Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Joko Hendarto

Warga negara yang terus ingin belajar, dari Sumba NTT sekarang merantau ke Jakarta

Sepucut Surat Seorang Ayah untuk Anaknya….

OPINI | 17 January 2010 | 14:37 Dibaca: 573   Komentar: 7   1

Anakku, kata Iwan Fals, laki-laki kelak akan sendiri. Akan tiba saatnya dimana ia pergi dari rumah. Menjelajah tanah-tanah yang sunyi. Ia harus berani terasing. Sendiri ditengah rimba, mungkin savanna atau juga di antara gunung dan lembah. Tak lebih agar ia bisa menghidupkan mimpinya. Mungkin tentang hidup yang lebih baik. Atau bisa jadi karena berpetualang ke negeri-negeri yang jauh akan membuat mu menjadi satu dengan alam. Menjadi bagian dari bumi. Atau kata Pram, menjadi anak segala bangsa.

Hidup bukan tentang pilihan-pilihan yang biasa, anakku. Bukan tentang pilihan yang mudah dan sederhana. Terlebih karena kau laki-laki. Seorang laki-laki seperti yang pernah diajarkan moyang kita adalah mereka yang berani. Kau bisa lihat disekitarmu laut, dan coba kau lihat nelayan itu, ia seorang ayah yang berani. Ia berani bertarung dengan ganasnya ombak. Menantang maut. Tapi untuk apa? Tidak kah kau lihat bahwa pada wajah hitam legamnya, pada ototnya yang liat ada cinta disana. Cinta agar hidup anak-anaknya tetap terjaga. Adakah yang lebih besar dari semua itu.

Aku tak tahu apakah meninggalkanmu sendiri, saat kau sedang ranum-ranumnya menikmati masa kanak-kanakmu ke sebuah tempat yang jauh, juga adalah sebuah bentuk cinta. Di saat bocah-bocah yang lain, pada sebuah sore bersama ayah-ayah mereka sedang riang bermain bola di tanah lapang depan sana. Saling berkejaran di pantai. Membeli lolypop. Dan mata-mata mereka berkilat-kilat dengan takjub memandang ayahnya. Namun rasanya semua itu terasa mahal untuk kita.

Kalian lebih perkasa daripada ayahmu anakku. Lebih perkasa menanggung perpisahan itu setelah sekian lama. Sementara disini orang yang kau panggil ayah, tak kuasa menanggunggkan jarak. Hidup mungkin belum begitu adil bagi kita saat ini. Namun aku percaya anakku, kalian akan menjadi sepasang laki-laki yang kuat. Bukankah seorang laki-laki dikuatkan oleh kesulitan. Bukan kemewahan. Aku percaya kalian tidak akan pernah menjadi laki-laki yang cengeng. Kalian akan menjaga bundamu, menggantikan ayahmu yang akan pergi jauh. Mudah-mudahan kau akan menganggap itu juga karena cinta.

Saat menulis catatan kecil ini, 12 hari lagi aku akan pergi ke sebuah tempat dimana katanya matahari dan laut juga gunung berkawan dengan mesra. Pada sebuah savanna, kuda-kuda liar itu akan berlarian diantara perdu, dan bunga-bunga juga ilalangĀ  di padang. Aku akan datang kesebuah negeri yang mungkin asing dimana bintang begitu terang pada malam-malamnya yang sunyi. Aku akan menyimpan wajahmu disana. Diantara bintang-bintang itu. Agar jika aku rindu, aku tinggal datang di padang itu mencarimu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Jalanan Rusak Kabupaten Bogor Bikin …

Opi Novianto | | 19 December 2014 | 14:49

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 5 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: