Kamis siang, TV One menayangkan tulisan bahwa gembong teroris “Noordin M Top dipastikan tewas”. Dengan memakai kata “dipastikan”, mungkin TV One merasa tidak perlu menaruh tanda tanya di ujung kalimat tersebut. Sebaliknya, tanda tanya berada di ujung kalimat “Noordin M Top tewas?” yang terpampang di breaking news Metro TV.
Sekitar pukul 14.00 lalu muncul berita bahwa juru bicara keluarga Noordin M Top di Malaysia mengakui sudah mendapat kabar kematian Noordin. Namun, mereka belum percaya dan menyatakan ingin menunggu hasil tes DNA.
Yang menarik kali ini bukan karena Noordin mati. Tetapi simpang siur informasi itu mengingatkan warga, pembaca, pamirsa TV, kembali ke situasi penggerebekan lalu, yang ternyata terbukti bohong, sensasional. Sehingga, tuduhannya waktu itu, TV hanya mengejar rating dengan mengorbankan dignity sebagai penyiar berita. Waktu itu bukan Noordin yang mati, melainkan “cuma” Ibrohim.
Aura pemberitaan Noordin mati kali ini lalu dirasakan menjadi berbeda. Tidak dengan rasa penuh antusias akibat adanya spektisisme masyarakat terhadap pemberitaan TV tadi itu. Auranya biasa-biasa saja. Bahkan sebagian pembaca mengungkapkan ungkapan meledek. Hal ini bisa kita lihat di Facebook atau Twitter.
Kalau dulu, orang akan bertanya dengan tingkat curiousity yang sangat tinggi tentang kematian Noordin. “Benar? mati?” begitulah kira-kira. Kalau sekarang, seandainya pun Noordin mati, orang hanya mengatakan, “oh akhirnya mati juga”.
Apalagi suasana hari-hari ini sudah suasana libur menjelang Lebaran, sehingga fokus masyarakat tidak ke berita, tetapi ke suasana bagaimana mereka bisa pulang kampung dengan cepat untuk mengejar Lebaran yang akan jatuh hari Minggu. Atau bagaimana mereka bisa berbelanja untuk melengkapi kepentingan berlebaran, apakah belanja pakaian atau makanan.
Wartawan Kompas sendiri sampai pukul 14.30 belum memiliki kepastian tentang kematian Noordin. Padahal keempat jenazah (termasuk mr x, yang konon kemungkinan adalah Noordin itu) sudah tiba di RS Polri Jakarta. Wartawan di lapangan menyatakan 90 persen Noordin mati. Tetapi mana ada kematian 90 persen. Kecuali Kapolri sudah menyatakan Noordin mati, maka ya itu berarti Noordin mati. (Tentu saya berharap Noordin mati saja, daripada hidup. Sebab, kalau hidup, lalu masuk bui, dan dibelain sehingga bisa keluar lagi, akhirnya ia akan balik lagi jadi teroris, seperti yang terjadi pada beberapa residivis teroris di sini)
Sekarang mari kita tunggu saja keterangan resmi Polri. Apakah “tokoh hitam” teroris terkutuk Noordin M Top itu benar-benar mati. Mudah-mudahan TV tidak lagi melakukan tindakan bodoh dan konyol, dengan secara lebih awal menentukan kematian Noordin M Top! Agak sulit kita menerima seandainya TV One melakukan kesalahan kedua!!!
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
