Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Taufik H. Mihardja

Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.

Reuni SMAN I Cimahi, Berjumpa Setelah 30 Tahun Berpisah!

REP | 19 October 2009 | 18:17 809 4 2 dari 3 Kompasianer menilai Menarik

Bastaman dan Heni

Bastaman dan Heni

Heni, begitu panggilan teman sebangku sewaktu di SMAN I Cimahi, tidak diketahui lagi rimbanya seusai lulus sekolah. Ia melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, seperti halnya juga saya. Sejak itu, yakni tahun 1980, kami tidak pernah berkomunikasi lagi, apalagi berjumpa. Hari Minggu 18/10/2009, teman cantik idolaku waktu SMA itu akhirnya hadir ketika acara reuni‚ Angkatan 80 SMAN I Cimahi sedang berlangsung. Ia membawa putrinya,  yang kira-kira seusia kami sewaktu kami berpisah dulu. Rentang waktu yang amat panjang. Berpisah setelah kelas III SMA, dan berjumpa lagi setelah Heni memiliki putri yang kelas III SMA juga. Tuhan maha baik, telah mempertemukan kami kembali. Itulah sepotong kebahagiaan saat kami ber-reuni di sebuah cafe, namanya Kedai Ceu Omah, yang terletak di Jalan Kolonel Masturi No 101, sekitar 500 meter setelah kuburan Sentiong, Cimahi. Cafe itu milik salah seorang alumnus 80 SMAN I juga.

Dari kiri, Nia, Zaenal, Sri, Bastaman, Rudi, Cecep, Tati, Taufik (penulis)

Dari kiri, Nia, Zaenal, Sri, Bastaman, Rudi, Cecep, Tati, Taufik (penulis). Kami adalah mantan kru Kelas III IPA3 SMAN I Cimahi. Saya sendiri terpilih menjadi alumnus dengan UBAN paling banyak… Juara Uban!

Saya cukup bersemangat untuk menghadiri reuni itu. Sudah lama saya tunggu momen ini. Hampir 30 tahun! Karena itu, meski resminya dimulai jam 11 siang, saya sudah tiba di lokasi pukul 10.30. Jadi saya termasuk dalam kelompok sedikit orang yang tiba di tempat secara dini. Enak juga datang duluan, karena bisa setiap saat mengamati siapa saja yang berdatangan, siapa saja yang turun dari mobil.

Yuke, Uke dan Rahmat di acara Reuni Angkatan 80 SMAN I Cimahi, Minggu 18 Oktober 2009

Yuke, Uke dan Rahmat di acara Reuni Angkatan 80 SMAN I Cimahi, Minggu 18 Oktober 2009

Suasana mulai ribut tatkala saya bertemu Uke, cewek kecil-manis dulu. Ia pacar temenku, namanya Rahmat. Dulu ia sangat lincah, menebar senyum indah kepada setiap temennya. Dulu ia pun terlihat seksi, tapi hari Minggu kemarin Uke memakai gaun muslim. Tampak anggun. Kecantikannya belum sirna. Matanya yang berbinar dan bulu matanya yang lentik, masih berbekas, mengingatkan raut wajah yang begitu segar di tahun 80 itu. Saya masih ingat, ada tahi lalat di bawah mata kirinya. Tak lama kemudian, datang Nia dan Tati, dua cewek temen sekelasku yang dulu berada di antara jajaran cewek-cewek “milik” dan kebanggaan kelas III IPA3. Nia masih tetap cerewet. Sama dengan yang dulu. Nggak berubah. Omongannya blak-blakan. Banyak ketawa-ketiwi. Wajahnya, seperti juga Tati, tetap cantik. Hanya bodinya besar, dan pipinya tampak tembem (maaf ya Nia dan Tati). Tapi keduanya tetap menarik. Nia menjadi istri seorang pejabat dan sekarang tinggal di Cirebon, sedangkan Tati (orangnya kalem) nikah dengan kakak kelas (SMA) dan sekarang tinggal di Jambi. Pada acara Minggu itu, Nia terpilih menjadi alumnus dengan pakaian paling rapi. (Bagi saya, siang itu Nia juga sebetulnya bisa dipilih sebagai alumnus paling cakep!!!)

Nia, alumnus paling rapi.

Nia, alumnus paling rapi.

Saya juga bertemu Rahmat, pacar Uke dulu. Orangnya kurus, tampak awet muda, dan wajahnya penuh senyum. Dulu, ia seorang playboy berat. Pacarnya banyak dan cantik-cantik. Bapaknya punya pabrik kue. Sekarang? Rahmat cerita ia punya GOR badminton. Katanya, kalau tidak badminton sehari, badannya meriang. Pantas ia tampak atletis dan awet muda. (Kamu dari dulu memang menarik untuk cewek-cewek). Saya juga bertemu teman-teman lainnya, seperti Cecep di mana aku kost gratis di rumah orang tuanya menjelang ujian akhir kelas III. Saya juga ketemu Rudi, sekarang ia dokter ahli bedah di Purwakarta. Namun sosok Rudi seperti layaknya pengusaha. Perutnya gede, jantungnya baru by-pass, tetapi ia masih tetap merokok. (Wah Rudi memang kamu jagoan).  Suasana sekarang sudah benar-benar hiruk pikuk. Ada sekitar 80 manusia (akhirnya nanti menjadi sekitar 100 orang). Semuanya ngobrol sana-sini, melepas kangen. Tertawa, berteriak. Saking chaosnya suasana, MC juga tidak bisa mengendalikan mereka. Bahkan teman-teman tampaknya seperti lupa makan siang, meskipun mereka akhirnya makan siang juga di lantai atas, setelah dipaksa MC berkali-kali. Memang pertemuan, ngobrol dan peluk sana, peluk sini, membuat kami nggak lapar, lupa makan.

