Umum
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Saya seorang perantau, pekerja keras dan pembayar pajak yang setia untuk negara. Sering memikirkan untuk apa saya bernegara, untuk siapa saya bernegara dan kenapa saya harus bernegara. Juga kadang berpikir "apakah suatu bencana yang maha dahsyat akan terjadi jika tidak ada negara??"
Gusti Allah Ora Sare
Fadli Zulfadli
|  22 September 2009  |  14:41
795
5
Belum ada nilai.

Tidak salah jika kita mengakui bahwa salah satu kodrat manusia adalah pelupa, karena untuk kasus Indonesia kita menemukan kehadiran sifat pelupa ini dalam kadar yang amat mencolok. Secara berseloroh teman saya pernah mengungkapkan, bahwa untuk merayakan sifat pelupa ini perlu juga kiranya diciptakan sebuah lagu dengan judul lupa-lupa ingat. Yah, terlalu sering kita lupa syairnya dan hanya ingat kuncinya.

Jauh didalam hati kita sadar bahwa kita lebih mudah mengingat kunci (melodi) ketimbang syair. Kita akan segera teringat kejadian yang sama ketika terjadi sebuah bencana seperti pesawat jatuh dan gempa bumi. Kita akan gampang tersadarkan ketika mendengar kasus korupsi plus konspirasi apalagi jika dibumbui pula dengan kisah bom bunuh diri. Namun sesaat kemudian kita akan lupa syairnya, kita akan lupa teks-nya, kita merasa tidak perlu peduli akan pengungkapan cerita dan apa-apa yang terselubung dalam setiap peristiwa itu.

Media …, yah media dalam kehidupan kita sedikit banyaknya berperan dalam lakon lupa-lupa ingat ini. Media dengan begitu agresif membombardir kita dengan berita-berita bombastis yang dijejalkan lewat headline-headline tebal. Mereka berlomba-lomba menayangkan awal suatu cerita lalu dengan sengaja meninggalkan para pembaca. Sebelum suatu kisah tuntas, mereka dengan segera mengobral berita baru untuk menenggalamkan kabar seru yang baru saja berumur seminggu.

Tertarik saya bertanya kepada para konsumen media. Tahukah Anda bagaimana kabar lakon cerita Antasari dan Tragedi KPK saat ini. Tidakkah jadi pertanyaan bagi anda-anda semua, kenapa kisah penembakan Noordin M Top tiba-tiba menjadi anti klimaks, sangat kontradiktif dengan kisah penembakan Ibrohim. Kenapa semua media baik cetak dan elektronik sepakat mengemasnya hanya dalam sebuah tagline sederhana? Apakabar kisah-kisah kecurangan pilpres? Cukupkah kisah-kisah tersebut dikubur dengan dalih orang yang masih membicarakannya cukup dicap sebagai sang penebar fitnah yang tidak legowo.

Apakabar Situ Gintung? Apakabar Prita Mulyasari? Apakabar ratusan kisah-kisah penganiayaan, salah tangkap dan salah tembak oleh polisi di berbagai pelosok negeri?

Manusia Indonesia memang pelupa, mungkin akan terus begitu sepanjang masa. Tapi diatas itu semua, saya yakin bawah sadar kita masih merasa, bahwa Tuhan diatas sana tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur. Dia Maha Mengetahui tentang lakon lupa yang terjadi dibawah sana, entah karena benar-benar lupa atau karena dipaksa untuk lupa dan melupakan dengan sengaja.

Selamat Idul Fitri 1430 H.

Mari belajar memaafkan dan belajar untuk tidak melupakan.


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
22 September 2009 15:10
0

kalau pemerintahnya sendiri pelupa, rakyat mah ikutan wae, grasa-grusu malah supporter yg sewot bukan kepalang, he..he..

andre1
22 September 2009 17:13
0

Pada banyak yang lupa, kl gusti Alloh ora sare (kaga tidur) . . . . . .. . .

22 September 2009 21:48
0

Mas, sikap tabah dan pasrah itu memang baik. Tapi Gusti Allah juga tidak akan mengulurkan tangan pada orang yang tidak ikhtiar. Karena itulah kita perlu bengok-bengok disini, dan tulisan anda adalah sebagian dari yang sedang nggerundel itu, dengan bahasa yang halus.

Regim Bebal
22 September 2009 21:58
0

Rezim silih berganti, bebalnya tetap saja. saya jadi mikir, yg gugur demi negara puluhan bahkan ratusan ribu, tetapi kenapa yang diberi kesempatan oleh YME untuk umur panjang dan menjadi pejabat negara ada yang bekerja tak jujur dan tak tulus? golongan manakah mereka itu? Abdi negara atau pengkhianat ya?

23 September 2009 00:06
0

Untuk Bencana Alam yang mestinya dapat dihindari sendiri oleh Manusia, Gusti Allah tampaknya tetap berupaya meminimalisir kepunahan manusia, hewan karena bencana, misalnya Tsunami. Pada saat Tsunami, Gusti Allah telah menciptakan “basic instinc” binatang untuk menghindar, lari menjauh dari pantai.
Bagaimana dengan bencana dan penderitaan yang didatangkan oleh manusia? Yang dikuatirkan, ketika Gusti Allah mememelototi yang hendak melakukan bencana buatan manusia, seperti kelalaian memperbaiki Situ (Gintung), lalai mencegah kerusakan hutan, dan lalai-lalai yang lain, malah manusia mempolakan kejahatan, seperti white colar crime, korupsi, kejahatan lawan kemanusiaan, Gusti Allah selain menempatkan Nurani (sebagai suara bathin, ya suara Gusti Allah), tokh manusia nekat melakukannya.
Jadi, Gusti Allah ora Sare, tapi terhadap kejahatan yang direncanakan Manusia, Gusti Allah hanya mampu menyiapkan ganjaran akhir zaman, kalau ada.

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2009