Umum
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
seorang pemuda biasa nan bercerita akan kisah hidupnya di sebuah blog sederhana: http://grelovejogja.wordpress.com
Memberhalakan Cinta
Anggun Gunawan
|  9 November 2009  |  06:31
328
4
Belum ada nilai.

universalscraps.com

Masih melalui malam-malam resah. Menjelang tidur di bawah suasana gerah. Aku mencoba untuk memikirkan apa artinya cinta? Sebuah kata yang telah membius hampir seluruh orang di dunia. Sebuah kata yang membuat orang rela berkorban apa saja. Bahkan menjadi gila-terluka karena tak mampu meraihnya.

Ya, siapapun tak dapat menolak betapa hebatnya cinta membawa dunia dalam kejadian-kejadian heroik. Epik-epik romantis lagi tragis karena memperjuangkan cinta, mengisi lembaran-lembaran sejarah manusia. Baik dalam bentuk sastra maupun dalam narasi cerita.

Cinta melahirkan tawa. Cinta hadirkan derita. Persenyawaan sakit dan gembira telah membuat hati manusia mengharu biru. Kadang ia menjadi begitu baik karena hatinya diliputi oleh cinta. Kadang ia menjadi begitu beringas karena hatinya terlukai oleh cinta.

Namun, apakah cinta akan abadi selamanya? Hingga manusia diwajibkan untuk terus memperjuangkannya? Cinta meskipun bernuansa immateri, tapi dibelit oleh nafsu ragawi. Apakah bisa kita melepaskan cinta dari birahi, dan keinginan untuk memiliki?

Rasanya tidak. Cinta yang dianggap sakral itupun, tak bisa melepaskan dirinya dari aksi-aksi jasmaniah. Kehangatan tubuh dari kekasih tak bisa lepas dari pikiran orang yang saling mencintai. Apakah ada cinta tanpa sentuhan? Apakah ada cinta tanpa ciuman? Apakah ada cinta tanpa pergelumutan di ranjang?

Jika keluarga adalah bentuk maghligai yang dipuja-puja oleh orang-orang beragama dianggap sebagai puncak dari ekspresi cinta, maka semakin jelaslah bahwa cinta tak sekedar roh suci yang lepas dari materi. Ada permainan asrama yang melahirkan anak. Ada hubungan intim yang selalu dirindukan untuk dilakukan oleh suami-istri.

Agaknya dari kaca mata inilah kita bisa memahami ungkapan seorang psikoanalisis terkenal, Erich Fromm:

“Cinta adalah satu-satunya jawaban yang masuk akal dan memuaskan terhadap masalah keberadaan manusia”

Ya, karena cintalah manusia terus berkolaborasi untuk menghasilkan generasi demi generasi untuk “mengabadikan” spesiesnya di muka bumi. Cinta yang sarat dengan aspek biologislah yang membuat manusia masih hadir sampai saat ini.

Akhirnya memang kita tak dapat memungkiri, manusia tak bisa hidup tanpa cinta. Sebagaimana Enstein pernah berkata, “hanya cinta yang dapat memberikan semangat kehidupan“.

Tapi bagaimana dengan orang-orang yang terluka, trauma, kecewa dan merana karena cinta? Manusia-manusia sepi yang terhenti di tepi jurang, sebab jembatan cinta putus hingga membuatnya tak bisa berjalan ke seberang?

Entahlah, akupun masih mencari apa arti semua ini. Namun, dalam malam-malam resahku a timbul satu tanya, apakah cinta itu akan abadi selamanya???


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
9 November 2009 07:29
0

cinta adalah hal penuh misteri,,,

tulisannya bagus mas,,,

9 November 2009 | 18:01
0

makasi mas hendri..:)

eka
9 November 2009 07:53
0

“apakah cinta itu akan abadi selamanya???”
Cinta itu mencari bentuknya dalam mengisi relung-relung hati. Tergantung, pada komitmen yang demokratis yang akan bisa mengikis jamur-jamur egois yang menggerogoti logika tanpa harus dipahami lebih dalam. Maka cinta akan berumur lama, selama komitmen yang dilandasi rasa dari dua hati.

Jika “Cinta adalah satu-satunya jawaban yang masuk akal dan memuaskan terhadap masalah keberadaan manusia”, artinya kita tidak memberhalakan cinta.

Let love goes around as it … :-)

9 November 2009 | 18:02
0

he2.. setuju..:)

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Search:
IB: iB memiliki produk perbankan yang sangat...
Beri Handphone, Tumbuh Pohon: Daur ulang ponsel bekas untuk penghijauan lewat aksi tanam pohon.

Luangkan Waktu Libur untuk Tanah
Apa yang Anda lakukan di hari libur, khususnya Sabtu dan Minggu?
Copyright 2008 - 2009