Sri, juara kelas III IPA3. Top banget, pinternya minta ampun!

Sri, juara kelas III IPA3. Top banget, pinternya minta ampun!

Usai makan, kami yang datang dari kelas III IPA3 lalu berinisiatif berfoto bersama. Inisiatif ini diikuti oleh kelas-kelas lainnya. Tapi selama acara berlangsung, bahkan seusai sesi foto bersama itu, sebenarnya saya cukup gelisah karena ada satu cewek belum datang. Menurut panitia, dia sudah dihubungi dan berjanji akan datang, tetapi sampai sekarang kok belum datang. Zaenal, kawanku, salah satu anggota panitia, berusaha untuk menelepon dia. Namun nggak jadi. Kegelisahan itu akhirnya berakhir juga, setelah saya melihat seseorang berpakaian muslim, rapi sekali, dan dari kejauhan tampak wajahnya mirip Heni. Itulah dia. Saya turun tangga untuk mendekatnya, menyambutnya. Swear, wajahnya memang tidak berubah, hanya badannya sedikit gemuk, padahal dulu ia tampak kurus, dengan rambut lurus, jatuh sebatas bahu. Matanya yang sipit masih tampak sipit juga. Sama saja. Bibirnya yang tipis, masih tampak tipis juga. Dandanannya rapi. Itulah Heni, yang saya katakan tadi, membawa putrinya yang putih, tinggi, besar. “Ini Om, teman sebangku Mama,” kata saya ketika Heni memperkenalkan putrinya itu kepada saya. Berbeda dengan dulu yang begitu lincah tapi bernuansa “agak sombong” (meski orangnya tidak sombong), Heni yang kali ini tampak begitu anggun dan santun. Lemah lembut. Ia memanggil putrinya dengan intonasi suara yang penuh kasih sayang, Teteh. Ia memperkenalkannya kepada semua orang, terutama teman sekelas dulu. Kami lalu saling bertanya situasi masing-masing. Heni bercerita ia tinggal di Semarang, di Jalan Diponegoro no (…).

Kami yang berasal dari satu kelas, lalu memisahkan diri dari teman-temen kelas lain, dan atas inisiatif mantan ketua murid, Bastaman, kami berjanji untuk mengadakan pertemuan lagi. Paling tidak, merencanakan sesuatu untuk membantu kawan-kawan sekelas yang kurang beruntung. Mudah-mudahan saja janji ini kesampaian demi kebaikan bersama.

Usai makan siang, kami memilih ketua Ikatan Alumni Angkatan 80 SMAN I Cimahi. Bismarck, yang menjadi ketua panitia sementara, dipilih secara aklamasi menjadi ketua permanen untuk jangka waktu (belum ditentukan) … tahun. Dalam pidato “kenegaraannya”, Bismarck berjanji untuk membuat program-program yang bermanfaat bagi kemaslahatan warga alumni Angkatan 80.

Bismarck, Ketua Alumni Angkatan 80 SMAN I Cimahi (maaf Bis, fotonya agak kabur)

Bismarck, Ketua Alumni Tahun 80 SMAN I Cimahi (maaf Bis, fotonya agak kabur)

Menjelang magrib, kami bubar setelah penyelenggaraan doa oleh Herry, salah salah seorang alumni 80 yang menurut temen2, paling saleh. Ia memakai baju koko warna hitam, lengkap dengan peci, dan jenggotnya. Ia terpilih menjadi alumnus paling saleh. Ketika berdoa, suara Herry enak didengar. Ia memang menunjukkan sosok seorang kawan yang amat saleh itu. Mudah-mudahan doa kita untuk kesuksesan kita, kesehatan kita, serta kesembuhan temen2 yang sakit dikabulkan Allah YME. Amiiin.

Di akhir acara, lagu “Kemesraan” pun berkumandang. Dinyanyikan bersama, sambil saling bergandeng tangan. Dan, kami lalu bersalaman layaknya orang berhalal-bihalal. Cukup mengharukan juga. Di antara teman, ada juga yang meneteskan air mata. Kami saling mendoakan. Saling berpelukan seolah tak ingin berpisah.

Menjelang gelap, aku juga meninggalkan tempat reuni yang amat indah itu, menyetir mobilku sendiri, masuk tol, langsung menuju Jakarta. Mobil-mobil saling berkelebat di sisi kananku, seperti ingin kuabaikan. Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku memang dipenuhi rasa kebahagiaan tiada tara.

Oh, nikmatnya silaturahmi begitu nyata. Aku ingin benar-benar berterimakasih kapada Mu, ya Allah. Berilah kami kesehatan agar kami bisa meneruskan tali silaturahmi yang begitu indah ini!!!


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012