Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Felix Kusmanto

Seorang Managerial Psychologist, Mencoba berbagi pendapat saja. http://felixkusmanto.com/

Indonesia dan Gempa di Chile

HL | 01 March 2010 | 15:21 Dibaca: 373   Komentar: 32   8

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Gempa Cile dengan kekuatan 8,8 skala richter yang sempat membuat berbagai Negara sepanjang pasifik termasuk Australia, Filipina dan Jepang waspada akan prediksi tsunami adalah bukan hal baru bagi Negara Cile sendiri, Negara yang memang berdiri dan hidup di sepanjang daerah yang dikenal rawan oleh gempa. Pada tahun 1960 tercatat dalam sejarah, bahwa gempa lebih besar dengan kekuatan 9,5 skala richter pun pernah dialami oleh Negara Amerika latin ini.

Namun demikian rawannya ancaman gempa bukanlah membuat semangat Negara dan manusia Cile untuk mundur dan menyerah. Dan tentu bukan juga untuk membuat mereka berpikir dapat menaklukan alam. Melaikan menciptakan pola pikir bagaimana mereka dapat mengurangi dampak bencana alam, dalam hal ini gempa bumi.

Pemerintah, Rakyat dan Komitmen

Pola pikir diatas membuat Negara, pemerintah dan rakyat Cile menjadi siap. Siap dalam arti menghadapi gempa bumi. Kemampuan pemerintah dalam meresponse keadaan darurat secara berkelanjutan ditingkatkan. Kemudian ditambah kesiapan rakyat dalam melaksanakan prosedur penyelamatan diri dinilai efektif dalam mengurangi korban jiwa yang sangat besar.

Disamping response darurat pemerintah dan rakyat, hal lain yang dianggap mendukung adalah ketegasan dan ke konsistenan pemerintah Cile dalam menciptakan regulasi-regulasi dan pendidikan yang kiranya diperlukan untuk mengurangi dampak bencana.

Pemerintah Cile setelah gempa 1960 telah memberlakukan regulasi ketat standard kelayakan pendirian bangunan baru. stardard tinggi yang mengatur kekuatan agar setiap bangunan memiliki kontruksi yang tahan gempa. Bahkan regulasi diatas dimasukan menjadi sebuah undang-undang di Cile.

Rakyat Cile pun sadar, bahwa mereka perlu banyak pendidikan atau penyuluhan agar mereka siap dalam meresponse gempa. Pemerintah pun sekali lagi berperan menjawab kebutuhan rakyat. Sebagai contoh, dari tingkat dasar, sekolah-sekolah di Cile dengan rutin melakukan latihan gempa bagi para siswa-siswinya. Hal ini menciptakan kemampuan dan melatih warganya dari dini untuk meresponse terhadap gempa atau bencana lain.

Pemikiran yang “nyambung” dan konsisten ini yang menjadikan Negara Cile menjadi komunitas yang siap terhadap bencana gempa bumi.

Gempa Haiti, Bertolak Belakang Dengan Gempa Cile

Tidak seperti Negara karibia Haiti yang sama-sama di timpa bencana gempa (walau skalanya lebih kecil dari gempa Cile), namun dampaknya lebih besar berkali-kali dari Cile.

Menariknya dampak yang besar ini ada hubungannya dengan pemerintahan, rakyat dan komitmen mereka. Mengapa demikian?

Haiti yang dahulu menurut sejarah merupakan Negara terkaya di karibia kini telah menjadi Negara paling miskin dan tidak berkembang di wilayah karibia. Alhasil tingkat kriminal meningkat, kestabilan tidak terjamin.

Pemerintah sibuk fokus pada masalah lain, rakyat cenderung mencoba mengisi perut yang belum tentu terisi. Tidak terpikir akan bahayannya becana dan bagaimana untuk meresponnya. Oleh karena itu saat bencana tiba korban tidak dapat terbayangkan.

Lalu Posisi Indonesia?

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia yang juga dilalui oleh sirkum pasifik dan mediterania atau jejeran gunung berapi pasifik dan mediterania mempunyai ancaman yang sama dengan Cile atau pun Jepang. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah belajar? Belajar dari gempa? Tsunami? Tanah longsor? Dan lain lain?

Apakah pemerintah dan rakyat Indonesia sudah paham apa yang harus dilakukan saat bencana datang? Apakah sudah ada komitmen? Apakah ada regulasi semacam di Cile di Indonesia? Apakah anak-anak sekolah di daerah rawan bencana tau harus berbuat apa saat bencana tiba suatu saat?

Bagaimana proses di Padang setelah gempa padang tahun lalu. Apakah gedung-gedung disana sudah terstandard dengan baik?

Gumaman / Unek-Unek

Saya jadi flashback saat gempa Padang tahun lalu, dan saya juga sempat menulis di kompasiana tengan hal ini dengan judul “Belajar dari Gempa (Mau kah Kita?)

Kemudian gumaman saya sekarang ada tiga, 1regulasi pemerintah, 2Jenis bantuan dan 3Kita sebagai masyarakat.

“Regulasi Pemerintah

Ditulisan itu juga saya sempat menulis tentang bagaimana perlunya sebuah regulasi dari pemerintah setempat yang sadar bahwa daerah mereka adalah rawan bencana.

Jangan sampai saat gedung sudah ambruk, kemudian di bangunan buru-buru dengan fondasi yang sama, cara yang sama ,tanpa persiapan dan akhirnya ambruk lagi. Sayang.

“Jenis bantuan

Unek-unek mengenai jenis bantuan muncul saat mengetahui bahwa pemerintah Cile sampai saat ini belum membuka diri untuk menerima bantuan dari pihak luar.

“Bagaimana sebuah Negara yang dilanda bencana besar seperti Cile sampai detik ini, belum membuka diri untuk meminta bantuan dari Negara-negara lain?”

Saya melihat kebijakan Cile sebagai sebuah cara unik namun bijak. Mengapa?

Karena dengan kebijakan ini, pemerintah Cile dapat meredam bantuan yang terlalu banyak dan besar namun targetnya belum tahu siapa dan belum tentu barang yang dikirimkan dibutuhkan bagi rakyatnya.

Pemerintah Cile lebih berupaya melakukan semampunya dahulu, dan melakukan listing skala prioritas, bantuan apa saja yang benar-benar diperlukan. Sehingga alhasil, bantuan tidak terlalu menumpuk dan lebih tepat sasaran.

Saya pribadi jika boleh berkomentar mengenai pengadaan jenis bantuan saya akan menyarankan agar saat ada bencana pemerintah baiknya lebih fokus terhadap kebutuhan dasar masyarakat dan response darurat sedangkan bantuan luar lebih di fokuskan terhadap pembangunan infrastruktur.

Mengapa?

Karena jika kedua donor bantuan (Pemerintah lokal dan pihak asing) hanya fokus terhadap kebutuhan dasar masyarakat hal ini hanya akan membawa dampak jangka pendek atau short-term sehingga ada ke-kawatiran, bahwa saat bantuan telah berkurang atau berhenti, masyarakat akan bertanya “saya harus bagaimana? Makanannya mana? Bajunya mana? Bantuannya mana?”

Saat mereka dia harapkan untuk kembali beraktifitas dalam keadaan infrastruktur tidak memadai. Alhasil mereka akan kembali bingung dan berharap ada bantuan lain untuk datang menolong mereka. Beruntung saat bantuan datang lagi, jika tidak… ? kawatir-kawatir kehidupan masyarakat menjadi menurun bahkan menjadi jatuh miskin.

Namun dengan adanya pihak lain yang juga fokus terhadap pembangunan kembali infrastruktur maka dampak jangka panjang atau long-terim lebih terlihat. Sehingga saat bantuan kebutuhan dasar berkurang atau selesai, masyarakat dapat tetap beraktifitas dikarenakan semua infrastruktur telah kembali normal (contoh: Lahan pertanian, irigasi, rumah sakit, pasar dan lain-lain).

Kita sebagai masyarakat

Sadar bahwa negeri kita rawan akan bencana oleh karena itu kita perlu

1. Memberi masukan, Mendukung, Mengawasi, Membangun pemerintahan yang siap terhadap bencana.

2. Mendidik diri kita sendiri.

Ada sebuah pernyataan dari pihak luar yang sangat perlu kita pahami betapa rawannya negeri ini akan bencana dan kita sebagai bagian dari Negara ini perlu untuk mengambil tindakan dan peran aktif didalamnya. Tidak hanya pemerintah, tidak hanya rakyat. Tapi semua pihak

“Kurangnya infrastruktur, sistem peringatan yang masih terus disempurnakan dan ditingkatkan, dan seringnya konstruksi yang kurang baik di Sumatra seperti di sebagian besar Indonesia, mengakibatkan seismik dan gunung berapi di sana sering mengakibatkan lebih banyak kematian dan kerusakan daripada di lebih banyak negara-negara maju seperti Jepang yang mengalami kekuatan yang sama (gempa).

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 12 jam lalu

Haru Biru di Kompasianival 2014 …

Fey Down | 17 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 20 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 22 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51


HIGHLIGHT

Cerpen: Raja Pesulap …

Daniel A | 10 jam lalu

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | 10 jam lalu

Konflik TNI vs Polri: Ke mana Kita Harus …

Pembuat Tempe | 11 jam lalu

Pengalaman Perdana Naik Pesawat Garuda …

Ita Dk | 11 jam lalu

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: