
Dibaca: 58
Komentar: 1
Nihil
Gema hari kartini masih bergaung. Ibu-ibu serta anak-anak sekolah ikut serta menyemarakkannya. Banyak ulasan tentang Kartini, baik di media cetak ataupun elektronik. Ibu tua kuli gendong di pasar Bringharjo (juga di banyak pasar-pasar lain tentunya) mendapat penghargaan dengan disejajarkannya mereka dengan sosok kartini. Banyak kartini bermunculan pada bulan ini. Setiap perempuan yang dianggap berperan dan berjasa di bidangnya masing-masing, mereka disejajarkan dengan kartini.
Bagiku ada satu figur seseorang yang patut disejarkan dengan Kartini dalam hal semangat dan keinginan untuk maju. Beliau adalah ibuku. Ibuku bukanlah dari kalangan ndoro (ningrat). Pada masanya (menurut cerita orang tua) hanya orang-orang tertentu yang pergi sekolah, mereka adalah anak-anak para pejabat (minimal lurah) yang pergi ke sekolah. Hal itu bukan karena ada larangan (seperti pada jaman kartini), tapi lebih karena kondisi sosial. Sekolah belum di anggap sebagai kebutuhan. Ibuku juga tidak sekolah, tapi ia ingin maju. Maka ia belajar sendiri di rumah, Gurunya adalah kakekku. (saya tak tahu bagaimana kakek bisa baca tulis dan mengajar anaknya). Tak ada kurikulum, tak pakai program pembelajaran. Ibuku diajari kakekku membaca, menulis, berhitung. Walhasil, ibukupun bisa membaca, menulis, dan berhitung.
Saya pernah bertanya kepada ibuku, apakah pernah diceritakan tentang kartini? Katanya belum pernah. Jadi ibuku waktu itu tidak mengenal sosok pahlawan emansipasi, ibu kita Kartini. Dengan demikian, apa yang dilalukan ibuku (belajar) tidak terisnpirasi oleh perjuangan kartini. Tapi karena kesadaran dan semangat yang timbul dari dalam dirinya. Maka tak ada salahnya kalau saya bangga terhadap ibuku.
Bravo ibu!!! Bravo ibu kita Kartini!!!