Saya sudah mengikuti kiprah kompasiana sedari awal Kang Pepih dkk berjuang untuk mengenalkan kompasiana ke khalayak. Pada awalnya saya agak sungkan bergabung di Kompasiana, karena di dalamnya banyak diisi para “maestro” di bidangnya masing-masing. Bagaimana seorang Marsekal TNI AU Purn. Chappy Hakim ngeblog dengan gaya khasnya, hingga Wakil Presiden periode lalu pun bergabung juga disini.
Saya berpikir, “kalo saya “nimbrung”, nanti tulisan saya siapa yang baca?” hehehe.
Tapi dari pengalaman saya bertemu dan memperhatikan para “aktivis” blogger di kompasiana, bukan masalah dibaca atau tidaknya tulisan kita. Tapi ini tentang sebuah keluarga. Ya, keluarga.
Saya perhatikan, yang hadir pada ghatering kompasiana itu sangat akrab satu sama lain. Padahal saya yakin, merekapun hanya berkomunikasi melalui dunia maya. Tapi ketika mereka bertemu, semuanya mencair. Sifat kekeluargaan yang diusung oleh “dedengkot” kompasiana patut diacungi jempol. Menjaga tali silaturahim antar sesama merupakan tonggak terwujudnya perdamaian dan kerukunan di masyarakat. Dan kompasiana sudah berhasil melakukannya.
Saya merasa cukup akrab dengan kompasiana, walaupun saya tidak memiliki akun (baru siang ini saya registrasi). Saya hanya seorang penikmat saja pada awalnya. Karena banyak referensi yang bisa saya gunakan sebagai pembelajaran saya secara pribadi, dan untuk berbagi bersama teman, dan itu semua saya dapatkan di Kompasiana.
Sungguh mencengangkan memang prestasi kompasiana. Bayangkan, hanya dalam kurun waktu 1 tahun, para pejuang kompasiana berhasil membawa kompasiana sampai ke tingkat seperti sekarang ini. SALUTE!!
Hari ini saya memutuskan untuk “nyebur” di Kompasiana. Mudah-mudahan tidak ada kata terlambat untuk bergabung di Kompasiana. Dan saya berharap bisa diterima dengan baik di “KELUARGA BESAR KOMPASIANA”.
JAYA TERUS KOMPASIANA!!
Bogor, 21 Oktober 2009
Salam,
Dicky Septriadi
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
