“Papa tidak kerja ?”, sebuah pertanyaan sering ditanyakan anak-anak saya, Raihan dan Nadya, beberapa waktu yang lalu. Sekarang, setelah diberi penjelasan, sekali-sekali mereka masih tanya juga. Ini memang sebuah situasi yang agak sulit menjelaskannya kepada anak-anak seperti mereka, yang mungkin belum memahami definisi dari “bekerja” itu sendiri.

Setiap hari kerja, pagi-pagi mereka terbiasa melihat para ayah di kompleks perumahan kami sudah pergi berangkat kerja, berpakaian kantoran, menyiapkan mobil, dan berangkat. Demikian juga dalam pergaulan mereka, mereka sering mendengar para papa teman-temannya bekerja dari pagi, lalu pulang sore atau malam. Sementara mereka melihat papa mereka ini pagi-pagi lebih sering masih berada di rumah. Kalaupun keluar rumah, lebih sering sudah siang dan juga sore. Bahkan sering juga tidak pergi ke mana-mana, alias di rumah seharian, dan justru mama yang keluar rumah pergi ngajar ke Universitas Trisakti.

Ini memang terkait dengan pola kerja saya. Sebagai konsultan atau dosen tidak tetap, saya memang tidak memiliki keharusan untuk selalu keluar rumah. Banyak pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah. Untuk hal ini, tentu saja saya perlu sebuah ruangan kerja di rumah yang suasananya seperti ruangan kantor, ini yang saya sebut workstation, berlokasi di lantai 2 rumah saya. Semua fasilitas kantoran ada di sini, telepon dan fax, koneksi internet unlimited 24/7 bahkan wi-fi, dan sebagainya. Bahkan jika perlu meeting, dan para pelaku meeting itu masih berlokasi di sekitar Cibubur, maka kita sering meeting di resto “The Dining” di Sport Club, atau “The Coffee Cafe”, atau paling jauh ke “StarBucks Coffee” di Cibubur Junction, hanya 20 menit dari rumah.

Kapan saya harus keluar rumah (terkait dengan pekerjaan) ? Pertama, kalau urusan konsultansi, seminar, atau workshop, bahkan jika mulai acara jam 8 pagi, pagi-pagi setelah subuh saya sudah keluar rumah. Bahkan jika kegiatannya di luar Jakarta, saya bisa berada di kota lain selama beberapa hari. Kedua, urusan mengajar di kampus, umumnya di kampus UI Salemba, dan ini juga termasuk jadwal bimbingan mahasiswa (saya hanya mengajar sekali seminggu). Ketiga, berbagai meeting yang dilaksanakan baik di sekitar Cibubur, maupun tidak. Keempat, berbagai undangan dari rekan atau kolega untuk lunch atau dinner, atau sekedar ngobrol saja, tetapi biasanya mengarah ke peluang kerjasama pekerjaan. Kelima, ini urusan sekolah atau penyelesaian studi S3 saya di IPB, misalnya mengunjungi nara sumber, atau ke kampus IPB, dan sebagainya. Urusan kedua, ketiga, keempat, dan kelima di atas umumnya saya jadwalkan agak siang, sehingga bisa berangkat agak siang dari rumah, dan terbebas dari kemacetan Jakarta di pagi hari.

Sementara itu kegiatan menulis laporan, menyiapkan bahan presentasi, bahan mengajar, memformulasikan solusi untuk klien, studi pustaka, korepondensi, lebih banyak saya lakukan dari rumah. Itulah sebabnya, saya sering berada di rumah, dan hal ini menimbulkan pertanyaan pada anak-anak saya.

Memang definisi “bekerja” sudah mulai mengalami pergeseran, termasuk definisi “kantor”. Secara tradisional, masyarakat (terutama) di perkotaan, mendefinisikan “bekerja” itu dengan pola berangkat dari rumah pagi-pagi dan kembali ke rumah di senja hari, dengan pakaian kerja yang rapi, dan lokasi “kantor” berada di luar rumah. Saat ini definisi kantor adalah suatu tempat di mana kita bisa saling bertukar informasi (information exchange) dan melakukan meeting untuk membuat keputusan (decision making).

Nah, definisi baru ini memiliki makna, kantor itu tidak lagi terikat lokasi dan waktu. Perkembangan dunia internet ikut memiliki andil dalam mengubah paradigma ini. Perkembangan internet membuat munculnya para mobile workers, yang memungkinkan sebagian dari pekerjaan manusia tidak lagi terikat dengan lokasi dan waktu, dengan kadar yang berbeda untuk setiap jenis pekerjaan.

Tetapi memang kondisi ini belum sepenuhnya dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat. Definisi bekerja dengan pola tradisional seperti di atas sering menjadi “role model“, salah satunya oleh anak-anak, karena melihat kecenderungan umum papa-papa teman-temannya. Akibatnya, saya dulu sering “dicurigai tidak bekerja” oleh anak-anak saya, dan mungkin berpikir papa mereka ini pengangguran … he he he .. )

Tetapi sekarang mereka sudah mulai memahami, bahwa ruang kerja papa mereka ada di rumah, sehingga sekarang mereka pola bertanyanya berubah, “Papa hari ini kerja di rumah atau di luar ?” … he he he .. )