Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Berthy B Rahawarin

berthy b rahawarin, aktivis.

Bandung Selatan: Saat Jatuhnya Malam dan Datang Banjir

OPINI | 19 February 2010 | 09:27 Dibaca: 439   Komentar: 3   1

Sang seniman kesohor Ismail Marzuki menulis bait puisi yang jadi syair lagu Bandung Selatan di Waktu Malam, amatlah mungkin di saat sinar bulan membawanya melampaui realitas hidup dan melampaui (self-transendence) keadaan dirinya. Itu tampak dari bait pertama dan terakhir puisi dalam lagunya:

Bandung Selatan di waktu malam
Berselubung sutra mega putih
Laksana Putri lenggang kencana

Duduk menanti datang kekasih ………….

(bait terakhir…)

Jauh terdengar suara nyanyian
Sungguh indah sinarnya rembulan
Riwayatnya tiada dilupakan

Laporan media tentang Bandung Selatan, teristimewa kawasan Baleendah dan Dayeuhkolot, sebagai banjir luapan Sungai Citarum sungguhlah memprihatinkan. Harian Kompas melaporkan, bahwa sejak tanggal 31 Januari 2010, atau hampir tiga pekan lalu, banjir telah menggenangi wilayah tersebut. Hingga hari ini (19/2/2010), genangan makin meluas.

Meskipun ada laporan banjir sedemikian parah, tampaknya mobilisasi bantuan kurang tampak terdengar sebagai berita bencana yang amat perlu mendapat perhatian. Padahal, setelah laporan di akhir Januari itu, menyusul laporan harian Kompas lainnya sepekan kemudian (Sabtu, 6/2/2010) bahwa, banjir di kabupaten Bandung, bagian selatan semakin menghebat dengan areal genangan yang kian meluas. Pemantauan hampir dua pekan lalu menunjukkan, bahwa banjir akibat curah hujan yang tinggi di kawasan hulu Citarum telah mengakibatkan terputusnya sejumlah jalan raya di kawasan Baleendah dan Dayeuhkolot. Salah satunya ruas Jalan Raya Banjaran-Dayeuhkolot terputus di sekitar jembatan Dayeuhkolot. Kemudian Jalan Raya Balendah-Rancamanyar dan Jalan Raya Cieunteung.

LIPI mengutip data Forum Geotek setahun lalu menyatakan, bahwa “Cuaca berawan tebal menutup hampir seluruh kawasan di Indonesia, terlebih di kawasan dataran tinggi sebagai akumulasi awan dari Samudra Hindia dan awan penguapan lokal (orografi). Tidek terkecuali Bandung, yang diikuti hujan berkepanjangan dan terjadinya genangan di kawasan laten banjir Dayeuh Kolot. Air terutama berasal dari aliran Citarik yang membawa air dari lereng Timur Laut Bandung serta Sungai Cisangkuy dari tangkapan hujan Pangalengan. Kita tahu benar kondisi tutupan lahan disana yang sudah habis-habisan dirambah menjadi kawasan yang memberi aliran permukaan dan erosi sangat tinggi. Dikhawatirkan segera menyusul kawasan Majalengka (Solokan Jeruk sudah menjadi genangan karena memang bekas rawa), yang mendapat air dari lereng tenggara. Peta banjir ini setiap tahun berubah namun selalu terjadi di kedua tempat hanya berubah luasan dan kedalaman serta lama genangan. Jadi sudah menjadi peristiwa laten.

Bila sudah terjadi setiap tahun, lantas apa usaha untuk mengurangi kerugian dan korbannya (pasti ada hewan yang mati). Bukankah bila berdampak kerugian, suatu kejadian (alam) menjadi dapat disebut sebagai suatu bencana. Bila memang laten, dampak negatif ini harus dihilangkan, minimal dikurangi dan bahkan menjadi sesuatu yang bisa diterima sebagai dampak positif, minimal tidak mengalami gangguan atau kerugian. Boleh jadi, yang sekarang dapat kita temukan di masyarakat yang kebanjiran, adanya sumbangan dari berbagai sumber, menjadi semacam berkah dan penghasilan tambahan bahkan menjadi bahan obyekan atau pendapatan bagi yang mendapat kewenangan pengaturan distribusinya. Tentunya bukan dampak seperti itu yang diiinginkan.

Berita banjir di Bandung Selatan mestinya dapat mengibangi isu Pansus Century, daripada isu lain yang diisukan sebagai mengalihkan Pansus Century. Tapi, daripada mendengar pernyataan fatalistis (pasrah) Wakil Gubernur Daerah tersebut yang mengatakan, bahwa banjir di Bandung Selatan “hanyalah Siklus tahunan”, simpati kita pada warga di Bandung Selatan bertambah dan mendendang bersama simpati dan solidaritas dalam hasrat seni Ismail Marzuki, Bandung Selatan di Waktu Malam, euy….

Bandung Selatan Di Waktu Malam
(Ismail Marzuki)

Bandung Selatan di waktu malam
Berselubung sutra mega putih
Laksana Putri lenggang kencana

Duduk menanti datang kekasih
Bandung Selatan di waktu malam
Dalam asuhan Dewi Purnama
Cantik mungil kesuma melati

Putri manja Ibunda Pertiwi
Terdengar suara seruling bambu
Gita malam yang merdu merayu
Diseling tembang suara Ibu
Tembang pusaka nan syahdu

Bandung Selatan di waktu malam
Jauh terdengar suara nyanyian
Sungguh indah sinarnya rembulan
Riwayatnya tiada dilupakan

Saudaraku, aku belum bisa melangkahkan kaki, solidaritasku mengidungkan empati itu…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 6 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Definisi Administrasi dan Supervisi …

Sukasmo Kasmo | 8 jam lalu

Kabinet: Ujian Pertama Jokowi …

Hans Jait | 8 jam lalu

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 8 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: