Back to Kompasiana
Artikel

Umum

Mariska Lubis

Baru saja menyelesaikan buku “Wahai Pemimpin Bangsa!! Belajar Dari Seks, Dong!!!” yang diterbitkan oleh Grasindo selengkapnya

Surat untuk yang Tercinta

HL | 03 May 2010 | 17:05 Dibaca: 937   Komentar: 146   23

mybrownbaby.blogspot.com

Ada yang masih ingat dengan surat cinta yang pertama? Hehehe… Illustrasi: mybrownbaby.blogspot.com

Sekali lagi, saya ingin sekali mengajak semua untuk mengingat betapa indahnya menulis surat. Apalagi surat untuk yang tercinta. Memang sekarang sudah banyak sarana lain untuk mengungkapkan segala rasa, namun surat memiliki arti yang sangat berbeda. Surat dapat disimpan dan dijadikan kenangan sepanjang masa. Tidak akan pernah terhapus oleh waktu dan juga masa. Selalu ada dan tersimpan.

Sebuah perbedaan antara pria dan perempuan perihal masalah cara berkomunikasi yang seringkali menjadi masalah. Sudah banyak tangis dan air mata terurai hanya karena masalah yang satu ini. Memang sulit bila sama-sama tidak mau mencoba. Mungkin surat bisa menjadi salah satu sarana untuk menemukan titik temunya.

Sepucuk surat untuk yang tercinta dituliskan sebagai ungkapan rasa rindu kepada yang sangat dicintai sekaligus juga sebagai permintaan maaf. Biarpun mungkin surat ini tidaklah ada arti baginya. Bahkan mungkin tidak akan pernah dibaca olehnya. Biarlah surat ini hanya menjadi arti tersendiri bagi yang menuliskannya. Sebagai pengingat bahwa memang pada saat dituliskan, cinta dan rindu itu memang ada padanya. Begitu juga rasa bersalah dan penyesalan.

“Sayang,

Malam ini, saya sedang mencoba menikmati keindahan alam dan kota dari teras di lantai dua sebuah rumah kayu. Ditemani sedikit bintang namun tak ada bulan. Tertutup awan gelap dan kabut tebal. Udara dan angin terlalu dingin untuk bisa disambut. Lampu-lampu pun berpendar temaram. Mungkin ini yang disebut dengan keindahan yang syahdu.

Sama seperti rasa dalam hati yang sedang saya nikmati. Cinta dan rindu itu ada. Selalu ada dan ada selalu. Namun entah kenapa sepi dan sendiri juga mengiringi. Seperti ada yang hilang dan menjadi kosong di dalam sana. Saya bahagia dan juga sedih.

Bahagia karena memiliki cinta dan juga rindu. Sedih karena cinta dan rindu itu harus diselimuti kesadaran akan sebuah perbedaan. Ya, saya dan kamu memang berbeda. Meskipun perbedaan itulah yang membuat segalanya indah.

Tidak ada yang lain yang saya inginkan untuk saat ini selain bisa berbincang-bincang denganmu. Bicara dari hati ke hati seperti yang pernah kita lakukan. Paling tidak, dengarlah apa yang sedang ingin saya utarakan. Saya ingin sekali bercerita dan menceritakan semuanya.

Saya mengerti mungkin karena dirimu sedang sibuk dan tidak memiliki cukup waktu. Capek dan letih juga. Saya sangat bisa memakluminya. Namun entah kenapa saya merasa sepertinya dirimu juga bosan dengan semua cerita saya. Mungkin memang membosankan karena selalu saja begitu, ya?! Maafkan saya, ya, sayang.

Bagimu mungkin perbincangan bukanlah sesuatu yang juga bisa menjadikan bukti atas apa yang dinamakan cinta sesungguhnya. Bagi saya, bukan perbincanganlah yang menjadi bukti. Saya tidak pernah meminta dirimu untuk membuktikannya juga. Saya hanya ingin dirimu tahu semuanya saja. Saya berusaha agar dirimu lebih mengenal saya dan tahu saya lebih banyak lagi. Saya hanya ingin tidak ada kesalahpahaman di antara kita nantinya. Saya harus selalu jujur dan menceritakan semuanya.

Tidak pernah ada tempat untuk saya bisa bercerita panjang dan lebar tanpa ada beban ataupun tujuan selain dengan dirimu. Membuat pikiran dan rasa selalu menjadi tak karuan bila dirimu tidak ada. Mungkin saya terlalu berbahagia dengan dirimu sehingga saya tidak bisa menahan diri. Sekali lagi, maafkan saya, ya, sayang. Maafkan saya.

Biarlah semua seperti adanya saja. Saya tidak ingin juga memaksakan dirimu ataupun juga memaksakan diri saya. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik yang bisa saya berikan untukmu. Itupun bila dirimu mau menerimanya. Bila tidak pun, tidak mengapa.

Saya akan juga berusaha untuk tidak menjadi orang yang egois dan tidak banyak menuntut darimu. Sebaiknya saya menjadi saya seperti biasanya saja, tidak bioleh berlebihan. Menikmati semuanya agar tidak ada lagi sepi dan kosong itu. Biar yang tertinggal hanya cinta dan rindu dan juga dirimu apa adanya.

Janganlah pernah ragu ataupun segan bercerita apapun kepada saya. Susah atau senangmu adalah untuk saya juga. Biarlah saya selalu mendampingi dirimu dan membantumu semampu saya. Ini semua adalah kebahagiaan untuk saya juga.

Saya sangat mencintaimu dan sangat merindukanmu. Teramat sangat. Maafkan saya, ya!”

Lega pasti rasanya untuk yang menuliskan surat bila semuanya sudah tertuang lewat tulisan di dalam surat ini. Sedih dan air mata mungkin masih ada tetapi paling tidak ada sedikit rasa lega karena sudah mengungkapkan apa yang ada di dalam hati dan juga pikiran.

Bagaimana tanggapan surat ini, sepertinya tidak harus dipikirkan. Biarlah mengalir apa adanya. Tidak perlu ada harap dan juga mimpi. Biarkan hati yang bicara.

Semoga saja surat ini bisa membuat semua untuk bisa memulai menulis surat lagi dan juga menjadikan surat sebagai salah satu sarana untuk mengungkapkan segala rasa yang tersimpan di dalam hati dan pikiran.

Salam Kompasiana,

Mariska Lubis

Catatan:

Bila ingin mengikuti tips saya soal Love, Lust & Relationship, follow saya di the360love Twitter kerjasama saya dengan Durex… Hehehe… Bisa konsultasi juga, lho!!!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paser Baroe, Malioboronya Jakarta …

Nanang Diyanto | | 24 November 2014 | 14:09

Catatan Kompasianival: Lebih dari Sekadar …

Ratih Purnamasari | | 24 November 2014 | 13:17

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Pak Mendikbud: Guru Honorer Kerja Rodi, Guru …

Bang Nasr | | 24 November 2014 | 11:48

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 4 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 7 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 8 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Komunikasi Orang Tua dan Remaja Macet? …

Endah Soelistyowati | 8 jam lalu

Meladeni Tantangan Thamrin Sonata di …

Tarjum | 8 jam lalu

Mari Berpartisipasi Berbagi bersama Sanggar …

Singgih Swasono | 8 jam lalu

IKMASOR DIY Desak MOU Pendidikan dan …

Arkilaus Baho | 8 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: