal tersebut berada di dalam wilayah NKRI bangsa inilah yang memiliki hak terbesar atas tanahnya sendiri…orang-orang asing itu hanya boleh mengatur yang berada didalam wilayah hukum mereka sendiri…tapi kalau kita mau instrospeksi lagi ternyata memang Pemerintah RI yang LEMAH…mau-maunya diatur oleh pemerintah asing…sekalipun hal itu mengurangi kenyamanan warganya sendiri…saya bermimpi kita punya pemerintah dengan pemimpin seperti Morales atau seperti Ahmadinejad…sebagai pemimpin mereka mampu membawa negara dan rakyatnya untuk berkata TIDAK kepada pemerintah asing, jangan atur kami karena kami bisa mengatur negara kami sendiri…hebat kan kalau kita punya pemimpin seperti itu ?
+1
-1
Sanjaya 
securitynya orang indonesia ato aussie??kalau orang indo ya jangan aussienya yg disalahin..
berarti fasilitas keamanan itu yg memberi dan mengaturnya orang indo jg….
so..kalau mau demo ya di mabes aja!!!
+1
-1
junaidi nasution 
saya setuju dgn anda bung… kecuali klo kita mau bertamu atau masuk ke kedubesnya dia, lain masalah. ga ada tuh,..krn alasan trauma, hak kita sbg warga negara, di negara sendiri, jadi terampas.
+1
-1
didik 
Mereka mungkin punya alasan untuk bersikap hati hati dan curiga, tapi definitely mereka gak puny ahak untuk memeriksa setiap pejalankaki dibumi Jakarta….. hajar aja bleh ….
+1
-1
heroe 
kalau mau ngebom gak usah lewat trotoarpun nyampe kali ya…apalagi bom mobil ( jangan-jangan mobil gak boleh lewat ntar didepan kedubes)
ambil hak kita….!
pertama trotoar, lalu jalan, lalu lalu…terlalu..jadi keenakan.
+1
-1
andri 
Mereka tuh teroris yg sebenarnya. masa 2 hari sebelum peledakan bom marriot 2, mereka sdh memberikan sinyal akan ada teroris ke negara ini. Patut dicurigai tuh.
+1
-1
Bocah nDeso 
…”Anda petugas keamanan Kedubes Australia, wilayah kerja Anda di balik tembok sana, jangan atur-atur saya, saya berada di wilayah Republik Indonesia !”…
Statemen yang sangat bagus, seharusnya memang begitu.
Cuma, ini cuma andai saja, petugas (Amerika Serikat, Australia, dan sekutunya) menjawabnya :
“Anda cuma rakyat jelata, jangan sok, sedangkan Pejabat tinggi di Pemerintah anda saja tunduk dan patuh kepada kami, kamilah yang mengatur mereka”.
Nah, anda mau apa ?, cuma rakyat biasa, pejabat tinggi anda saja nurut kepada mereka kok !!!.
+1
-1
Kitiran 
Besok-besok, mungkin besok nya lagi……………………………..?
Mungkin kita yang di Bekasi sekalipun, mungkin di periksa ama perangkat kedubes aust tadi.
Wah kembali ke jaman Belanda ya………, kamu orang ekstrimis….ekstrimis………….ekstrimis……ekstrimis…………….coba-coba berani lawan belanda he……..!
Dimana itu si pitung……..?
+1
-1
Sutarmo 
Mengapa kita selalu menjadi underdog di kawasan Asia Pasific bahkan di Asia Tenggara sekalipun kondisi kita selalu di bawah angin?Mengapa,mengapa dan mengapa? Bisakah kita berdiri tegak dengan gagah menatap semua bangsa di dunia ini tanpa rendah diri?Seharusnya kita adalah bangsa yang ditakuti setidak-tidaknya disegani,tapi faktanya bangsa2 lain saya berani bertingkah aneh2 kepada bangsa kita.Apa yang sebenarnya terjadi dengan kita?
+1
-1
Bocah nDeso 
Mohon ijin, artikel anda telah saya copy paste, dan postingkan di blog tetangga sebelah.
‘Pelecehan Nasionalisme didepan Kedubes Australia’
http://politikana.com/baca/2009/09/05/pelecehan-nasionalisme-didepan-kedubes-australia.html
+1
-1
vino 
Kedubes yang seperti itu mestinya go to hell ajah…
+1
-1
Komentator 
Jangan harap org laen mau hormat ama kita kalo gak kitanya yg saling menghormati lebih dulu. Wong sesama bangsa Indonesia aja masih belum bisa saling menghormati. Gak pejabatnya gak rakyat kecilnya sama semua. Pejabatnya pada korupsi, rakyat kecilnya jualan di kaki lima ngambil haknya pejalan kaki, ngerokok sembarangan gak peduli ama orang disekitarnya. Penegakan hukum tidak berjalan konsisten. Orang dibiarkan terbiasa melanggar peraturan yang ada terlebih dahulu (malah dipungut bayaran), setelah terbiasa melanggar baru deh ditindak.
Orang2 asing yang dateng ke Indonesia itu bukan orang bodoh. Mereka udah cari tau dulu dari negara mereka org Indonesia itu seperti apa. Jadi kalo orang asing melecehkan orang Indonesia itu karena emang orang Indonesianya yang minta dilecehkan.
Tersinggung & marah2 gak bakalan mengurangi pelecehan, malah menambah intensitas pelecehan itu sendiri. Yang harus dilakukan adalah perubahan, dimulai dari perubahan pendidikan. Setelah itu perubahan di aparat penegak hukum untuk lebih konsisten dalam menegakkan hukum, tidak lagi membiasakan pelanggaran berlarut-larut terlebih dahulu yang kemudian akhirnya ditindak. Nih negara jadi lebih tertib, jumlah orang mau melanggar peraturan juga lebih kecil krn pelanggaran ditindak saat itu juga, dan bangsa ini akan lebih dihormati.
Kecongkakan kedubes Australia itu diluar kontrol kita, yang bisa kita lakukan adalah kontrol reaksi emosional kita. Orang yg gak bisa kontrol emosinya akan jadi sasaran empuk pelecehan. Yang melecehkan tinggal pencet tombol2 mana yang bisa bikin komunitas tersebut ‘meledak’, setelah meledak mereka akan tertawa terbahak2. Capek dilecehin melulu? Kontrol reaksi emosional sendiri. Peace.
+1
-1
Anok 
dua solusi:
kedubes aus pindah ke daerah terpencil sehingga tdk mengganggu pejalan umum.
kedua, bom aja!
+1
-1
nurddin 
Taniah aku sanjung semangat nasionalisme rakyat indonesia tapi sayang kebanyakkan nya berbaur emosi semata-mata.
+1
-1

Nilai tukar mata uang mereka sangat diuntungkan dibanding rupiah, jadilah beberapa orang inlander yang mampu terbeli baik itu yang bekerja didalam dan pendukung yang ada diluar jadi pongah.
Cerita lain….Jadi teringat pelaut penemu benua australia yang kapal nya dalam perjalanan pulang menuju britania mampir dan berlabuh di pelabuhan tanjung priok. Dengan keuntungan nilai tukar uang yang mereka miliki mereka berpesta pora di pelabuhan. Setelah bertolak layar lepas dari tanjung priok Kapten kapal sang penemu benua itu kehilangan lebih dari setengah awak kapalnya yang mati karena tertular gonorrhea. aussy oh aussy
+1
-1
Anggota DPR 
@Bocah nDeso,
Orang Australia ngomong : “Anda cuma rakyat jelata, jangan sok, sedangkan Pejabat tinggi di Pemerintah anda saja tunduk dan patuh kepada kami, kamilah yang mengatur mereka”.
Akan saya jawab “Pejabat itu pelayan rakyat, saya ini RAKYAT jadi wajar kalau pelayan saya nurut sama anda tapi saya TIDAK”
+1
-1

Masih juga kita tidak paham, tanyakan pada diri sendiri apa yang terjadi di Negara kita ini?
Orang-orang kita sendiri yang membuat hilangnya harga diri bangsa kita, dan berpenagruh secara eksternal, Tetapi semua itu tetap saja, Manusia Selalu Lebih Pintar Dari Pada TUHAN :
http://public.kompasiana.com/2009/09/05/manusia-manusia-yang-lebih-pintar-dari-pada-tuhan/
Salam,
Imansyah Rukka
+1
-1
hermanto 
itu adalah tanda betapa lemahnya kita sebagai suatu bangsa, kita sebagai negara terbesar dikawasan ini tetapi tidak punya martabat di kawasan ini, mari kita bangun negara ini bersama sama kita bangun kekuatan kita agar dipandang oleh negara lain. mereka (australia dn malaysia) berbuat demikian karena TNI 10 tahun terakhir ini merupan pasukan terlemah didunia makanya mereka berani menghina kita. mari bangun TNI menjadi suatu kekuatan negara yang disegani di kawasan ini. Penuhi anggaran TNI agar dapat meremajakan seluruh alutsistanya dengan baik. dan tingkatkan kesajahteraannya agar menjadi prajurit yang profesional.
+1
-1
diman 
YA SEBENARBYA KITA SENDIRI KOK YANG MENGINGINKAN INI SEMUA, SEBAB COBA SAJA NEGARA KITA AMAN PASTI HAL SEPERTI INI TIDAK TERJADI, KENAPA KITA MESTI NGOMONG MASALAH NASIONALIS UNTUK HAL SEPERTI PADA HAL BANYAK SEKALI PEMIMIMPIN NEGARA INI YANG TIDAK SEDIKITPUN AMBIL PUSING DENGAN NASIONALIS, CONTOH SAJA PENJUALAN ASET INDOSAT DLL. JADI KLAU KITA MAU DIHARGAI COBA TOLONG TANAMKAN PADA SIRI SEMUA ANAK BANGSA INI HIDUP DAMAI DAN TIDAK TERPENGARUH DENGAN AJARAN-AJARAN SESAT YANG MENGATASNAMKAN ISLAM. PADAHAL ISLAM ITU AGAMA SEMPURNA DAN PEMBAWA RAHMAT BAGI SEKLIAN ALAM. DAN YANG TERAHIR KENAPA BANYAK PENDUDKUNG TEROIRS ITU DARI PULAI JAWA(MAAF BUKAN MAKSUD UNTUK NGOMONG SUKU NE TP SEKEDAR INTROSPEKSI) BUKAN DARI SUMATRA ATAU LAINYA, APAKAH PEMAHAMAN ISLAM DI JAWA ITU AGAK KURANG DALAM, SEHINGGA MUDAH DI TUNGGANGI DENGAN ISU2 YANG TIDAK BENAR? KLAU YA TOLONG KEDEPAN ISLAM ITU DITANAMKAN DENGAN LEBIH DALAM LAGI BAGI GENERASI MUDANYA, SEHINGGA KEMURNIAN ISLAM ITU TETAP TERJAGA DAN TIDAK DIGUNAKAN SEBAGAI ALASAN UNTUK MERUNTUHKAN CITRA ISLAM DI MATA DUNIA OLEH MUSUH-MUSUH ISLAM. SORRY NE BUKAN BERTUJUAN PROVOKATIVE YA TAPI UNTUK PERBAIKAN SAJA.
+1
-1
seseorang 
soal blokade saya juga tidak setuju.
lalu malahan parkir di pinggir jalan. di sisi itu emang polisi rada tolol.
mestinya kalau mereka mau memblokir trotoar ya dibuatkan lah jalan yang aman sepanjang blokade tsb sebagai penggantinya di lajur kiri jalanan supaya tidak membahayakan pejalan kaki.
tapi siapa bilang itu perintah geledah cek barangnya datang dari australian officials ?
jangan suudzon dulu, siapatau perintahnya datang dari kepala polisinya kita sendiri, sesama anak bangsa, justru kita harus bangga sama pak polisi disana karena tingkat antisipasi & usaha pengamanannya tinggi. sudah 1+ tahun berlalu sejak pemboman kedubes australia tapi mereka tetap siaga. malah saya acungi jempol, itu..
jadi, kalau soal pemeriksaan tas-nya sih menurut saya tak usah dibesar-besarkan lah.. tiap masuk gedung publik manapun sekarang di jakarta rata2 juga kan diperiksa.. jadi kecuali penulis mbeneran bawa bom atau bawa benda memalukan lainnya ke kantor, ya apa boleh buat pasti tersinggunglah tasnya dibuka-buka.
tapi kalau tidak, apa ruginya sih 10 detik demi ketentraman sesama?
note: Om Zulfadly masuk hot thread euy!
+1
-1
seseorang 
^
^
btw tambahan atas komen saya, sungguh. bukannya ngebela’in kedubes aussie lhoh.
tapi kalau masalahnya sekedar trotoar Jakarta yang tidak bisa dipakai, mestinya kita jangan mengkambinghitamkan negara lain lantas menyulut emosi orang2 berpikiran pendek di forum terbuka… yang benar itu marahnya ke WALIKOTA DKI.
lantas biar mereka yang menindaklanjuti, mungkin sbb;
- menertibkan blokade gak penting kedubes aussie,
- menertibkan blokade lebay kedubes amerika,
- menertibkan blokade2 kedubes lain yang sok penting (kalo masih ada),
- belajar bikin trotoar yang bener; yang beneran bisa dipake buat jalan. bukan yang tiap 15meter sekali ketemu pohon ditengah-tengah, bukan yang besarnya < 2m padahal di jalan kelas A, bukan yang bolong-bolong pake beton murahan, yang tertib dari pedagang asongan, tambel ban, warung makan kaki lima.
mo ngomong trotoar mah panjang persoalannya. coba liat aja tuh yang sama-sama tengah kota, di Pejompongan ke arah Karet Bivak,,,emangnya ada trotoar??? udah jadi nasgor Bum*n, tukang las, tukang kaca, dll yang semua tingkat 2… dudul bgt emang dahh…
atau trotoar seputar Istana Merdeka (contoh kehalangan pohon & tllu sempit utk ukuran jalan sebesar itu).. pokoknya dst dst banyak lah.
ini PRnya Fauzi Bowo, bukan objek sulutan perang.
+1
-1
Anggabumi 
Jangan terbawa emosi, mereka trauma!!! tapi juga berlebihan…
Kadang saya lihat mereka terlalu berlebihan tapi memang pemerintah Australia memang memanjakan rakyatnya dengan pola pikir global jauh dari respect culture di dunia luar sehingga terkesan arogansinya.
Untuk trotoar yang menghalangi pejalan kaki, seharusnya tidak usah diprovokasi sebagai sesuatu yang berlebihan. Karena disini tugas Pemda untuk menertibkannya, atau mungkin Pemerintah Australia sudah mengikuti cara birokrasi kita, mungkin mereka sudah bayar ke Pemda walaupun sebenarnya ada protokol yang jelas kalau kepentingan umum tidak bisa dipergunakan untuk kepentingan sepihak, tapi yang seperti anda tahu semua yang ada di Indonesia dengan mudah diperjual belikan.
Kalau kita terganggu karena Kedubes Australia memblokade trotoar, kita juga harus terganggu dengan pedagang kaki lima atau pengguna sepeda motor yang juga memakai trotoar. Tapi apakah Pemerintah Daerah terganggu?
Kadang Nasionalisme saya hancur melihat keadaan didalam negeri, dengan cara pikir kita yang masih menggunakan kelabilan emosi. Tapi tak pernah lelah saya membangun kembali nasionalisme saya dan tetap meyakinkan mereka bahwa negara saya pasti akan menjadi negara yang lebih baik dari mereka. Kebetulan saya perantau berpindah dari satu negara ke negara lain.
Ada hukum sebab akibat, kenapa bangsa ini selalu dilecehkan, dari pencaplokan pulau, budaya, trotoar, sampai LSM asing yang korek borok bangsa ini. Korupsi, Korupsi, dan sistem ekonomi yang masih mencari identitasnya.
Ketidak disiplinan kita sebagai rakyat dalam berpikir, berprinsip, menjalani undang undang dan peraturan, bahkan membuang sampah sekalipun adalah gambaran bagi bangsa lain untuk menilai, dan melecehkan tanpa melihat sisi lain yang positif dari kita.
Mari bersatu menyatukan misi dan visi dalam kemasan yang membangun dan cerdik, demi jalan berpikir yang lebih baik untuk Indonesia tercinta.
+1
-1
Bagus Saragih 
Kalau yg meriksa polisi Indonesia, saya masih bisa sedikit memaklumi. Tapi kalo yang meriksa petugas sekuriti swasta sewaan mereka, saya rasa tidak masuk akal
+1
-1
ptr 
@fadz,
Terima kasih atas keberanian anda mempertahankan hak anda. Semoga setiap pejalan kaki yang berada diposisi anda akan melakukan hal yang sama.
