Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Alindonisi

apa yang ada dalam hati akan saya katakan apa yang saya katakan akan saya lakukan

Mengapa Terjadi Konflik?

OPINI | 13 September 2009 | 14:36 Dibaca: 185   Komentar: 0   0

Pertanyaan itu bisa jadi merupakan pertanyaan setiap orang. Banyak pemimpin-pemimpin negara, organisasi-organisasi, para ilmuwan, ahli filsafat dsb. memperbincangkan dan memberikan solusi pemecahannya dari berbagai sudut pandang. Dalam hubungan internal seseorang sering mengucapkan pertanyaan ini meskipun dengan ungkapan berbeda yang disebut dengan masalah.

Konflik merupakan hal yang tak diharapkan meskipun sering dijumpai, dia menjadikan pertentangan, ketidakharmonisan, suatu keadaan yang jauh dari rasa damai. Sebagian orang berkata,”Konflik tak mungkin dihindari, karena manusia dilahirkan dalam kondisi yang berbeda jadi mustahil tak terjadi konflik”. Seorang lagi menambahkan, “Inilah kehidupan, tak selamanya akan terjadi kesamaan pendapat, yang penting adalah bagaimana supaya konflik tidak menjadi besar dan membahayakan penduduk bumi ini”. Sebagian besar masyarakat masih menganut pola ini, meski tidak selamanya konflik itu dapat diterima oleh mereka.

Namun apakah benar konflik tak dapat dihindari? Apakah benar konflik itu abadi yang tak kan habis? Jika jawabannya “ya”, akan muncul pertanyaan, “ Apakah kita hidup untuk menjalani konflik-konflik ini?” , tentu saja tidak! Konflik hanyalah bumbu yang membuat hidup lebih terasa, juga warna yang menjadikan hidup kita lebih indah. Tapi, tak semua konflik bisa membuat hidup lebih enak dan lebih indah. Sehingga tetaplah konflik tak boleh dibiarkan terus menjadi bagian hidup ini. Lalu pertanyaannya :
1. Mengapa terjadi konflik?
2. Apakah hal-hal yang dapat diusahakan untuk menghindari dan mengatasi konflik?

Tanpa bermaksud untuk menggurui. Sebagaimana telah kita ketahui kata-kata mempunyai maksud atau arti, dia juga bisa mewakili suatu perasaan, hasil pemikiran, atau ekspresi batin lainnya. Dengan demikian kita dapat mencoba menjawab dengan pendekatan arti atau maksud dari kata pokok yang digunakan, dalam hal ini adalah konflik, yang berarti:

1. Konflik = percekcokan, perselisihan, pertentangan (Kamus Bahasa Indonesia).
2. Konflik = bentrokan, friksi, konfrontasi, percekcokan, pergesekan, perpecahan, perselisihan, pertengkaran, pertikaian, sengketa, rivalitas, antagonisme, inkompatibilitas, paradoks, pertentangan (Kamus Thesaurus Bahasa Indonesia)
3. Konflik >< damai, kesatuan, kebersamaan, kesepahaman, akur, aman, harmoni, kompak, nyaman, rukun, syahdu, selamat, sakinah, sejahtera, tentram, kesesuaian, keselarasan, solid, padu, keserasian.

Atau dengan istilah lain, konflik adalah suatu keadaan berselisih, bertentangan atau keadaan yang tidak solid, tidak sepaham, tidak satu, tidak sama, tidak selaras dsb.

Lalu mengapa terjadi keadaan yang tidak selaras? Tentu saja karena adanya perbedaan.
Apa yang menimbulkan perbedaan? Adanya selisih, jarak, gap baik dalam pengertian, situasi hidup dll.
Mengapa ada gap? karena adanya proses pengidentifikasian, pengklasifikasian, penyortiran yang menimbulkan ilusi keterpisahan.

Dengan demikian konflik berawal dari :

Proses pengidentifikasian -> gap -> perbedaan -> ketidakselarasan -> konflik

Sehingga akar permasalahannya ada pada proses pengidentifikasian. Jika Anda bertanya,”Dimanakah adanya proses pengidentifikasian itu?”. Tentu saja ada pada diri manusia, lebih tepatnya pada pikiran manusia. Jika tidak ada manusia tidak akan ada konflik. Semua akan berjalan sesuai fitrahnya. Jadi pikiran manusialah yang memproduksi konflik itu sendiri!

Tapi, bukan berarti saya menyalahkan manusia (karena saya juga manusia, he…he…..), permasalahannya kemudian adalah bagaimana cara mengendalikan pikiran itu sendiri supaya tidak menimbulkan konflik. Salah satu alternatif jawabannya dapat dibaca pada artikel sebelumnya “Anda bukanlah Pikiran Anda”.

Jadi, apa yang dapat kita lakukan untuk dapat mencegah ataupun menyelesaikan suatu konflik?

Salah satunya adalah dengan tidak ‘melibatkan’ hal-hal yang memicu konflik ketika Anda sedang berhubungan dengan yang lain, baik untuk menghindari maupun menyelesaikan suatu konflik.

Apa saja hal-hal yang memicu konflik tersebut?

Semua hal yang bertolak belakang dengan sifat ketidakselarasan, persatuan, kekeluargaan, keharmonisan, persaudaraan, kesolidan, dan hal-hal yang berbeda dengan yang sebenarnya dan bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran. Hal ini bisa berupa : merasa paling benar, paling berkuasa, merasa paling penting, ingin dihargai, memberikan propaganda palsu, berlaku sombong, melihat dengan perspektif subjektif, tidak menunaikan hak dan kewajiban, takut sebelum bertindak dan hal-hal lain yang menutup hubungan yang sebenarnya.

Apakah hubungan yang sebenarnya itu?

Yaitu hubungan yang benar-benar sedang terjadi, bukan ilusi/ khayalan, bukan persepsi-persepsi kosong namun berdasarkan fakta yang sedang terjadi. Hubungan yang tidak tertutupi bayangan-bayangan di masa lampau ataupun harapan di masa yang akan datang, tetapi hubungan yang sedang dijalani sekarang, di waktu ini, momen ini, dengan segala situasi dan pemahaman yang pasti.

Hubungan yang sebenarnya diantara manusia adalah saudara, karena pada awalnya manusia berawal dari satu pasangan yang sama. Hubungan yang sesungguhnya dengan alam adalah dalam kedudukan yang sama karena kita dan alam sama-sama makhluk yang diciptakan Tuhan. Hubungan interpersonal manusia adalah sementara, yaitu badan yang dibatasi waktu, pikiran yang dibatasi informasi, kecuali jiwa yang menyimpan intuisi kehambaan.

Pada akhirnya hal yang paling baik untuk manusia dan alam berasal dari Tuhan Yang Maha Mengetahui segalanya, karena Dia-lah yang Maha Benar dan yang membuat kebenaran itu sendiri seperti menciptakan manusia dan alam ini.

Jika pertentangan tak pernah diharap, mengapa Engkau senang memulainya?
Padahal diri mampu mencegahnya
Jika damai ada dalam hatimu, mengapa Engkau mengingkarinya?
Padahal hati adalah kejujuranmu

Salam damai,

Indonisi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Kaesang: Anak Presiden Juga Blogger …

Listhia H Rahman | 7 jam lalu

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 9 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 12 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: