Kompasiana
Selasa, 07 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Fadli Zulfadli

Tiga hal yang paling saya benci : Pajak, Pungli, Bunga Bank. Satu hal yang saya inginkan : Masyarakat mengelola pajak secara swadaya dengan nama "Sumbangan Negara". Biar transparan kalau perlu dikelola sama lembaga keuangan asing saja.

Gusti Allah Ora Sare

OPINI | 22 September 2009 | 14:41 901 5 Nihil

Tidak salah jika kita mengakui bahwa salah satu kodrat manusia adalah pelupa, karena untuk kasus Indonesia kita menemukan kehadiran sifat pelupa ini dalam kadar yang amat mencolok. Secara berseloroh teman saya pernah mengungkapkan, bahwa untuk merayakan sifat pelupa ini perlu juga kiranya diciptakan sebuah lagu dengan judul lupa-lupa ingat. Yah, terlalu sering kita lupa syairnya dan hanya ingat kuncinya.

Jauh didalam hati kita sadar bahwa kita lebih mudah mengingat kunci (melodi) ketimbang syair. Kita akan segera teringat kejadian yang sama ketika terjadi sebuah bencana seperti pesawat jatuh dan gempa bumi. Kita akan gampang tersadarkan ketika mendengar kasus korupsi plus konspirasi apalagi jika dibumbui pula dengan kisah bom bunuh diri. Namun sesaat kemudian kita akan lupa syairnya, kita akan lupa teks-nya, kita merasa tidak perlu peduli akan pengungkapan cerita dan apa-apa yang terselubung dalam setiap peristiwa itu.

Media …, yah media dalam kehidupan kita sedikit banyaknya berperan dalam lakon lupa-lupa ingat ini. Media dengan begitu agresif membombardir kita dengan berita-berita bombastis yang dijejalkan lewat headline-headline tebal. Mereka berlomba-lomba menayangkan awal suatu cerita lalu dengan sengaja meninggalkan para pembaca. Sebelum suatu kisah tuntas, mereka dengan segera mengobral berita baru untuk menenggalamkan kabar seru yang baru saja berumur seminggu.

Tertarik saya bertanya kepada para konsumen media. Tahukah Anda bagaimana kabar lakon cerita Antasari dan Tragedi KPK saat ini. Tidakkah jadi pertanyaan bagi anda-anda semua, kenapa kisah penembakan Noordin M Top tiba-tiba menjadi anti klimaks, sangat kontradiktif dengan kisah penembakan Ibrohim. Kenapa semua media baik cetak dan elektronik sepakat mengemasnya hanya dalam sebuah tagline sederhana? Apakabar kisah-kisah kecurangan pilpres? Cukupkah kisah-kisah tersebut dikubur dengan dalih orang yang masih membicarakannya cukup dicap sebagai sang penebar fitnah yang tidak legowo.

Apakabar Situ Gintung? Apakabar Prita Mulyasari? Apakabar ratusan kisah-kisah penganiayaan, salah tangkap dan salah tembak oleh polisi di berbagai pelosok negeri?

Manusia Indonesia memang pelupa, mungkin akan terus begitu sepanjang masa. Tapi diatas itu semua, saya yakin bawah sadar kita masih merasa, bahwa Tuhan diatas sana tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur. Dia Maha Mengetahui tentang lakon lupa yang terjadi dibawah sana, entah karena benar-benar lupa atau karena dipaksa untuk lupa dan melupakan dengan sengaja.

Selamat Idul Fitri 1430 H.

Mari belajar memaafkan dan belajar untuk tidak melupakan.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012