+1
-1
eko rawanto 
Tuan rumahnya aja yang begok gak tegas….usir semua dubes-dubes yang belagu, bekukan hubungan, selesai masalah. Kita tidak mencari musuh, tapi kalau ada ya disikat
+1
-1
M Firdaus AN 
wkwkwk… kayak ga tau aja klo orang “barat” tu lebay.. Lihat aja film-filmnya, setiap ada peristiwa reaksinya memang suka lebay. Dan biasanya perasaannya emang halus sehingga terkesan paranoid. Temen2 saya main game FB dari “barat” ini buktinya, untuk kesalahan ga perlu saja sempet2nya kirim message minta maaf segala, padahal ya “biasa aja kalee…”
+1
-1
sipenatua 
Semestinya protokol keamanan kedubes sudah diatur/disetujui oleh Polsi bersama dg Kementerian Luar Negeri kita, apa itu mau dibilang berlebihan atau tidak tentu tergantung situasi keamanan dalam negeri. Kita tidak berhak protes, tapi kita berhak meminta Polri dan Menlu untuk meninjau protokol tsb kalo kita sbg warganegara Indonesia berasa ‘didzolimi’. Kalo kita protes ke Kedubes Australia, tapi Polri dan Menlu ternyata uda menyetujui, terus gimana? protes sama siapa? Mari kita bernegara dg baik dan menghormati kesepakatan2 internasional. Misalnya Kedubes RI di negara lain dilempari bom dan Polisi disana tidak menghiraukan, tentu kita protes juga kan?!
+1
-1
jihan 
Saya sih setuju dgn rakyat kebanyakan….
Contoh yg paling gampang kan isu Malaysia dgn tari pendetnya…
Coba kalau rakyat cuek gak protes dan mengerti hukum international serta menteri kebudayaan tdk protes resmi, pasti mereka sudah menangguk untung dari hasil kerja bangsa ini….
Kalau masalah teroris, saya memang melihat rakyatnya sendiri masih bimbang. Ada yg mendukung ada yg cuek dan ada yg geram. Buktinya sampai kini teroris bisa hidup subur. Ajaran2 agama/kerpercayaan terutama islam yg sampah juga ikut2an masuk ke sini tanpa saring dari rakyatnya sendiri. Saya sebagai umat islam kadang2 berpikir, kok mau2nya mereka (para pengikut) ikut aliran sampah? Apakah mereka berpikir untung ruginya sebelum bergabung? Apakah mereka berpikir etika spt yg di lakukan Abu Jibril? Negara damai kok di sulut supaya perang….Kan nanti yg senang ya musuh mereka lagi. Coba lihat bom itu bahan bakunya belinya dari mana? Senjata perang jihad Afganistan, apa ada buatan negara2 islam? Yg paling banyak di beli ya senjata AK yg notabene buatan AS. INi kan ibaratnya, silakan lu perang gua tinggal kumpulin uang dan lu kumpulin jenazah…..
+1
-1
Hartanto 
kalo pak Ali Sadikin yang jadi Gubernur Jakarta, dari dari kemaren2 di suruh gusur tu semua yang ada di luar pagar mereka.
Indonesia ga punya kebanggaan lagi sebagai bangsa…
+1
-1
Gita Akmal Kusnandar 
Memang betul apa yg ditulis oleh penulis di atas tentang Kedubes Australia di jalan H.R. Rasuna Said. Sekarang mari kita tanya Pemda, apa ada menerima surat permintaan pemakaian trotoar sebagai bagian dari Kedubes Australia? Kalau ada surat resmi ya sokur-sokur deh, tapi kalau tidak ada ya mari kita tanyakan ke Pemda apa tindakan yang harus diambil kalau sebuah Kedubes mengambil lahan yang bukan haknya? Perasaan, daerah kekuasaan sebuah kedubes ya didalam pagar doang……, wass
+1
-1
Marmin Sumiatadi 
Kalau yang nyuruh adalah Kedubes Aussie-nya, itu namanya arogan dan sebaiknya mereka diusir pulang, persona non gratakan personilnya. Tapi kalau yang overacting itu sekuriti orang Indonesia, saya jadi ingat jaman perang kemerdekaan RI dulu, ada istilah “ANJING NICA” yaitu orang Indonesia yang keblinger, minder thd Belanda, overacting dan sok sama bangsanya sendiri. Kalau dulu namanya anjing nica, sekarang namanya anjing apa ya?
+1
-1
asty 
mudah2an tidak ada kedubes indonesia di bom di luar begeri gara2 ke egoisan orang indonesia
+1
-1
ariz 
Memang sesungguhnya rasa nasionalis kita sedang diuji. Seberapa besar rasa nasionalis kita, seberapa besar jiwa kita sebagai bangsa indonesia.
Seharusnya kita berkaca kepada negara-negara yang berusaha mendapatkan kekuasaan dengan melakukan perang, dengan sesama saudara, satu wilayah, satu bangsa. hanya untuk menunjukkan rasa nasionalitas mereka terhadap negaranya.
Sekarang mari kita tunjukkan bahwa kita adalah penguasa di negara kita, kita adalah pengelola negara kita, kita membangaun pertahanan negara kita, dan kemerdekaan yang kita raih bukan hadiah dari penjajah!
Siapa mereka? siapa dia?
Karena aku adalah aku, bangsa kita adalah bangsa Indonesia, tanah air kita adalah Tanah Air INDONESIA. dan Bendera kita adalah Merah Putih.
+1
-1
Nugroho B 
Kalo “pelecehan harga diri bangsa” diukur dari pelanggaran ruang publik, saya simpulkan lebih banyak kita yang melecehkan bangsa sendiri. Lihat saja penyerobotan trotoar, bukan cuma oleh kaum pedagang, tapi juga oleh pemilik mobil-mobil mewah yang parkir sembarangan.
+1
-1
M. Suja'i Anhar
agh 
Setahu saya gak cuma di Kuningan. Di Grosvernor Square London, pihak Kedubes AS juga memblokir jalan di depan gedung Kedutaan. Untungnya itu merupakan square jadi ada banyak jalan alternatif. Memang satpam nya tidak sampai overacting seperti satpam Kedubes Aus. Btw, satpamnya orang Indonesia juga kan?
+1
-1
Anton 
Giliran gini nasionalis.
Mana nasionalisme anda2 semua terhadap pengaruh budaya arab (yang menyusup lewat gerakan islam radikal)? Mana nasionalisme anda ketika negara ini dilecehkan seenak sendiri oleh sekelompok preman berjubah, atau sekelompok orang yg ingin mengubah dasar negara?
Giliran kedutaan Australi aja langsung seperti ini. Kalau fasilitas umum dirusak gerombolan berjubah juga kalian diam saja. Itu fasilitas umum yang skalanya lebih besar lho, ketimbang secuil trotoar
Belum lagi mempertimbangkan impact kerusakannya terhadap bangsa ini.
Nasionalisme buta akan membuat bangsa ini semakin terlihat bodoh di mata dunia.
+1
-1
seseorang 
gimana nih tanggapan penulis dan nasionalismenya yang terusik?
udah ada penyelesaian belum, akhirnya? ^_^
+1
-1
Fadz 
Alhamdulillah, akhirnya saya lihat siang ini blokade itu akhirnya dibuka.
Cuma ada satu hal lagi nih yang menggelitik, kenapa yah satpam-satpam kedubes itu seragamnya mirip pasukan INTERFET yang dulu dikirim ke TIMTIM.
Kalo ga pake masker yang cuma memperlihatkan mata doank klo ga pake kacamata HITAM segede gaban.
Terkesan arogan dan tidak bersahabat.
Tanya Kenapa???
+1
-1
ekry 
mereka (aussie, uncle sam, atau siapa pun yg di’aman’kan secara khusus itu) tentu melakukan itu karena takut mati konyol oleh si ‘teroris’ yg berkeliaran di bumi pertiwi ini. menariknya, hubungan sebab akibat ini sangat terpelihara dengan baik dan lestari berkembang di negeri yg kita cintai ini. pertanyaannya sampai kapan kita mau dijajah oleh kepentingan2 asing itu? kapan kita mampu hidup tanpa ketergantungan berlebihan kepada mereka? wibawa dan harga diri dengan sendirinya akan kita miliki ketika kita berani berkata go to hell kepada mereka.. kita percaya, semua pemimpin kita sekarang geram dengan perilaku mereka, akan tetapi apa daya? geram dan amarah apalah artinya tanpa keberanian melawan. jangankan melawan, berkata tidak pun tak berani. mungkin ada baiknya kita belajar dari sejarah kita sendiri, belajar dari pendahulu2 kita bagaimana mereka mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yg disegani meskipun dalam usia kemerdekaan bangsa yg masih seumur jagung. katakanlah merdeka dengan penuh kesungguhan untuk menjadi merdeka. merdeka yg utuh…
+1
-1
rifkadejavu
mamamia 
lagi sensi nih ye…..kewaspadaan Kedubes Australi udh jangan di protes lagi deh…yg bikin kacau teroris kita semua yg kena akibatnya….kendalikan diri bung….jangan sensi
+1
-1
semendawai 
