Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Msujaianhar

Ustadz Funky, Mahasiswa Pascasarjana UNJ Prodi Teknologi Pendidikan, Senang mengamati masalah sosial

Setan Menjerumuskan Orang Bodoh dengan Perbuatan, untuk Orang Pintar dengan Pernyataan dan Pikiran

OPINI | 26 September 2009 | 01:02 479 4 Nihil

Langkah setan dalam menyesatkan manusia bukan 1001, tapi tidak terhitung, seberapa banyak bentuk dan karakter manusia, dan seberapa banyak jumlah manusia, mungkin sebanyak itu pula setan menggunakan triknya untuk menyesatkan manusia.

Analogi yang paling sederhana adalah binatang buruan, binatang apa yang akan buru, maka cara untuk menangkap buruan tersebut dapat kita perhitungkan. Menangkap ikan, tidak selamanya pancing, bisa pakai jala atau pukat, menangkap tikus bisa menggunakan lem tikus atau perangkap tikus. Pendek kata, semua jenis perangkat atau alat untuk menangkap hewan buruan sangat bergantung terhadap apa yang akan diburu.

Begitu juga dengan setan, setan menyiapkan perangkap sederhana untuk orang bodoh, tidak perlu menggunakan cara yang berbelit-belit, karena keterbatasan “otak” manusia “bodoh”, maka perangkap yang setan buat pun sederhana. Hampir semua penyesatan setan untuk orang bodoh kasat mata, seperti mencuri, mabuk, berzina dan lain-lain yang sifatnya merugikan orang lain secara sepihak secara langsung maupun tidak langsung.

Untuk lebih menyederhanakan bahasa, setan hanya mengirimkan prajurit-prajurit bawahan untuk menggoda orang-orang bodoh, pen.

Bagaimana dengan orang pintar yang mempunyai ilmu pengetahuan banyak dan mempunyai pengaruh luas? Setan tidak sembarangan menggunakan trik dan strategi, termasuk mengirim pasukan untuk menggoda orang pintar. Minimal mengirim perwira menengah atau perwira tinggi, sehingga tingkat keahlian dalam menggoda dan mempengaruhi lebih ahli dan lebih halus. Tidak perlu kasat mata, namun mempunyai dampak yang luas dan dahsyat.

Setan memberikan bisikan-bisikan halus, seperti ungkapan “bahwa di kampung ini tidak ada yang lebih pintar dari kamu, jadi gak perlu dengerin pendapat orang lain”, sedikit tapi mematikan. Setan hembuskan ujub di hati para orang berilmu, orang lain tidak tahu, namun seluruh amal perbuatan itu menjadi sirna hitungan pahalanya. Jika di dalam hati, siapa yang tahu? Bahwa apa yang ia perbuat, ternyata bukan karena mengharapkan kebaikan dan ganjaran dari Allah, semua hanya menambah kesombongan di dalam dirinya.

Permainan yang tersembunyi di dalam hati, hanya dia dan Allah yang tahu, apakah suatu perbuatan betul-betul karena Allah atau bukan karena Allah. Masalahnya sederhana, namun meruntuhkan semua bangunan pahala yang ada, menjadi tidak bernilai sama sekali.
Jika sudah sering kali terjadi, mungkin akan sedikit keluar dalam bentuk pernyataan, bahwa semua orang salah, semua orang tidak memahami sudut pandangnya, semua orang terlalu bodoh untuk memahami apa yang ia pahami. Setan telah membalikkan hatinya, setan telah menghiasi hati dan otaknya dengan “memandang indah apa yang ia pikir”, dan akhirnya kesombongan menghiasi dirinya, bukankah sombong adalah syirik kecil, dan setiap perbuatan syirik tidak diampuni Allah.

Sadarilah, kesalahan orang bodoh hanya berdampak pada dirinya atau lingkungan kecil, sementara orang pintar mempunyai dampak yang lebih luas, bukan hanya keluarga, tapi masyarakat luas. Mari selalu berdoa kepada Allah seperti yang tercantum dalam Al-Quran “Ya Allah, aku berlindung dari godaan setan, dan aku berlindung dari kedatangannya”.

Semoga Allah menolong kita, Amin


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012