
Lahir di Bogor, Besar di Bogor, Berkeliaran di Bandung, Panas-panasan di Jakarta.
Dibaca: 498
Komentar: 0
1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik
Semua penggila tayangan sepak bola di layar kaca nasional pasti mengenal Dali Tahir. Dengan penampilan khasnya, rambut plontos, Dali Tahir sering muncul untuk memandu program tayangan sepakbola di televisi. Selain itu juga, Dali Tahir memangku jabatan strategis di PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) sebagai Ketua Komite Hubungan Luar Negeri.
Pertama kali saya melihat penampilan seorang Dali Tahir secara langsung sebagai Master of Ceremony adalah ketika acara peluncuran buku “Bapak Publik Kompasiana”, Pak Prayitno Ramelan. Dengan melempar joke-joke nya yang segar, Dali Tahir mampu “menyihir” suasana. Semua hadirin dibuatnya enggan beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Belum lagi, sang empunya acara pun sama gila nya dengan sang pemandu acara. Sungguh fantastis penampilan duet Dali Tahir dan Prayitno Ramelan kala itu dalam hati saya. Sakit perut saya ini dibuatnya. Sampai-sampai, Rosiana Silalahi, yang kala itu didaulat menjadi moderator pun berseloroh, “Ini acara peluncuran buku, atau acara srimulat?”. Dan para hadirin pun tertawa dengan lepasnya.
Singkat cerita, Pak Dali Tahir pun diminta untuk menjadi Master of Ceremony di acara peluncuran buku Pak Chappy Hakim pada 17 Agustus 2009, yang bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 62 tahun. Semua hal yang dibutuhkan sudah saya kirimkan kepada bapak Dali Tahir melalui surat elektronik (email). Beliau pun membalasnya dengan tutur bahasa yang sangat membumi. Tidak banyak cerita. Cukup beliau tulis di dalam email yang mengingatkan saya perihal profil singkat pengisi acara.
Esoknya kami bertatap muka di Airman Planet Lounge, The Sultan Hotel yang dipilih untuk menjadi tempat berlangsungnya acara launching kedua judul buku karya Pak Chappy. Dengan santainya Pak Dali mengajak saya dan Yesi (gitaris band) untuk duduk satu meja dengannya dan membahas mengenai susunan acara. Pembahasan singkat pun terjadi, dan pada saat itulah saya melihat profesionalisme seorang Master of Ceremony sekaliber Dali Tahir.
Sambil mengeluarkan sebungkus rokok kretek dari kantung kemeja batiknya, dia bilang, “Ngerokok dulu aja dick. Kita santai bentar..”. Namun saat itu saya melihat Pak Dali menghisap rokoknya seperti sedang memikirkan sesuatu. Dengan tatapannya yang menerawang, Saya yakin Pak Dali sedang memutar otaknya tentang bagaimana nanti ia membawakan acara. Dengan maksud tidak ingin mengganggu ritual sakral Pak Dali tersebut, saya langsung pamit pada Pak Dali untuk mengecek persiapan yang lain.
Pukul 10.00 WIB acara pun dimulai. Dia membuka acara dengan menyapa para tamu undangan yang telah hadir saat itu. Setelah Pak Chappy menyampaikan sambutannya, Mic pun kembali ke tangan Pak Dali.
“Para hadirin yang berbahagia. Pak Chappy ini sebenarnya kalah sama saya. Saya memperoleh Wing penerbang lebih dulu darinya!”, ujar Dali Tahir. Hadirin pun terdiam, karena masih belum mendapatkan inti dari ceritanya tersebut. (mungkin hadirin yang hadir agak segan! Karena yang diajak bercanda kan bintang empat!)
Ketika keadaan sedang sunyi-sesunyi-sunyinya, Pak Dali langsung menyambungnya, “Dan Cuma gara-gara wing itu doank saya bisa kalahin Pak Chappy, yang lainnya saya kalah semua!”.
Tanpa dikomando, para hadirin pun tertawa terbahak-bahak. Sungguh tak disangka. Ia melemparkan sebuah joke segar yang sangat saya tunggu-tunggu, dan joke itupun diluar dugaan saya, FRESH! Pantas saja, sebelum acara dimulai, Pak Dali bertanya kepada Pak Chappy mengenai kapan Pak Chappy memperoleh Wing Penerbang. Sebenarnya saya tidak terlalu menggubris obrolan ringan tersebut. Tapi justru pada saat itulah seorang Dali Tahir meramu joke nya dan dikemas secara sempurna untuk kemudian disajikan. Kebanyakan MC itu membawakan acara dengan kaku dan sangat tegang, apalagi kalau sang empunya acaranya seorang Pejabat. Dan terkadang ada MC yang melemparkan joke yang keterlaluan, tapi tidak lucu sama sekali, bencana sudah untuknya dan panitia. Tapi BEDA untuk MC sekaliber Dali Tahir!
Acara launching kedua judul buku Pak Chappy hari itu sukses. Dengan ditutup seremonial penyerahan buku kepada Pak Pradjoto dan tiup lilin bersama dengan Pak Agum Gumelar yang secara kebetulan sama-sama merayakan ulang tahun dengan Pak Chappy, yakni 17 Desember.
Dengan suara emas miliknya, Pak Dali Tahir pun menyanyikan tembang selamat ulang tahun bersama dengan Tantowi Yahya yang hadir pada saat itu.
SALUTE Dali Tahir!
Jakarta 23 Desember 2009