
pekerja keras dari lahir hingga sekarang, sangat benci dengan koruptor, pornografi, sedih dengan penerapan hukum di Indonesia yang masih acrakadut gak karuan.
Dibaca: 1774
Komentar: 15
Nihil
Tanggal 02 Oktober lalu pemerintah telah menetapkan sebagai hari Batik Nasional…, ada rasa bangga bahwa akhirnya batik diakui dunia sebagai salah satu budaya asli Indonesia, tetapi ternyata kebanggaan itu tidak berlangsung lama, saya menjadi ragu apakah benar bahwa batik asli Indonesia?? Bukan asli Malaysia?? Apa dasarnya bahwa batik itu memang asli Indonesia?? Ataukah kita hanya asal-asalan mengklaim bahwa batik adalah asli Indonesia?? Atau mungkin pula kita latah ikut-ikutan Malaysia yang suka mengklaim ini dan itu??
Di Negara kita terdapat berbagai macam jenis batik, ada batik kalimantan, batik Madura, batik Solo, Batik Pekalongan, Batik Tegal dsb. Semua mempunyai ciri khas sendiri-sendiri. Sungguh suatu kekayaan budaya yang bernilai tinggi. Yang menjadi pertanyaan apakah tingginya nilai budaya tersebut benar-benar kita hargai?? Jawabnya tidaaaakkkk.
Kita bisa melihat dalam kehidupan sehari-hari kita, berapa banyak orang yang mengenakan batik untuk beraktivitas?? Barapa banyak orang yang bangga mengenakan baju batik?? Jawabnya, sangat sedikit.
Marilah kita tengok disekeliling kita, ditempat kita bekerja, seberapa seringkah anda dan teman-teman anda memakai batik?? Saya yakin sebagian besar jawabannya adalah seminggu sekali, yaitu hari jum’at. Lalu coba kita tengok anak-anak kita, seberapa seringkah mereka memakai seragam batik untuk sekolah?? Jawabannya sama saja, seminggu sekali…, kita tengok lebih jauh dalam kehidupan kita, seberapa seringkah anda membeli baju batik untuk anda dan keluarga anda?? Berapa banyak baju batik yang anda koleksi di rumah?? Apakah itu mencerminkan bahwa anda betul-betul menghargai budaya sendiri??
Ada cerita menarik yang pernah saya alami, suatu saat perusahaan kami mengadakan gathering dengan para rekanan di hotel berbintang di kawasan kuningan yang seringkali dipakai menginap orang-orang bule, pada waktu itu dress code yang telah ditetapkan untuk panitia adalah stelan Jas warna gelap. Kebetulan di ruangan sebelahnya juga sedang diadakan gathering entah dari perusahaan mana dan kebetulan acara tersebut pada jam yang sama.
Tiba saatnya tamu-tamu berdatangan, seperti yang sudah saya duga sebelumnya, banyak sekali tamu yang datang mengenakan Jas dan hanya sedikit yang mengenakan batik. Dan yang menjadi tamparan saya dan teman-teman panitia adalah bahwa tamu di ruangan sebelah yang didominasi orang bule justru hampir semuanya mengenakan BATIKK!! Sejak saat itu setiap kami mengadakan acara, kami usahakan semaksimal mungkin menggunakan BATIK sebagai dress code. Lebih baik terlambat untuk mencintai budaya sendiri dari pada tidak ada usaha sama sekali untuk membuktikan bahwa kita benar-benar cinta budaya sendiri…
Kesadaran untuk memakai batik memang telah dicontohkan oleh presiden kita Bapak SBY dan akhirnya menular kepada para pembantu-pembantunya. Ini merupakan usaha yang bagus tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa kita benar-benar cinta budaya sendiri. Seharusnya pemerintah memberikan contoh yang lebih, misalkan dengan Mengganti Foto Presiden dan Wakil Presiden yang selama ini memakai Jas, diganti dengan pakaian BATIK.
Pelantikan Presiden dan wakil Presiden yang akan datang busana yang dikenakan adalah BATIK, termasuk untuk seluruh undangannya.. Semua jajaran pemerintahan dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi, Lembaga-2 tinggi negara, perusahaan-2, sekolah-2, diwajibkan memakai batik dari senin s/d kamis. Tidak seperti sekarang ini, Jajaran Pemerintah, Lembaga Tinggi Negara, Perusahaan, Sekolah memakai batik hanya sekali dalam seminggu memakai batik.
Kesadaran menghargai budaya sendiri akan menjadikan kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang mau menghargai karya sendiri. Seandainya kesadaran berBATIK sudah melekat pada diri bangsa ini, tidak akan terjadi lagi penghambur-hamburan uang hanya untuk mambeli Jas yang digunakan sekali untuk PELANTIKAN!!!
Semoga klaim bahwa batik adalah budaya asli Indonesia tidak menjadi bahan tertawaan bangsa lain karena rakyatnya sendiri tidak bangga memakainya.
Semoga bangsa kita menjadi bangsa besar yang mampu menghargai karya sendiri.