Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Muhammad Rajab

32 tahun yang lalu terhitung tahun ini, Dia terlahir dari keluarga yang hidupnya sederhana dan selengkapnya

Kebenaran : Kebohongan yang Dikalikan 1000

OPINI | 17 September 2009 | 18:39 Dibaca: 558   Komentar: 3   0

null

Muhammad Rajab

DALAM praktek demokrasi di Negara ini, kita menjalankan empat jenis Pemilihan Umum (Pemilu). Mulai dari Pemilu anggota legislatif, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, serta Pemilihan Kepala Desa. Dalam konstitusi, khusus untuk Pemilihan kepala desa belum dikategorikan sebagai Pemilihan Umum, walaupun secara tekhnis dan praktek antara Pemilihan kepala desa dan jenis pemilihan yang lainnya sama saja. Namun karena konstitusi tidak mengkategorikan demikian, maka kita mengikuti itu. Praktek demokrasi dalam masyarakat kita hari menjadi hal yang sangat familiar, bahkan setiap tahunnya digelar Pemilu. Pengenalan terhadap dasar dan prinsip universal demokrasi masih itu bersifat struktural, dalam artian selesai proses Pemilu selesailah aktifitas demokrasi. Padahal demokrasi harus memberi warna yang dominan dalam setiap kehidupan, baik bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Di tahun 2009 ini, ada beberapa tempat di Negara ini yang melaksanakan Pemilihan sebanyak tiga kali. Dua pemilu yang berskala nasional yaitu Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, dan satu Pemilihan kepala desa. Bahkan tahun depan, tahun 2010 beberapa provinsi dan kabupaten/kota akan melaksanakan Pilkada secara langsung untuk yang kedua kalinya. Dari proses ini melahirkan pengalaman dan pengetahuan baru bagi masyarakat dalam berdemokrasi.

Ada ironi dari praktek demokrasi yang bersifat struktural ini, bahwa jargon politik, janji-janji sampai pada kontrak politik hanya menjadi semacam alat semu untuk mendapatkan simpati dan suara dari rakyat. Ini terbukti di hampir semua pemilihan. Dalam ranah kampanye  sebelum pemilihan,  prilaku dan kata-kata Sang Kandidat mengesankan malaikat yang kirim oleh Tuhan untuk menyelamatkan ummat manusia. Dalam hal prilaku misalnya, seorang calon tidak tanggung-tanggung menyulap diri menjadi yang sangat sopan, santun dan baik terhadap setiap orang yang dijumpainya. Hampir semua moment sosial dimana masyarakat berkumpul banyak akan disambangi untuk berjumpa dengan masyarakat dengan tujuan bersosialisai diri dan membangun citra bahwa prilakunya baik. Pengajian ramai diadakan, lalu sang calon dihadirkan. Pesta pengantin, acara aqiqah sampai sunnatan menjadi kegiatan yang wajib dihadiri oleh Sang Kandidat. Bahkan,  acara kematian yang sakral dan penuh duka menjadi ajang yang sangat bermanfaat untuk membangun kesan prilaku yang baik.

Dalam hal kata-kata, selalu terlontar dari bibir manis  Sang Kandidat akan janji-janji surga untuk diraih apabila ia memenangkan pertarungan merebut kekuasaan. Program pendidikan gratis, kesehatan gratis, memberantas korupsi, dan semua hal yang bisa menarik simpati rakyat dilontarkan. Poster, Spanduk dan baligho yang berisi foto Sang Kandidat, foto yang juga sudah disulap menjadi yang cakep, ganteng, cantik dan religius. Walaupun faktanya terkadang berbanding terbalik dengan itu semua. Di samping foto Sang Kandidat dilekatkan kata-kata yang bisa membius perhatian dan ingatan masyarakat yang membacanya.

Inilah fakta yang tersaji dari setiap proses demokrasi yang kita jalankan. Lantas, dalam konteks demokrasi, Apakah salah yang dilakukan oleh Sang Kandidat?  Bagi saya, itu absah saja untuk dilakukan. Namun yang menjadi masalah kemudian adalah ketika prilaku baik yang dilakonkan oleh Sang kandidat berhenti hanya ketika masa kampanye berlangsung. Semestinya, apakah Sang Kandidat kalah atau menang tetap harus dipertahankan. Tak jarang setelah pemilihan,  prilaku baik yang semestinya dipertahankan berubah 180 derajat. Kalau yang kalah mungkin bisa dimengerti, tapi kalau yang menang?
Dalam area kompetisi merebut kekuasaan janji-janji dan program yang didedahkan kepada konstituen pemilih merupakan hal yang wajar dan lumrah. Visi, misi dan Program Sang Kandidiat adalah wajib sebagai pedoman menyusun strategi pembangunan ketika merebut kekuasaan. Bahkan dalam konstitusi disyaratkan adanya dokumen visi, misi, dan program masing-masing kandidat. Hal ini tidak berlaku di Pemilu Legislatif. Namun tak jarang juga kita menjumpai Sang Kandidat ketika sudah duduk di singgasana kekuasaan, lupa dengan janji-janji manis yang selama masa kampanye bertaburan dari bibir Sang Kandidat.

Pada saat yang sama masyarakat yang menghadapi fakta ini tak kuasa untuk melawan arus  yang inkonsisten ini. Malah situasi seperti ini dianggap lumrah dan wajar. Makanya tidak mengherankan ketika berlangsung momen pemilihan, yang memenagkan pertarungan adalah Kandidat yang memiliki watak yang inkonsisten. Masyarakanya juga masih sangat mudah untuk dirayu dan ditipu dengan prilaku dan kata manis dari Sang Kandidat.Bahkan prilaku dan kata-kata dari Sang Kandidat dinggap sebagai referensi kebenaran. Koq bisa ya…? Ya, mungkin dalam konteks ini ada benarnya perkataan Hitler bahwa,  Kebenaran itu adalah Kebohongan yang dikalikan dengan seribu”.

Akhirul kalam, dalam sebuah perbincangan dengan teman saya, yang kebetulan merasa jengkel dengan Sang Kandidat yang ia dukung dan telah duduk di singgasana kekuasaan. Dia –teman saya-  mengubah jargon kampanyenya dari Berdiri diatas Perubahan, menjadi Berubah diatas Pendirian.

Allahu a’lam bisshowab.

Salam Kompasiana

Masamba, 18 September 2009

Muhammad Rajab

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 9 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 9 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 13 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 16 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

London in a Day on Foot …

Fillia Damai R | 8 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 8 jam lalu

Mengintip Sekelumit Catatan Umar Kayam …

G | 8 jam lalu

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 9 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: