
Lahir di Bogor, Besar di Bogor, Berkeliaran di Bandung, Panas-panasan di Jakarta.
Dibaca: 1057
Komentar: 6
1 dari 1 Kompasianer menilai Menghibur
Saya dan sahabat semasa SMA (Sekolah Menengah Atas) sering berandai-andai menjadi sekumpulan pejabat militer yang memiliki jabatan penting di posnya masing-masing. Komunikasi ala militer pun sering kami gunakan. Seperti halnya kata “Merapat”, “Siap Jenderal” dan “86?”.
Kami menyebut kesatuan kami dengan BRIGADE TERTINDAS, entah artinya apa, yang penting terdengar sangar. Selepas SMA, saya dan beberapa sahabat melanjutkan kuliah ke UNPAD (Universitas Padjajaran) dan ITB (Institut Teknologi Bandung) di kota kembang, Bandung. Sahabat yang lain masih berdomisili di Bogor dan melanjutkan kuliah di UI (Universitas Indonesia), IPB (Institut Pertanian Bogor) dan STAN (Sekolah Tinggi Akutansi Negara).
Komunikasi kami masih terjalin erat melalui media telepon seluler dan media online (kala itu masih era nya Friendster, Facebook belum setenar saat ini). Setiap bulannya, saya dan sahabat yang berkuliah di Bandung kadang menjadwalkan untuk “pulang kampung”. Sampai di Bogor, biasanya saya langsung ke rumah orang tua terlebih dahulu, melepas rindu. Malamnya, telepon seluler masing-masing dari kami pasti berbunyi berentetan dengan isi pesan seperti ini : “Jenderal, 86?” atau “86? Merapat kemana kita malem ini Jenderal?” Isi pesan di atas terlihat sangar dan bersifat elegan. Padahal, kami “merapat” alias berkumpul di tempat pecel lele pinggir jalan yang sesuai dengan kocek sebagian dari kami.
Kenapa sebagian? Karena ada beberapa sahabat saya yang berasal dari keluarga yang “sangat mampu” makan di tempat mewah yang berkelas. Tapi mereka “tidak menikmati” kebebasan makan di tempat mewah, menurutnya, makan di tempat murah dan sangat biasa dengan sahabat-sahabat yang dicintainyalah yang sangat dibutuhkannya. Kasian ya mereka? hehehe. Waktu berkumpul kami habiskan dengan gelak tawa yang memecah kesunyian malam. Saling membuka “aib” masing-masing ketika masih SMA merupakan senjata ampuh untuk saling “menyerang”. Kalau ada “Jenderal” yang punya pengalaman buruk dan berhubungan dengan dunia percintaan di masa SMA, sudahlah, tamat riwayatnya malam itu. Brigade Tertindas itu kejam Jenderal.
Di antara kami, saya, Armada dan Pai lah yang kediamannya cukup jauh dari pusat kota. Kami bertiga biasa disebut dengan “Jenderal dari 3 Penjuru Mata Angin”. Tapi saya tak perlu khawatir dengan moda transportasi untuk pulang ke rumah. Anggaran Alutsista Brigade Tertindas cukup memadai. Tak tanggung-tanggung, 3 buah mobil siap mengantar ke kediaman masing-masing. Eratnya persahabatan kami tak usah lagi dipertanyakan. Dari mulai adu argumen sampai “bergerilya” mendapatkan seorang pujaan hati sudah kami lewati. Tinggal mengirim pesan pendek (sms) berisi: “86? Para Jenderal mau ketemuan gak malem ini?”. Balasan pesan pun segera datang, “Di rumah. Ayo aja, tapi hujan boy euy boy. Lo 86?”. “Yaudah, gw masih di rumah ibu negara (pacar). Ntar sekalian lewat lw bareng gw aja!” “BERANGKATS!”
Bahasa komunikasi seperti di atas terus kami gunakan sampai beberapa di antara kami tamat kuliah dan kembali ke kampung halaman dan saya mulai mengadu nasib di Jakarta. Hingga suatu ketika, saya mendapatkan pengalaman yang berbeda mengenai pemahaman dari kalimat “86 Jenderal?”. Ketika itu saya kebetulan tertimpa musibah, dalam perjalanan ke kantor, saya melakukan pelanggaran lalu lintas di daerah Pasar Rebo, Jakarta. Saya menerobos lampu merah. Singkat kata saya ditilang, dengan dua dakwaan sekaligus. Pertama, menerobos lampu merah. Kedua, pajak kendaraan bermotor saya sudah jatuh tempo. Alhasil, saya pun telat sampai di kantor. Dan saya melapor kepada atasan bahwa saya mendapatkan musibah, ditilang. Dan saya mohon izin untuk absen esok harinya, karena harus mengikuti sidang tilang.
Semua prosedur sudah saya laksanakan, sampai akhirnya saya merasa dipermainkan dan sudah tidak tahan lagi menghadapi birokrasi sampah seperti itu. Atasan saya pun membantu saya dengan menghubungi langsung “anak buahnya”. Dan kemudian saya kembali lagi ke tempat semula dengan maksud baik. Tetapi ganjaran yang saya dapat tidak sesuai dengan ekspektasi saya. “Kamu mau ketemu siapa?”, tanya seorang petugas di situ. “Saya mau ketemu dengan Pak X!”, jawab saya. “Ada perlu apa kamu? Pak X gak ada di tempat!”, dengan raut wajah yang kebingungan. “Saya mau urus sidang tilang Pak….,” belum selesai saya bicara, petugas itupun langsung memotong. “Nanti saja kamu balik lagilah, gak jelas!”, gayanya meremehkan.
Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi “anak buah” atasan saya dan langsung memberikan telepon seluler saya kepada si petugas yang tadi. Dan sesuai dengan perkiraan saya, si petugas itu langsung berubah warna mukanya, pucat! “Siap dan!” jawab si petugas tersebut. “86 dan? Sudah saya siapkan sebenarnya daritadi! 86 dan?”, lanjut si petugas menjawab pertanyaan orang di ujung telepon sana. “86 dan? Langsung saya selesaikan sekarang juga, siap dan!”, setengah berteriak layaknya prajurit yang menjawab perintah komandannya dan mengembalikan telepon saya.
Dalam hati saya bingung, “Ini orang kok gak tau sopan santun sih! Masa Komandan sendiri ditanya sedang ada dimana? dengan volume suara yang tinggi. 86 dan? Berkali-kali pula.” Sampai rasa penasaran saya terobati ketika saya mulai menganalisis dan sedikit melakukan investigasi. Dan hasilnya ternyata : Arti dari kalimat “86 dan?” itu sebenarnya “Siap dan!”, menggunakan tanda baca “!” bukan “?”. Berarti arti dari “86?” bukan “dimana?” seperti yang kami anggap selama ini? Sesat! Arti sebenarnya dari “86″ adalah “Siap!”.
Dan akhirnya saya langsung mengadakan Sidang Paripurna dengan beberapa Jenderal di Brigade Tertindas, yakni Jend. Armada, Jend. Hardi, dan Jend. Brian dengan satu agenda pembahasan, bahwa pemahaman kami mengenai arti dari kalimat “86 Jenderal?” itu merupakan kesalahan fatal yang sudah berlangsung selama sekian tahun. Jenderal tanpa bintang ya begini nih jadinya. hehehehehehehe.
Jakarta, 20 Agustus 2009 (Jenderal) Dicky Septriadi dickstar’s blog