tulisan yang bagus plus komentar/tanggapannya juga bagus2, tapi aku mau jawab tulisan sdr sutarmo no. urut 37.HANYA SATU JAWABANNYA DEPLU KITA TERMASUK DUBES2 KITA YANG DILUAR SONO SELAMA INI ” MELEMPEM ” LIHAT AJA SAAT TSUNAMI ACEH, TIMOR TIMUR, HUTAN KALIMANTAN, LAUT NELAYAN HANYA DALAM WAKTU SINGKAT TAU2 MEREKA SUDAH ADA DISEKITAR KITA BEGITU MUDAHNYA MEREKA MASUK WILAYAH KEDAULATAN KITA, LALU APA REAKSI INSTANSI YG BERWENANG (DEPLU), COBA SEKALI KALI UNJUK GIGI PESONA NONGRATAKAN MEREKA, tapi mungking ibaratnya kita ini atau anda berani gak marah pada orang yg ngasih utangan, kembalilah pada ajaran soekarno BERDIKARI AGAR KITA BISA MENGATAKAN “TIDAK”
+1
-1
Bagus Saragih 
dari info ini, saya pantau di lapangan dan ternyata memang benar…
Sudah saya tulis dan ini hasilnya,
http://www.thejakartapost.com/news/2009/09/08/passersby-complain-about-bag-check.html
saya belum tahu apakah ada perubahan setelah tulisan ini terbit?
Yang cukup menggelitik, saya sempat berdebat dengan Satpam Australian embassy itu tentang mengapa kita orang Indonesia di areal publik kita sendiri harus diatur2 oleh bangsa asing. Dia menjawab: “Ini masuk areal kedubes, Pak.” Saya jawab lagi, “Lantas mengapa setiap orang yg lewat tidak perlu pakai paspor”.
Lalu dia membalas lagi dengan argumen2 yg sepertinya dicekoki oleh komandannya, sampai pada akhirnya dia naik pitam dan mengatakan “Bapak tidak usah mancing2 deh, ini bulan puasa.”
Saya berusaha untuk tidak terpancing, setelah saya katakan saya wartawan, sy sampaikan kepada dia, “Kita kan orang Indonesia, bos, wajar kalo kita terusik lha wong ini hak kita.”
Karna sudah menunjukkan ID Pers saya, saya pun minta ijin untuk memotret orang yang sedang diperiksa tasnya. Lagi-lagi saya dilarang. “Lho ini kan areal publik, kenapa saya tidak boleh ambil gambar?”
Saya berusaha melunak. “Ok, dari median jalan ya, itu sudah jelas2 wilayah publik, masa mau dilarang juga?” Ternyata memang dilarang juga dan dia sampai harus membwa rekannya untuk berdebat dengan saya.
Mereka minta KTP saya, ok. ID Card, ok. Semua detil dalam identitas saya dicatatnya. Sampai kamera CCTV mengikuti terus arah saya bergerak. Saya tidak habis pikir, ini saya kayak bukan di negara saya sendiri.
Oke lah, saya bersabar. Para satpam itu toh hanya melaksanakan perintah komandannya, kasihan juga kalo sampai dia dipecat.
Lalu saya inisiatif untuk meminta pendapat jubir kedubes. Dan apa jawaban mereka? “Maaf ya, kami tidak bisa komentar untuk soal sekuriti.”
+1
-1

Information of Power dalam Amar Makruf Nahi Mungkar
http://public.kompasiana.com/2009/09/12/information-of-power-dalam-amar-makruf-nahi-mungkar/
Perahu Nelayan Kita Digranati Australia Pemerintah Diam Saja, Warga Australia Kena Bom Pemerintah …
http://public.kompasiana.com/2009/09/12/perahu-nelayan-kita-digranati-australia-pemerintah-diam-saja-warga-australia-kena-bom-pemerintah/#comment-85591
+1
-1
Fadz 
Terimakasih atas tanggapan dan actionnya bang Bagus Saragih, mohon ijin, tulisan Anda saya copas juga kesini :
Passersby complain about bag check
The Jakarta Post , Jakarta | Tue, 09/08/2009 12:29 PM | Headlines
A new security measure introduced by the Australian Embassy in Jakarta requiring people walking in front of the building to have their bags checked has led to several complaints from pedestrians.
“Excuse me, Sir. I have to check your bag,” said an Indonesian security guard to a pedestrian, who explained that he just wanted to walk past the embassy, not enter it.
“I understand Sir, but I still have to check your bag. This is our rule,” said the security officer, who claimed to work for a private security company hired by the Australian embassy.
Another pedestrian said the bag check was too much.
“As far as I am aware, the sidewalk comes under Indonesia’s jurisdiction. Why do the Australians control the people walking here?” he told The Jakarta Post.
Office employees working around the embassy have become used to the procedure, most likely due to the countless bag checks required to enter malls, government buildings or corporate centers across the city.
Aryo Bhawono, an employee from a nearby company, said he preferred using the pedestrian bridge to cross the street, avoid the embassy, then return to the other side.
“I’m sick of it *the security*. I feel like I am living in a war zone,” Aryo said.
On Sept. 9, 2004, a one-ton car bomb was detonated outside the Australian Embassy, killing nine people and wounding around 150. Noordin M. Top - the fugitive terrorist wanted over July’s hotel bombings - was named a suspect at the time.
A security guard at the embassy, who requested anonymity, said the policy was introduced about one month ago.
“It may have been due to the July twin bombings at the JW Marriott and Ritz-Carlton hotels,” he told the Post.
Despite past and recent terrorist attacks, the new measure still irked some in a rush for work.
“It cost me five important minutes, crucial when I am rushing for a deadline. They drive me crazy. Sometimes they open my bag, look inside, then leave it open,” Purborini, an office employee, told the Post.
Foreign Ministry spokesman Teuku Faizasyah said he was unaware of the new measure at the embassy.
“I don’t know whether the embassy has informed us about the bag check. However, we will definitely follow up this information with the Australian government as well as the Jakarta administration,” he told the Post. Teuku said the sidewalk came under Indonesia’s jurisdiction.
“Checking the bags of passing pedestrians may be too much. It could disturb pedestrians’ convenience,” he said.
When asked for comment, Australian Embassy spokesman Michael Kachel wrote in an email that the embassy could not comment publicly about internal security measures.
Following several bomb attacks in Indonesia, a number of other embassies have also beefed up their security measures. (bbs)
source : http://www.thejakartapost.com/news/2009/09/08/passersby-complain-about-bag-check.html
+1
-1
seseorang 
tulisan pak Bagus Saragih bagus juga ya… (sayang tidak menjadikan TS / pak Fadz yang bekerja percis disamping kedubes sbg narasumber, pasti tambah emosi, heheheh)
I like the part about being within Indonesian jurisdiction. and to top of it, they’re not even with the Indonesian police force, just some private security company - carrying lethal rifles around!!
now how uncomfortable would that be for the passerby?? is that even legal?
extra note for pak Bagus, you should know that aside from the bag inspection in the pedestal in front of their own building, there are also inspections in the nearby pedestarian bridge, a friend of mine was interrogated and asked for his ID - fairly distant from the-so-called Australian jurisdiction in Indonesia (happened before JW & Ritz bombing)
+1
-1

Saya pikir memang terlalu berlebihan, pemeriksaan pedestrian di luar jurisdiksi mereka, oleh penjaga lokal yang bersenjata. Apa hak mereka? Begitu tololkah pimpinan sekuriti di sana, sehingga dapat seenaknya memeriksa setiap orang yang lewat trotoar.
Kalau memang mereka trauma, apa yg harus mereka lakukan, ya pindah tempat.. Cari tempat baru di daerah yang masih memungkinkan memperoleh lahan yang luas di Depok atau Cikarang. Isolasi sendiri kedubesnya seketat-ketatnya…
+1
-1
Bagus Saragih 
Sayangnya Pak Fadz sudah saya coba kontak baik melalui email maupun YM tidak ada tanggapan, gapapa deh barangkali lagi sibuk, hehe..
Saya penasaran, apakah kini ada perubahan di sana? Kalau tidak berarti mereka memang benar2 angkuh..
Soal legal dan tak legal, our Foreign Ministry spokesman sudah confirmed bahwa hal itu berlebihan terlebih bukan oleh polisi, melainkan satpam dr perusahaan swasta. Sayangnya our officials hanya baru bicara, belum bernyali untuk bertindak tegas.
Thx for the note, Pak “seseorang”. Kemaren saya juga coba lewat jembatan penyeberangan itu, tapi tidak diperiksa kok. Mungkin hanya untuk orang2 yang “mirip teroris” kali yee, hahaha
Setuju usul Pak Ahmadnoor. Pindah aja deh kalo emang ngerasa kurang nyaman…
+1
-1
Guest User