Umum
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil. from zero to hero. Tulisan yang lain bisa dilihat di http://bayureason.blogspot.com http://aktifisika.wordpress.com
Caleg dan Santri Muda
Bayu Sapta Hari
|  14 Oktober 2009  |  08:20
580
4
Belum ada nilai.

Kali ini Robi mendapat kesempatan mendampingi seorang caleg yang sedang kampanye untuk pemilihan umum legislatif. Walaupun tidak sedang kebagian jatah kampanye, sang caleg tetap memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk melakukan kampanye tidak resmi. Alasan yang digunakan adalah silaturahmi kepada konstituen. Alasan yang sangat umum dan bukan rahasia lagi.

Kali ini yang dijadikan tujuan silaturahmi adalah sebuah pondok pesantren yang cukup terkenal dengan reputasi yang tidak diragukan lagi dan memiliki jumlah santri yang banyak. Kunjungan ke pesantren diyakini oleh caleg ini sebagai salah satu cara untuk mencari dukungan dari ulama dan ustad-ustad dari pesantren itu yang cukup memiliki pengaruh di masyarakat. Waktu kampanye menjelang pemilu memang banyak dimanfaatkan oleh para kontestan pemilu, yaitu para caleg untuk menjadi tamu-tamu istimewa dadakan di pesantren-pesantren.

Para caleg ini mendadak menjadi lebih rajin sowan ke pesantren atau masjid-masjid yang dihuni banyak jamaah. Mereka menjadi terlihat lebih religius dengan penampilan yang lebih kalem dan relijius dengan dilengkapi dengan atribut-atribut keagamaan yang mencolok. Mereka juga tanpa sungkan-sungkan menyapa setiap pengunjung atau penghuni pesantren.

Bisa jadi itulah alasan yang jelas mengapa caleg beserta tim suksesnya dengan didampingi oleh Robi sebagai pengantar perlu bersilaturahmi ke pesantren. Kebetulan Robi dekat dengan pengurus pesantren ini. Jadi, tidak salah dijadikan penghubung dan pengantar antara rombongan caleg dengan pesantren.

Setelah melalui berbagai sambutan dan seremoni formalitas antara caleg dan pengurus pesantren. Robi mengajak Caleg tersebut untuk berkeliling menyapa penghuni pesantren.

Saat berkeliling itu, sang caleg mencoba beramah-tamah dengan penghuni pesantren. Kepada salah satu santri yang masih sangat muda, caleg itu mencoba berdialog.

“Adik belajar apa di sini?” tanya caleg kepada salah satu santri.

“Saya belajar Agama Islam dan belajar menghafal al-Quran, Pak,” jawab santri itu.

“Oh belajar menghafal al-Quran ya,” balas sang caleg. “Masih muda tapi sudah bisa membaca al-Quran dan menghafalkannya juga ya, hebat,” lanjut sang caleg.

“alhamdulillah, pak,” ujar santri itu dengan merendah

“Sudah banyak hafalan al-Qurannya, dik?” tanya caleg itu lagi kepada santri tadi.

“Alhamdulillah, sudah 30 juz, pak,” jawab santri tadi.

“Oh .. sudah 30 juz ya,” balas caleg itu dengan nada menggantung seperti ada yang belum dipahaminya. Sambil sedikit bingung, caleg itu kembali bertanya, “masih berapa juz lagi yang perlu dihafal dik.” Kali ini dengan ekspresi yang dibuat seyakin dan semantap mungkin untuk menutupi kekurang-mengertiannya.

Tetapi, santri yang ditanya justru lebih bingung lagi dan seperti tidak bisa mengatakan apa-apa.

Melihat keadaan itu, Robi mencoba menjelaskan sambil menahan senyum demi melihat sang caleg yang sepertinya sok tau.

kemudian Robi menjelaskan kepada sang caleg, “Pak, santri itu sudah hafal al-Quran. Jumlah juz dalam al-Quran kan 30 juz. Jadi, adik santri sudah hafal seluruh al-Quran. Sudah bisa disebut Hafiz (orang yang hafal al-Quran).”

“Oh .. gitu,” ujar sang Caleg dengan muka merah menahan malu demi mendengar penjelasan dari Robi.

Para santri dan orang-orang yang mendampingi sang caleg pun hanya bisa menahan tawa dan senyum melihat keadaan ini.

Robi beserta caleg dan rombongannya akhirnya pulang dengan membawa kesan mendalam dalam benak penghuni pesantren. “Makanya pak Caleg silaturahminya jangan cuma pas mau pemilu aja dong untuk kepentingan sesaat. Kalo mau ke pesantren sekalian belajar agama biar ga malu-maluin.” Demikian yang ada dalam benak penghuni pesantren.

Begitu juga dengan Robi. Dalam benak Robi berujar sambil tertawa dalam hati, “huahahaha. Rasain lo kena batunya … hahaha.”


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
haryo
14 Oktober 2009 09:08
0

ada tambahannya:
Caleg:”sesungguhnya orang yang berilmu lebih mulia dibandingkan dengan orang yang sholat tahajud siang-malam”.
Santri: Gdubraaaak…
Guyonan waktu jaman orde baru.

Babeh
14 Oktober 2009 09:09
0

Ha ha ha ha ha ha ha ha ha Begitulah gambaran caleg kita, di KTP tertera agamanya islam tapi gak pernah mengamalkan keislamannya sampe jumlah juz Al qur’an sendiri gak tau. Uch MEMALUKAN

14 Oktober 2009 09:20
0

ada juga caleg yang betrtanya kepada saya, apa artinya legislatif. masih ada. ada yang tak tak paham dia itu wilayah pomilihan berapa. ada yang tidak tahu kepanajangan PDIP partai yang mengusungnya. makanya harus ada buku piintar bagi caleg 2014. salam hangat

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2009