Artikel

Umum

Redfajar

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

junk reader, music lover.

The Lost Symbol: Pak Brown ‘Loosing His Touch’-kah?


OPINI | 18 September 2009 | 14:54 Dibaca: 725   Komentar: 1   Nihil

Setelah heboh ditunggu sejak 4 tahun lalu, akhirnya sequel Da Vinci Code terbit juga pada 15 Sept lalu dengan dibarengi promosi besar-besaran di media massa.  Hype penerbitan the Lost Symbol inipun sampai ke Indonesia, dengan promosi berminggu-minggu sebelumnya di beberapa jaringan toko buku yang menawarkan potongan harga untuk calon pembeli yang rela melakukan pesanan dengan uang muka Rp 100 ribu.

Sebagai penggemar fiksi historical thriller yang marak sejak laku kerasnya Da Vinci Code, saya pun termasuk yang menanti terbitnya the Lost Symbol, sejak pertama kali issue tentang buku ini muncul sekitar tahun 2005.  Sayang ternyata penantian panjang ini tak berbuah memuaskan.  Dibanding prequel-nya (termasuk Angels & Demons), plot utama the Lost Symbol tidak terlalu mencekam.   Kisah tentang Freemasons yang ditawarkan Brown dibuku ini relatif datar dibanding dengan begitu eksplosifnya dia mengeksploitasi emosi dan keingintahuan kita tentang Knight of Templar, kaum illuminati, perpecahan mendasar diseputar sejarah Gereja Katolik, atau bahkan spekulasi-spekulasinya yang begitu menggoda tentang kisah kehidupan Jesus Kristus.

Pada karya terbarunya ini, Brown hanya menawarkan satu plot linier tentang balas dendam pribadi sang tokoh antagonis.  Tidak ada teori konspirasi besar yang disampirkan dalam kisah ini, dibanding dengan misalnya plot garis keturunan Jesus atau sejarah konflik sains vs agama seperti disajikan pada karya-karya sebelumnya.  The Lost Symbol akhirnya hanya berhenti sebagai sebuah novel thriller biasa.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: