Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Prostitusi

OPINI | 30 September 2009 | 14:10 Dibaca: 1213   Komentar: 4   0

PROSTITUSI

Para pengamat masalah sosial, khususnya mengenai masalah prostitusi di Indonesia dalam hubunganya dengan makin berkembangnya kegiatan pariwisata di Daerah-daerah, agaknya mulai buka suara. Nada suara mereka adalah, begitu memperhatikannya masalah ini, khususnya pelacuran yang mulai melanda anak usia muda, kurang dari 18 tahun.

Bagaimana dengan praktek prostitusi yang ada di kabupaten Tolitoli yang berlokasi di belakang pertamina Belum lama ini saya membaca dikoran tentang Front Pembela Islam (FPI) Tolitoli yang memasukkan pernyataan sikap ke PEMDA tentang praktek prostitusi yang ada dibelakang pertamina itu harus ditiadakan ditenga kota karna dapat mempengaruhi komunitas mesyarakat serta kader-kader pemimpin masa depan, secara pribadi kami sangat sepakat yang di lakukan oleh FPI, karena itu akar permasalahan keterlambatan pembangunan daerah yang tampa kita sadari, tapi apakah FPI juga memikirkan tentang bagaimana nasib orang-orang yang melakukan hal-hal tersebut, karena tidak ada wanita yang mau badanya menjadi jelek karna harus dieksploitasikan, bisa jadi karna faktor ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Saya perna membaca buku yang ditulis Abraham Fanggidae, tentang Seorang anak perempuan yang telah jatu kedunia prostitusi, Ia mengatakan kepada petugas demikian : my body is bad, my soul is good. Inilah kenyataan yang memilukan dan tenga digeluti oleh banyak Negara didunia, termasuk di Indonesia bahkan sampai kedaerah-daerah.

Apa yang dikatakan anak tersebut dapat dimaklumi sebab sang anak berada dalam suatu kehidupan ekonomis keluarga yang pahit getir, Mungkin saja wanita cilik ini merelakan menjual tubuhnya, karna ingin membantu keluarganya dari kondisi yang memprihatinkan. suatu pikiran yang logis saja dari sebuah keluarga miskin. Jalan keluarganya tidak enak, namun itulah jalan termuda. Sang anak merasa perjuangannya dengan jiwa nurani yang suci sekalipun badanya menjadi jelek/rusak, karna badanya itu harus dieksploitasikan.

Paling tidak PEMDA harus menganalisis permasalahan praktek prostitusi ini, tidak semata-mata mengeluarkan kebijakan yang dapat merugikan orang banyak hanya untuk kepentingan kelompok dan ini menjadi PR seluruh OKP-OKP utamanya OKP yang bernuansa agamis.

ASRULLAH. AZIS
PENGURUS HMI CABANG TOLITOLI

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Heritage Kereta Api, Memadukan Bisnis …

Akhmad Sujadi | | 20 August 2014 | 08:31

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Kesadaran Berdaulat Berbuah Ketahanan dan …

Kusuma Wicitra | | 20 August 2014 | 12:38

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 8 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 9 jam lalu

Massa ke MK, Dukungan atau Tekanan Politis? …

Herulono Murtopo | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: