

Seperti yang telah saya duga, tulisan saya sebelumnya yang berjudul Mitos Mitos Sesat Majapahit, pasti akan menuai pro dan kontra. Pada kesempatan ini saya mau jujur, salah satu alasan saya menulis postingan tersebut adalah sebagai test case sebelum saya menulis postingan ini. Saya merasa perlu melakukan sebuah uji coba kecil sebelum memutuskan perlu tidaknya saya menulis tulisan ini.
Kenapa kita butuh Rekonsiliasi (Sosial)? Sebelum membahasnya saya akan kutipkan beberapa komentar dari tulisan saya sebelumnya :
Disadari atau tidak saya pikir kita perlu mengakui bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan kurang sehat pada diri kita sebagai bangsa Indonesia. Penyakit yang menyerupai kanker atau tumor kecil ini jika tidak kita obati dikawatirkan akan berkembang menjadi tumor ganas dan kanker kronis yang bisa membahayakan perjalanan bangsa kedepan. Riak-riak kecil dan indikasi minornya telah dapat kita saksikan pada pilpres lalu atau dalam skala yang lebih kecil bisa kita amati pada pilkada-pilkada di propinsi-propinsi multi etnik seperti Sumatera Utara, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.
Penyakit apakah itu? Saya menyebutnya sebagai bisul-bisul sejarah masa lalu yang pada zaman reformasi ini teraktualisasi dalam bentuk egoisme etnik dan fanatisme kedaerahan. Selama ini kita memang terbiasa didogma untuk membicarakan soal SARA. Bahkan menyinggungnya sedikit saja kita sudah teramat khawatir akan menggoncang pondasi bangsa ini yang sejatinya juga tidak terlalu kokoh.
Kita kemudian menjadi orang-orang munafik yang lain di mulut lain di hati. Kita masih membahas apa yang dinamakan SARA itu. Kita kitik-kitik SARA yang seksi ini dalam ruang-ruang keluarga, pada lelucon-lelucon kelas warung, pada pembahasan tentang pernikahan, pada diskusi-diskusi underground di komunitas sesuku dan di forum-forum tertutup. Kita demikian takut untuk membicarakannya terang-terangan karena segan dituduh memecah belah persatuan dan membahayakan negara.
Lalu sekonyong konyong ia muncul dalam bentuk pengharaman nama jalan Hayam Wuruk di Jawa Barat, ia muncul dalam bentuk konflik penduduk asli dan pendatang dari Jawa di tanah-tanah transmigrasi di Sumatera dan Sulawesi dan lebih tragis lagi ia muncul dalam spanduk-spanduk resmi kampanye pilpres. Lalu para orang munafik dengan jumawanya berkata, “lihatlah itu, orang yang tidak dewasa dalam berbangsa” atau “lihatlah itu, provokator yang memecah belah bangsa”
Untuk sementara, tindakan-tindakan seperti itu berhasil menjadi painkiller. Ia sukses meredam rasa nyeri penyakit bisul sejarah ini namun tidak untuk mengobatinya. Ia tidak bisa mencegah bisul itu untuk meletus kapan saja situasi memungkinkan.
Sebenarnya para pendiri bangsa kita telah menemukan obatnya pada tahun 1928. Obat itu bernama Sumpah Pemuda. Obat dengan petunjuk pemakaian berbangsa satu, berbahasa satu dan bertumpah darah satu ini lahir dari rasa senasib sepenanggungan, kesetaraan dan cita-cita yang luhur dan mulia untuk menatap masa depan. Disini tersirat semangat untuk membangun bangsa ini dari sesuatu yang baru dan ideal tanpa harus mengkait-kaitkan diri dengan sejarah monarki masa lalu. Disini adalah kumpulan manusia-manusia baru walaupun mereka datang dari latar belakang agama dan etnik yang berbeda-beda. Mereka demikian elegan pada saat itu. Kalau saja Jong Java dan Pemuda Pasundan masih membicarakan soal Perang Bubat dimasa itu tentu tidak akan pernah kita dengar apa yang namanya Sumpah Pemuda itu.
