Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Umum

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Dhian Endranu Isman

ESENSI CINTA; Gerak perlu enerji. sabar-syukur-ikhlas>>>pasrah berserah diri (total surrender/tawakal),hasilkan enerji bagi manusia, hasilkan "gerak" cahaya yang menuju CAHAYA ridhoNYA. Itulah jln yg lurus, dlm KEHENDAK sang maha berKEHENDAK dengan GERAK Maha CintaNYA. Faham ini, maka 'maunya diri' tune in dgn "KEHENDAK DIRI".

Islam Tidak Harus Identik dengan Semangat Pan-Arabisme

REP | 23 November 2009 | 17:59 567 2 Nihil

Saya tertusik dan sependapat dengan tulisan pada tautan dibawah ini;
http://forum.nu.or.id/viewtopic.php?f=5&t=28#p2586

Adalah realitas saat ini bahwa pengkultusan berdasarkan garis keturunan menimbulkan “vested of previlage”/ eksklusivitas.
Menurut pengetahuan saya yang dangkal ini, penyebab mulai pudarnya cahaya ‘wajah umat Islam’ justeru dimulai pasca berlalunya era para sahabat Rosulullah, digantikan dengan dinasti berselubung kekhalifahan bermuatan hawa nafsu kekuasaan dan duniawi, inilah awal ’spirit pan-Arabisme’. Islam tidak harus identik dengan Arab apalagi sebuah ke-dinasty-an.

Kudu juga di inget, mana yang ‘alat’ dan ‘mana yang ‘tujuan’?
Janganlah sembah syareat/materi…dinasti, itu cuma alat (yang penting) untuk beradab/amanah secara dzahir. Sementara hakekat itu alat supaya bisa ‘beradab’ secara batin karena ’sadar posisi’ agar ‘kenal’ diri ketika ‘bertemu’ DIRI.
Jadi keduanya tdk terpisahkan saat arungi kehidupan dunia yang padahal akhiratnya juga sedang berjalan seiring. Seperti hakekatnya (menurut saya lho!) dua kalimat syahadat; sepasang yang berujung pada makna SATU, ESA,…DIRI….TUHAN yang patut disembah!

Jadikan akhlak sholeh, budi pekerti yang luhur sebagai perekat persaudaraan sesama umat manusia utamanya sesama kaum Muslimin SEBAGAI AMANAH HORIZONTAL. Itulah bahasa universal seperti kata orang bijak; “dari s i k a p terjadi d i a l o g”.

Tapi memang dunia ini jadi sangat bising oleh sebab ‘d i a l o g antar komunitas hawa nafsu. Tapi disinilah terbuka “ladang amalan” utuk perbaikan kwalitas kehidupan insani, otomatis juga peringkat ke-hambaan (iman & taqwa) bagi kaum yang dalam segi waktu, beruntung karena bisa jaga ke”iqra”an-nya

(ref to QS. Al-’Ashr 103: 1~3 ).

Tapi ini mah kate saye….pan saye bukan pemegang otoritas ‘kebenaran’.
Wassalamualikum WrWb.

hiruk pikuknya proses dan dialog antar “daya”/enerji yang berujung pada penerimaan KEHENDAK.

Tulisan ini juga ada di catatan “fb” saya;
http://www.facebook.com/note.php?note_id=176693349274

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012