Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Linda

linda - TEMPO dan GATRA menempa saya untuk selalu jeli, kritis, menulis dengan jujur, dan bekerja keras. Hasilnya? Saya tidak tahu karena yang menilai tentu orang lain. Di KOMPASIANA ini saya sangat menghormati nama pemberian orang tua saya sehingga tidak perlu saya ganti dan palsukan, apalagi memalsukan wajah pada identitas diri. Blog pribadi saya, www.lindadjalil.com --- bila iseng, silakan mampir.

Teruskan Perjuanganmu, Icha, dengan Kemasan Secantik Wajahmu!

OPINI | 28 September 2009 | 13:13 1555 22 Nihil

Bukannya saya tidak sedih melihat begitu banyak tulisan Marissa Haque yang bernada emosi tinggi. Sejak setengah tahun lalu, sudah saya amati berkali-kali. Lebih sedih lagi saya membaca komentar banyak orang tentangnya. Icha yang manis dan berwajah bagai peri ( saya pernah melihatnya , saat sebelum menikah, ketika ia baru bangun tidur.. aduuuh… cantiknyaaaaaa….!! ), yang rajin sholat tepat waktu karena ibu Mieke Haque tak putus selalu mengingatkan ketiga daranya, serasa semua masih terbayang di pelupuk mata. Ayahnya yang ganteng dan berwibawa, membaca koran di teras rumahnya di kawasa Tebet, selalu ramah kepada tamu-tamu yang datang ke rumah itu. Ia juga sering mengantar Marissa syuting film, yang kadangkala Soraya ikut serta menontonnya.

Ketika Marissa melahirkan anaknya yang pertama, saya jugalah termasuk yang dihubungi pertama kali. Saya datang membawa kamera, memotretnya di kamar bayi yang necis. Lalu berita itu saya tampilkan di majalah Tempo. Kemudian saya hanya menyimak dari kejauhan, semua sepak terjangnya, salah satunya ia sekolah lagi. Ia juga pernah membuat film dengan segala perjuangan dan kegigihannya.

Melihat Marissa di podium gedung DPR setengah berteriak di sebelah Angelina Sondakh di tengah banyak orang , buat saya sungguh mengagetkan. Kenapa Icha jadi begitu? Lalu saya baca lagi berita, ia tak lagi di PDIP dan Taufik Kemas tidak mau tahu lagi tentangnya. Duh..!

Icha berkali-kali sms saya, dan saya berikan semangat sepanjang waktu lewat sms pula. Setelah itu tak pernah lagi saya mengikuti perkembangannya. Saat saya mulai bergabung di Kompasiana, saya senang ada Icha adikku di sana. Namun sayang sekali saya terkaget-kaget membaca segala macam jawabannya kepada banyak orang, apabila komentar dianggapnya tidak berkenan di hati. Saya betul-betul bergidik. Kenapa.. kenapa.. kenapa Marissa periku jadi galak begini??

Sebelumnya, kakak beradik ini ( Marissa, Soraya dan Shahnaz ) beserta suami masing-masing pernah berencana ingin main-main ke rumah saya, sembari bermusik dan mendengarkan lagu-lagu yang saya buat. Lalu saya bilang, saya sih senang saja, tapi kalau saya yang ke rumah kalian akan lebih seru karena perlengkapan musik yang komplit. Mereka setuju, ujar Shahnaz. Tapi kendala waktu membuat rencana itu tak kunjung datang sampai bertahun-tahun setelah itu. Sayang sekali.

Sekarang, rasanya saya ingin memeluk Marissa…. jangan galak-galak dong jeng. Di Kompasiana ini bukannya saya juga tidak pernah ‘kejedot-jedot’ nih kepala… apalagi dengan tanggapan banyak orang atas posting saya yang mungkin kurang berkenan bagi mereka. Ada yang sinis, ada yang setengah menghina. Semua saya terima apa adanya. Tidak saya sortir sekalipun, karena saya sadar betul rambut hitam boleh sama namun isi kepala bisa beda. Sekalian, saya ingin melatih mental untuk menghadapi banyak perbedaan di dalam kehidupan yang kita jalankan ini. Dan Icha, kita kan punya cara untuk menimpali berbagai perbedaan itu. Dengan tutur yang lebih halus, kalau perlu dengan rangkulan. Tak perlu dijadikan musuh.

Marissa yang kini berjilbab, kamu sekarang jauh lebih cantik lho ketimbang saat remaja dulu. Mungkin karena memang hidup yang amat berbahagia di samping Ikang suamimu yang sangat mencintaimu, anak-anak yang pandai, dan kehidupan yang boleh dikata mapan, membuat wajah wanita lebih berseri-seri di usianya yang semakin bertambah. Tentu saya berharap, semua dapat diimbangi dengan tutur kata lisan maupun tulisan yang hangat, bahasa hati yang menyentuh, dan penuh persahabatan.

Saya berharap sekali, semoga mulai hari ini tidak ada lagi orang yang berkomentar minor terhadap tulisan-tulisan Icha. Tentunya semua berpulang kepada diri kamu sendiri. Mbak Linda ingin melihat Icha yang cantik segalanya…..

Dan mohon bukan berarti saya tidak menghargai segala perjuanganmu melawan ketidakadilan di negeri yang memang kacau ini. Teruskan perjuanganmu, Icha. Sekali lagi, dengan kemasan yang cantik. Secantik wajahmu …. si peri yang saya lihat belasan tahun lalu saat kamu baru bangun tidur pagi dengan keindahan asli yang sumringah…..

Gelar Komentar Linda –> Rosiy untuk postingan Surat untuk Marissa Haque


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012