Namun apa yang terjadi pada masa Soeharto. Kita diperkenalkan lagi dengan Sumpah Palapa yang dicetuskan lebih dari 7 abad yang lalu. Sebuah sumpah untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara dalam hegemoni Majapahit. Nama Palapa tersebut malah disematkan pada satu-satunya Satelit Telekomunikasi resmi milik negara yang katanya ditujukan untuk mempersatukan bangsa. Kalau Soeharto seorang Indonesianis sejati yang menghargai kebhinnekaan dalam Pancasila yang disanjungnya itu, tentu alangkah lebih baik jika dia menamai satelit itu sebagai Satelit Sumpah Pemuda.
OK, sekarang untuk apa kita perlu repot-repot mengungkit ungkit sejarah yang kadang terasa menyakitkan itu? Janganlah buru-buru berprasangka buruk bahwa itu semua akan memecah belah kita. Membuka sejarah adalah pintu menuju rekonsiliasi dan memaafkan apa-apa yang pernah terjadi.
Ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa pada saat ini ada kecendrungan bangsa-bangsa untuk bersatu seperti Uni Eropa, Uni Afrika dan mungkin juga Uni Persia Raya (negara-negara Asia Tengah) dan cita-cita Khilafah, kita tidak harus malu dan takut. Justru dengan Rekonsiliasi kita akan lebih mudah untuk mencapai persatuan yang hakiki tersebut. Kita perlu membuka tabir-tabir kecurigaan dan prasangka untuk kemudian saling berislah dan menghidupkan lagi semangat Sumpah Pemuda. Kalau kita mau, bukan saja Indonesia yang tambah kokoh. Tidak tertutup kemungkinan jika suatu saat nanti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan Filipina Selatan akan bergabung menjadi suatu Uni Nusantara yang kokoh dan berpengaruh di dunia. Jika India bisa, kenapa kita tidak? Setidaknya saat ini kita telah mempunyai bahasa pemersatu yaitu Bahasa Indonesia. Bandingkan dengan India yang masih menganut 50 bahasa resmi disamping bahasa Inggris.
Jika Uni Eropa bisa kenapa kita tidak? Anda tentu tahu sejarah bangsa-bangsa di Eropa yang saling serang dan terlibat perang sesamanya selama ratusan tahun dan menelan puluhan juta korban jiwa. Kita tidak sampai separah itu. Sekarang dengan semangat rekonsiliasi dan cita-cita maju kedepan mereka bisa mewujudkan persatuan dalam kebhinnekaan itu setahap demi setahap. Jadi mengapa harus segan untuk Rekonsiliasi.
Ayo Indonesia, kamu bisa!
Yantie Tingan 
Saya setuju dengan tulisan anda. Indonesia pasti bisa. Tidak ada yang mustahil.
+1
-1
erri subakti 
Saya bangga dengan NKRI, namun bukan berarti mengesampingkan sejarah. Toh sebutan “Bangsa Indonesia” adalah bangsa yang imajiner. Bangsa yang tadinya tidak ada namun di’buat’ jadi ada oleh para “Founding Fathers” kita. Juga kita tidak perlu mengerdilkan Jawa, Sunda, Batak, Melayu, dll. dengan menyebutnya sebagai “suku”. Karena Jawa, Sunda, Melayu, dll. itu adalah bangsa2. Sehingga sebutan “Bangsa Indonesia” menjadi lebih besar karena bersatunya berbagai bangsa yang ada di nusantara ini. Peace…
+1
-1
bapaeogi 
Siapa bilang kita tidak separah Eropa ? tahun 65 an saja masih lebih dari sejuta rakyat Indonesia mati dalam proses berdirinya orde baru. Perang Permesta, RMS, DI TII dan belum lagi peperangan antar kerajaan di seluruh wilayah Nusantara. Perang Paderi antara kelompok Islam Imam Bonjol dengan kerajaan Minang, Perang Diponegoro yang melawan Kesultanan Mataram, Perang Arupalaka dengan Hasanudin, Kebelakang lagi perang Majapahit, Kediri vs Singosari, Mataram Hindu. Hanya mungkin belum tercatat sejarah tulis mungkin. Jadi secara manusiawi kita tidak lebih baik dari orang eropa kok, karena selalu menganggap diri kita baik, kadang kita lupa diri bahwa korupsi terbesar di dunia masih milik kita. Selamat berkarya.
+1
-1
Guest User