Artikel

Umum

Iwanwawo

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

yang pertama dan terakhir...

Sejarah Bukan Alasan Menciptakan Teror dan Kekerasan


OPINI | 02 November 2009 | 09:04 Dibaca: 187   Komentar: 1   Nihil

(Akibat Penafsiran Sejarah Terhadap kekerasan Saat Ini)
Sejarah adalah ”cerita” penuh dengan makna unutk hari ini dan esok yang akan segera datang.
Bagaimana Sejarah bisa membuat Dunia Manusia lebih baik ?. Cara pandanglah (perspektif) yang akan menentukan. Cara kita memandang sejarah itu sendiri sebagai nilai pembelajaran (hikmah) dan cara pandang kita terhadap Manusia dalam sebuah kesetaraan, tidak berbeda.
Klaim Kebenaran
Sejarah panjang yang ada dalam kehidupan manusia, adalah wacana perubahan yang seharusnya mampu menciptakan kondisi dan keadaan yang berarti dan lebih humanis untuk saat ini. Sejarah bukan ukuran untuk menilai kualitas dan nilai yang ada dalam hidup seorang manusia. Manusia dengan segala kebaikan dan kekurangan yang ada tetaplah seorang manusia dan dalam berbagai hal dan kasus, kita tidak bisa mengklaim siapa yang paling benar, jika kita tidak mengenal sesama kita, begitupun sebaliknya.
Ketika dunia tidak bisa keluar dari cerita kekerasan dan permusuhan, yang disebabkan oleh nilai-nilai sejarah yang disalah artikan, maka saat itu pula manusia meneruskan tradisi kekerasan dan kematian terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Saat ini, adalah saat dimana semua manusia harus memberikan kemampuannya untuk sebuah perdamaian global. Perdamaian adalah cara pandang dan sikap yang bisa mengubah sejarah kekerasan. Sikap seperti inilah yang harus digunakan. Sikap ini berpihak kepada sebuah KEHIDUPAN yang tak ternilai harganya baik oleh doktrin atau ideologi apapun.
Hidup sangat berharga, tidak akan berkurang karena masa lalu dalam bingkai sejarah, saat ini dalam kancah realita, dan masa depan dalam impian. Hidup untuk sebuah perdamaian adalah hidup untuk sebuah kehidupan, bukan hidup untuk sebuah ”kehancuran dan Kematian”.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: